
🌺🌺🌺
"Mas Eka, aku minta tolong sesuatu," kata Intan suatu hari. Selama masa nifas nya, ia telah memikirkan dengan menyeluruh mengenai masa depannya. Yang telah terjadi sudah terjadi, ia tak mungkin hidup seperti kemarin, menjadi pribadi yang tak berdaya dan putus asa. Ia bertekad harus lebih kuat dan lebih berkuasa untuk bisa menentukan nasibnya sendiri. Dan hanya satu cara yang bisa membuatnya cukup berkuasa dihadapan Papanya, Kekayaan. Intan harus lebih kaya dari Papanya, baru ia bisa berkuasa menentukan dirinya sendiri, ia sudah bosan hidup didekte orang lain.
"Apa itu Intan? Katakan pada Mas Eka, siapa tahu Mas Eka bisa membantu," jawab Mas Eka dengan nada lembut. Setelah insiden kemarin Mas Eka menjadi lebih perhatian padanya, Mas Eka selalu berusaha membuatnya merasa di lindungi. Tapi ia yang sekarang bukanlah Intan yang dulu, saat ini ada anak yang harus ditemukannya, kecuali dia berkuasa, menemukan anaknya adalah hal yang mustahil.
"Ajari aku berbisnis. Ajari aku membuat kerajaan bisnis," kata Intan.
"Hmmm," Mas Eka termenung sebentar. Permintaan yang aneh, tak biasanya Intan menginginkan sesuatu, sedari kecil Intan lebih sering bersyukur dengan apa yang dimilikinya, Intan tak pernah ambisius. Mungkin kejadian ini benar-benar memukul mentalnya. Tapi siapa tahu engan berbisnis, intan bisa sejenak melupakan problemnya. Daripada berlarut-larut dalam masalalu, menghabiskan waktu dengan bekerja tentunya bukan apa-apa. Meski ia juga termasuk orang baru dalam bisnis, namun pencapaiannya cukup luar biasa.
"Bagaimana?" tanya Intan tak sabarenunggu jawaban Kakaknya.
"Hm baiklah," ujar Mas Eka akhirnya.
"Terimakasih. Aku benar-benar mengandalkan Mas untuk ini."
"Tak masalah. Lantas, bidang apa yang ingin kamu geluti?"
"Aku ingin masuk disemua segmen bisnis. Tapi untuk saat ini aku begitu tertarik dengan perhiasan"
"Perhiasan? Oh, wow" Mas Eka benar-benar terkejut. Ia berpikir Intan akan menggeluti lini pakaian seperti yang pernah dirintisnya dulu, "tapi terlebih dulu aku menyarankanmu untuk sekolah lagi, bisnis ini benar-benar butuh ilmunya, kamu akan rawan tertipu dan terjebak jika tak mempunyai pondasi ilmu sendiri. Untungnya Industri ini relatif aman, karena logam mulia akan selalu bernilai dari masa ke masa"
"Hm, sepertinya Mas benar, lahipula aku cukup jenuh disini. Sekolah benar-benar bisa memberiku tantangan baru. Tolong beritahu Papa tentang ini, aku akan mengambil kursus singkat sembari memutuskan akan masuk kuliah di Universitas mana."
__ADS_1
"Aku juga akan mengajarimu bisnis berlahan. Kamu masih muda, selalu ada peluang untukmu."
"Aku sudah seorang Ibu sekarang," kilah Intan.
"Bagiku kamu selalu adik kecilku" ujar Mas Eka sembari mengusap kepala adiknya dan pamit pergi.
Intan memandangi punggung kakaknya yang semakin menjauh. Ia benar-benar bersyukur Mas Eka menolongnya melewati ujian ini. Jika tak ada Mas Eka mungkin Intan sudah memilih mengakhiri hidup.
"Terimakasih Mas Eka"
🌺🌺🌺
"Apa katanya?" tanya Pak Wibowo.
"Menurutmu bagaimana?" Pak Wibowo meminta pendapat Eka.
"Menurutku tidak ada salahnya Intan sekolah lagi"
"Sejujurnya, aku ingin menjodohkannya segera agar masalah ini tidak berlarut-larut," kata pak Wibowo.
"Mengapa begitu tergesa-gesa, bukankah Intan masih masa berkabung"
"Justru jika kita mengenalkannya pada orang baru dia akan semakin semangat"
__ADS_1
"Intan seorang wanita Pa, ada masa trauma dengan kegagalan. Tunggulah sebentar, dengan sekolah lagi ia pasti bertemu banyak orang baru, bisa jadi ia akan menjalin hubungan juga, jangan menjodohkannya lagi," terus terang saja, Rayan adalah hasil dari perjodohan Pak Wibowo, lelaki yang katanya pilihan terbaiknya. Eka benar-benar berani mengingatkan Papanya tentang itu.
Pandangan mata Pak Wibowo sedikit terkejut dengan sindiran Eka. Yah, bagaimanapun juga yang lalu itu adalah kesalahannya juga, Pak Wibowo punya andil besar karena ialah yang menjodohkan mereka. Mungkin kali ini Pak Wibowo harus mengalah dan membiarkan Intan memilih apa yang disukainya. Sekolah lagi? hmmm sepertinya tak ada yang salah dengan itu.
"Baiklah jika menurutmu itu yang terbaik. Sekolah mungkin solusi terbaik menyembuhkan traumanya, tapi pastikan ada seseorang yang mengawasinya. Aku tak mau anak itu kabur lagi"
"Intan tak akan kabur kecuali seseorang memintanya," sindir Eka lagi.
"Hmm," entah sudah kali keberapa Eka menyindirnya. Pak Wibowo benar-benar sakit hati. Apa mau di kata semua yang dikatakan Eka memang benar adanya.
"Aku pamit dulu. Biar aku yang mengabarkan berita ini pada Intan," kata Eka sambil berlalu dari ruang kerja Pak Wibowo.
"Bagaimana kehamilan Tia?" tanya Pak Wibowo pada Eka sebelum Eka mencapai pintu.
"Ah, sebentar lagi kami akan mengadakan upacara 7 bulanan, kuharap Papa bisa meluangkan waktu" . Pak Wibowo secara tertulis adalah Ayahnya tapi, perlakuannya kadang jauh dari itu. Eka sudah terbiasa tak terlalu diperhatikan. Baginya perhatian yang tak cukup besar menurut pandangan orang-orang adalah perhatian terbaik yang dimiliknya, anak yatim yang bahkan dibuang oleh orangtuanya sendiri.
"Baiklah, Papa akan datang," ujar Pak Wibowo akhirnya.
"Terimakasih, Pa" kata Eka sambil menyunggingkan senyum. Eka benar-benar menghargai itu.
🌺🌺🌺
.
__ADS_1