Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Titik Balik


__ADS_3

🌺🌺🌺


“Bagaimana keadaan istri saya dokter?” tanya Rayan pada dokter yang menangani Intan.


“Nyonya Intan sebentar lagi akan siuman,” jawab dokter itu sambil pamit undur diri. Ia dokter keluarga Wibowo, ia bisa dipanggil kapan saja. Tapi saat ini luka yang di alami Intan bukanlah luka yang fatal, gadis itu hanya mengalami shock akibat pukulan.


Rayan menatap Intan yang tergolek tak berdaya di ranjang ruang tamu, setelah sebelumnya ia memindahkan Intan dari lantai atas untuk memudahkan penanganan dan olah kejadian perkara oleh polisi. Ia termenenung tak percaya, ia malah membiarkan pertahanannya sendiri ditembus. Tak hanya seluruh pengawal meninggal dengan sadis bergelimpangan di dalam kolam renang tapi juga putranya hilang. Leher indah Intan juga tergores benda tajam yang jika satu senti lebih dalam lagi akan mengancam nyawa Intan.


Polisi masih berkeliaran di dalam rumahnya mencari petunjuk yang tertinggal dari pelaku penyerangan dan penculikan yang menimpa keluarganya. Ah, dia harus menenangkan putrinya, karena keadaan Intan, ia sampai melupakan putrinya yang sekarang dijaga Ibunya.


“Bu Sri, tolong jaga Intan untukku. Aku harus melihat Ruby," ujarnya pada Bu Sri.


Ruby segera mendekat ke arah Rayan begitu Rayan tiba di ruang tengah. Semua keluarganya telah berkumpul di sini. Ema, Edi, Samuel yang sudah tertidur di pangkuan Ema, Eka, Johan, Jonathan, Pak Wibowo dan istrinya, yang sebelumnya Rayan melarang mereka datang karena khawatir Ibunya belum siap, sekarang ikut hadir. Rayan menangis sambi memeluk putrinya. Ruby yang ketakutan sedikit pun tak bersuara dan mendekap Rayan dengan erat.


“Papa, orang itu membawa Kakak,” ucap Ruby ditelinga Papanya. Sesuai pesan Kakaknya, ia menolak berbicara dengan orang lain selain papa.


“Tenang, Sayang. Papa akan menjemput Kakak dan membawanya berkumpul lagi bersama kita,” janji Rayan.


“Aku mau ketemu Mama,” ujar Ruby.


Rayan segera menggendong Ruby dan membawanya kepada Intan.


“Ruby, bisakah menceritakan pada Papa apa yang terjadi,” pinta Rayan. Ruby tak sedikit pun mau memberikan keterangan kepada pihak penyidik dan Rayan tak bisa memaksa Putrinya untuk memberikan keterangan, Putrinya hanya bilang akan mengatakannya saat ada Mamanya dan Intan sendiri belum siuman sejak ia datang.


"Ruby istirahat dulu ya di samping Mama, Mama sedang tidur, sebentar lagi Mama akan bangun," pinta Rayan. Ruby menurut dan tidur di samping Mamanya.


“Biar saya yang menjaga mereka, Bu Sri istirahat saja. Maaf telah merepotkan Bu Sri,” ujar Rayan.


“Tidak apa-apa, Nak Rayan. Kalau ada apa-apa bisa memanggilku kapan saja,” jawab Bu Sri. Ia turut merasa bersalah. Karena saat insiden terjadi, ia sudah pulang. Biasanya kalau terlalu malam ia akan tidur di sini. Tapi saat putranya keluar mengantar Ny. Ema, ia turut serta di mobil itu untuk pulang. Ia benar- benar kaget saat Putranya memberitahunya tentang insiden ini, ia langsung bergegas datang begitu mendapat kabar.


“Terima kasih,” jawab Rayan sembari mengantar Bu Sri sampai pintu kamar, setelah Bu Sri pergi, ia segera menutup pintu kamar tamu. Karena kamarnya sendiri masih di garis kuning, untuk sementara ia pindah ke kamar tamu di lantai bawah.

__ADS_1


Rayan segera tidur di samping Ruby dan berusaha membuat Putrinya rileks, Ruby yang telah lelah mennagis segera terlelap.


