Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Penculikan


__ADS_3

🌺🌺🌺


“kelontang...” suara berisik terdengar nyaring mengisi keheningan kamar.


“Kak, apa yang terjadi? Apa Mama baik-baik saja?” tanya Ruby pada Kakaknya.


“Hus... Ruby sudah mendengar pesan Mama tadi. Jangan berisik dan membuat gaduh, apapun yang terjadi kita harus tenang dan bersembunyi, menunggu sampai Papa pulang," kata Rudy mengingatkan Adiknya.


"Aduh...!" jeritan Intan terdengar kembali. "Siapa kamu? apa maumu? pergi!” Suara Intan sangat nyaring menakuti si kembar yang masih dalam persembunyian.


“Tidakkah Mama membohongi kita? sepertinya Mama sedang kesulitan," kata Ruby lagi saat mendengar jeritan Mamanya. “Apa Mama marah sama kita? Apa ia mau mengusir kita? Mama bicara sama siapa sih!” tanya Ruby terus-terusan.


“Mama bilang untuk diam,” jawab Rudy mulai jengkel pada Adiknya. Ruby kemudian diam karena dimarahi Kakaknya. Meski ingin menyangkal perkataan Adiknya, tak urung juga ia khawatir terjadi sesuatu pada Mamanya.


“Sepertinya Kakak harus ke toilet," kata Rudy tiba-tiba, ia tidak hendak ke toilet, tapi ia mengkhawatirkan Mamanya. "Kamu tunggu di sini, awas kalau berani bersuara. Kecuali ada Papa jangan sembarangan menyahut panggilan siapapun juga,” perintah Rudy. Dengan langkah pelan, ia keluar dari almari. Kemudian ia menutup pintunya kembali tapi sebelum itu ia melotot ke arah adiknya dengan tatapan, awas kalau kamu tidak melakukan apa yang ku suruh.


🌺🌺🌺

__ADS_1


“Aduh...” Intan mengaduh karena terjengkang dengan keras. Belum selesai mengaduh pria bermasker itu segera menarik rambut Intan dan membawanya ke arah jendela besar di kamar Rayan.


“Siapa kamu? Apa maumu? Pergi kau!” usir Intan. Ia dibuat tak berdaya oleh perlakuan pria itu karena pria itu memiting tangannya dan menjambak rambutnya. Alih-alih menjawab, pria itu menempelkan wajah Intan ke kaca seolah mau menunjukkan sesuatu.


Pria itu masih tak mau melepaskan Intan malah meletakkan sebilah pisah kecil yang panjang ke arah lehernya. “Katakan di mana anak-anak,” bisik pria itu. “Atau kamu ingin seperti mereka."


Mereka? Apa yang dimaksud pria ini, batin Intan. Tapi kemudian Intan mengerti maksud pria itu. Ia melihat sebuah keanehan tampak di kolam renang. Dalam kolam renang terlihat banyak tubuh bergelimpangan, bahkan kolam yang sejatinya jernih meskipun dalam remang-remang menjadi tampak gelap, seolah-olah darah telah tumpah ke dalamnya. Ia bergidik ngeri, mungkinkah suara yang didengarnya tadi saat di dapur adalah ketika orang-orang itu sedang di eksekusi di sana. Sepertinya kali ini ia telah berurusan dengan psikopat. Jangan sampai psikopat ini menemukan si kembar. Ia harus mengulur waktu sampai bantuan datang


“Katakan!” seru pria itu sambil menggores sedikit leher Intan sebagai peringatan. Pria itu sangat tenang seolah memang sengaja bermain-main dengan mangsanya.


“Mereka di kamar sebelah,” jawab Intan terbata-bata, ia takut pisau itu benar-benar menggores lehernya, ia belum mau mati. Tidak, setelah penantian panjangnya yang akhirnya bisa berkumpul dengan anak-anak.


Sayangnya pria itu juga bukan orang sembarangan. Ia malah menangkap kaki Intan dan membuat Intan terjengkang dengan kepala yang jatuh terlebih dahulu. Dengan pisau panjang dan tipis miliknya, ia hendak mencelakai Intan.


“Jangan sakiti Mamaku...” kata Rudy lagi. Kali ini ia menimpuk pria itu dengan bantal yang diambilnya dari atas ranjang.


Pria itu memandang Rudy. Saat matanya beradu pandang dengan Rudy, ia langsung terpesona pada bocah lelaki itu. Bocah lelaki yang tampan dengan lesung pipi yang indah. Sedetik kemudian ia meninggalkan Intan dan berjalan ke arah Rudy.

__ADS_1


“Asalkan kamu mau ikut denganku, aku akan mengampuni Mamamu, bagaimana?” tawar pria itu pada Rudy. Suara pria itu menjadi lebih lembut dan halus saat berbicara dengan Rudy, membuat Rudy terpesona dan menghilang rasa takutnya. Rudy tak kuasa menolak dan hanya mengangguk tanda setuju, tak apa ikut bersama pria ini asalkan ia bisa melindungi Mama dan Adiknya, batinnya.


“Kau jangan sekali-kali berani menyentuh putraku,” teriak Intan pada pria itu sembari memegang erat kaki kiri pria itu untuk mencegah pria itu berjalan lebih dekat lagi ke arah Rudy. “Lari, Nak! Cari bantuan,” perintahnya pada Rudy.


Tapi Rudy tak bergeming, karena ia yakin. Jika ia beranjak satu langkah saja maka nyawa Mamanya akan terancam. Ia sangat bersyukur bisa berjumpa dengan Mamanya, tak ada lagi keinginannya yang lain selain keselamatan Mamanya.


Pria itu lantas memukul tengkuk Intan dan membuat wanita itu pingsan.


“Anak pintar,” puji pria itu seraya mendekat ke arah Rudy. “Mamamu hanya pingsan. Sesuai janjimu, sekarang ikutlah denganku.” Pria itu lantas membuka masker wajahnya. Tampaklah pria muda dengan wajah rupawan tersenyum ke arah Rudy. Posturnya tinggi dengan kulit putih tanpa cela. Sama sekali bukan wajah yang menakutkan. Menculik anak Intan adalah salah satu rencana cadangan Anton yang harus Ze laksanakan. Tapi ia sungguh tak menyangka bisa berjumpa dengan bocah sesempurna ini.


Sebelum pergi, Rudy memandang kamar yang tertutup rapat tempat Ruby bersembunyi, ia merasa bersalah pada adiknya karena telah berbohong. Tanpa ia sadari Pria rupawan itu telah membekap hidungnya dengan sapu tangan yang mengandung bius. “Ruby...” panggilnya terakhir kali pada saudarinya.


Ze menatap pintu kloset yang tertutup. Ia melihat mata kecil tengah menatap ke arahnya. “Pst...” Ia menutup mulutnya dengan satu tangan untuk mengisyaratkan bocah perempuan yang ada di dalam kloset itu untuk tutup mulut.


Ruby melihat Kakaknya dari lubang kunci. Ia juga melihat seperti apa rupa pria itu. Tapi ia hanya bisa terdiam dan membekap mulutnya sendiri supaya tangisannya tidak terdengar, apalagi pria itu telah memergokinya seraya menyuruhnya tutup mulut.


Ze telah mendapatkan bocah lelaki idamannya, ia tak tertarik dengan anak perempuan. Apalagi waktunya terbatas. Ia segera berlari sambil menggendong Rudy ke kamar paling ujung di lantai dua, tempat ia menyusup dan melarikan diri.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2