Rayan menatap langit-langit kamar. Ia marah dengan dirinya sendiri, hanya demi mengejar Anton, ia kehilangan Putranya. Seharusnya sejak awal ia meninggalkan si kembar di Northland dan mengurus urusan ini dari jarak jauh. Sekarang nasi telah menjadi bubur, ia hanya sedikit beruntung dengan menangkap Anton yang berusaha melarikan diri. Tapi apa yang ia dapat? ia mengalami kerugian dengan kehilangan Putranya. Pun ia tak punya bukti yang memberatkan Anton sebagai tersangka yang menculik Putranya. Kali ini ia mengaku kalah dan hanya bisa berharap Anton berbelas kasihan padanya untuk membebaskan Putranya.


🌺🌺🌺


Setelah Ruby terlelap di dalam kamar dengan Intan, Rayan keluar kamar menemui Johan.


“Apakah Intan sudah tidur? Biarkan aku melihatnya,” pinta Bu Rini, Ibu Intan. Ia ingin ada di sana saat Anaknya terbangun nanti.


Rayan hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian ia memandang Ibunya sendiri yang belum tidur padahal malam sudah larut, pasti Ibunya menyalahkan diri sendiri karena ia pergi mengantar Ema. Tapi dalam hati Rayan, ia bersyukur jika Ibunya selamat. Ia tak bisa hidup jika harus kehilangan Ibunya juga. “Ibu, tidurlah. Biar Johan dan aku yang mengurusnya.”


Terlihat mata Bu Maria yang tebal karena kebanyakan menangis. Rayan lalu beralih ke Adiknya. “Ema, ajak Ibu istirahat, biar Kakak yang mengurus ini,” pintanya pada Adiknya. Ema dibantu Edi ikut memindahkan Samuel di kamar Ibu mereka.


Setelah para wanita pergi Rayan kemudian membahas hal penting bersama dengan para pria yang tersisa. “Johan, sudahkah keluarga para korban meninggal dihubungi?” tanyanya pada Johan. Ia meringis, meski ia tahu ia telah kehilangan Putranya, tapi ia masih bisa berharap Putranya selamat. Tapi bagaimana dengan keenam korban yang meninggal dengan sayatan di lehernya? Para pria perkasa itu selamanya tak akan kembali. Pria itu pastinya Ayah dari seseorang, suami dari seseorang, putra dari seseorang, kekasih dari seseorang, teman dari seseorang, yang selamanya tak akan pernah kembali lagi. Rayan tak bisa mengenyahkan kenyataan bahwa mereka meninggal untuk melindungi keluarganya. Ia berterima kasih dan berduka di saat yang sama.


Semua memandang pada Johan menunggu jawaban. Tapi alih-alih memberi jawaban panjang, ia hanya bisa mengangguk. Orang-orang yang meninggal itu adalah orang yang dikenalnya secara pribadi bagaimana ia tak sedih.


“Pastikan untuk menyantuni keluarganya. Berikan beasiswa untuk anak-anaknya sampai ke jenjang pendidikan setinggi mungkin. Dan bantu mereka mendirikan usaha sampai mereka mampu menghasilkan uang mereka sendiri. Pastikan kamu mengurusnya sendiri,” perintah Rayan.


“Baik!” jawab Johan sambil mengetik instruksi dari Rayan untuk dikirim ke sekretarisnya.


Setelah memberikan instruksi pada Johan, giliran ia menghadap Mertuanya.


“Pak Wibowo, aku mengandalkan koneksimu dengan kejaksaan. Pastikan untuk memberi hukuman seberat mungkin untuk Anton. Jangan biarkan ia hidup nyenyak selama ia tak bisa membawa Putraku hidup-hidup. Temukan tim pengacara yang tak terkalahkan untuk melawannya. Jangan berbelas kasih,” perintah Rayan pada Mertuanya. Ia tak peduli dengan tindak nepotisme yang akan ia tempuh. Demi hukuman yang berat bagi Anton, siapa peduli?


Kali ini ia memandang Mas Eka. “Setelah kegagalan tim keamanan Johan, aku mau kamu membentuk tim khusus selain dari tim kepolisian untuk menemukan Rudy. Tolong temukan Rudy,” kali ini suara Rayan tak setegas tadi, ia benar-benar tak bisa berkata-kata jika mengingat putranya yang pendiam tengah berada ditangan penculik. Ia hanya bisa berdoa jangan sampai Putranya terluka.


“Kamu bisa mempercayakannya padaku,” ucap Eka menyanggupi. Ia telah memiliki tim keamanan yang hebat, jika dikombinasikan dengan tim IT perusahaan Rayan, ia yakin menemukan Rudy bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.


Giliran Edi yang sekarang diserahi tugas oleh Rayan. “Meski aku memiliki banyak rumah dan hotel yang bisa kutinggali, tapi aku ingin pindah di samping rumah Ema. Aku minta tolong padamu untuk menyiapkannya. karena kami harus keluar dari rumah ini besok, untuk sementara kami akan tinggal di rumahmu. Seiring pemberitaan media massa yang akan menampilkan wajah Rudy di mana-mana dan garis polisi yang terpasang, rumah ini sudah tak bisa ditinggali lagi. Bisakah?”

__ADS_1


“Tentu saja, rumahku selalu terbuka. Dan untungnya rumah disampangku juga milikku yang kusewakan, aku akan memindahkan mereka ke tempat yang lain. Sehingga bisa kalian tinggali.”


“Terima kasih,” jawab Rayan pendek. Kali ini ia melihat Hadi yang duduk cukup jauh dari mereka, seolah merasa bukan bagian dari mereka.


“Aku minta maaf,” ujar Hadi begitu Rayan menatapnya.


“Untuk apa? Aku justru harus berterima kasih kepadamu. Kalau bukan karena kamu membawa mereka pergi, mungkin tak hanya Rudy yang hilang. Bisa saja aku kehilangan Ibu dan Adikku karena penculik ini membunuh semua orang selain targetnya tanpa terkecuali. Terima kasih! Tapi ketika aku pindah, aku tak mungkin memintamu dan keluargamu mengikutiku, karena di samping jarak yang jauh juga sangat berbahaya,” terang Rayan.


“Mungkin Ibuku akan keberatan karena jarak yang jauh, tapi aku tidak keberatan,” ujar Hadi bersikeras.


Tapi Rayan tidak mau mengambil resiko, ia hanya meminta mereka merawat rumah ini sampai menemukan pemilik yang cocok. “Aku tidak bisa melakukannya, aku akan mengganti semua pengurus rumah tangga dengan petugas keamanan profesional. Aku minta tolong padamu untuk mengurus rumah ini sampai menemukan pemilik yang cocok.” Meski Rayan tak yakin ada yang cocok dengan rumah ini mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.


“Baiklah,” jawab Hadi akhirnya.


Terakhir Jonathan, adik bungsu Johan yang baru sembuh dari operasi. Rayan juga berhutang nyawa padanya, bisa saja tangan itu tak hanya patah tapi harus diamputasi. Sungguh Rayan tak bisa membayangkannya, jadi ia tak akan memberikan tugas yang membahayakan untuknya. “Jhon, aku tak bisa membahayakan nyawamu untuk kedua kalinya. Karena bisa saja bukan hanya patah tulang melainkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Meski aku tahu kamu profesional, tapi kamu masih muda. Jadi tolong fokus saja di perusahaan.”


Jonathan menghela nafas kecewa dengan keputusan Rayan. Tapi bagaimanapun juga, ia menghormatinya. Ia masih muda mungkin pemikirannya tak sedewasa orang-orang tua. Jadi ia hanya mengangguk mengiyakan.


“Baiklah, kita bubar saja dulu dan beristirahat. Tak ada kamar tidur yang banyak dilantai bawah. Tapi banyak bantal yang bisa digunakan. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini. Besok akan ada banyak tugas menanti kita,” ujar Rayan mengakhiri pertemuan malam mereka.


Rayan berlalu ke kamar kerjanya diikuti Johan.


“Bos, istirahatlah!” pinta Johan dengan nada memerintah.


Rayan hanya bisa memegang kepalanya dengan pening. Ia teringat Putranya, ia juga teringat bahwa pihak kepolisian tak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa mengidentifikasi pelakunya selama Ruby belum bisa menceritakan detail pelakunya dan Intan belum sadarkan diri. tak ada yang bisa mereka lakukan. CCTV juga sudah di sabotase sebelum kejadian, jadi tak ada bukti yang tersisa.


Meski tim kecil Johan telah bergerak. Tak ada yang bisa mereka lakukan tanpa petunjuk berarti kecuali hanya mengira-ngira. Ia harus menunggu Intan siuman.


“Rayan... Rayan...” ada suara memanggilnya dari luar ruangan.


Suara Intan, batin Rayan. Ia segera berlari keluar. akhirnya, mereka akan punya petunjuk.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2