
🌺🌺🌺
Intan segera membawa anak-anak naik ke atas dan menghubungi Rayan.
“Ayo cepat- cepat,” ujar Intan tergesa-gesa sambil mengangkat Ruby dan menggandeng Rudy untuk berjalan menaiki tangga. Ia segera mengunci pintu saat tiba di kamar Rayan, untung kamar Rayan adalah kamar yang luas dengan lemari kloset yang besar dan kamar mandi dalam. Untuk sementara ia akan aman sampai bantuan datang. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi. Ia segera melakukan panggilan kepada Rayan, tapi Ryan tak langsung mengangkatnya. "Please, angkat teleponnya," pinta Intan saat menunggu Rayan mengangkat teleponnya.
Ia tak lantas putus asa, ia segera mengetik dengan cepat dan mengirimnya pada beberapa orang di kontak yang paling sering dihubunginya. “Aku mencurigai sesuatu, tolong datang sekarang juga”
“Ma, ada apa?” tanya Rudy ketakutan.
“Tidak, tidak ada,” jawab Intan tergagap. Ia lupa sama sekali bahwa ia bersama anak-anak. Ia harus memikirkan bagaimana keamanan si kembar terlebih dahulu. “Oia bagaimana kalau kita main petak umpet, jangan biarkan orang lain menemukan kalian kecuali papa, oke kan! Karena Mama sedang menelepon papa jadi papa akan segera datang, asik, gak!” kata Intan yang langsung memaksa anak-anak masuk ke dalam kloset. Intan memilih lemari bagian ujung dan memasukkan si kembar dan menutupi mereka dengan tumpukan baju.
“Ingat ya, kamu harus menjaga adikmu,” pesan Intan pada Rudy. “Jangan biarkan siapa pun menemukan kalian kecuali Papa.” Si kembar lantas mengangguk.
Ia kemudian beralih kepada Ruby. "Kali ini Ruby tidak boleh menangis dan harus menuruti apa kata Kakak, tidak boleh membantah, tidak boleh berteriak, dan harus menunggu Papa,” pesan Intan yang lantas menutup pintu almari. Sebelum keluar ia mencari sesuatu sebagai sarana untuk mempertahankan diri.
__ADS_1
Intan lantas mengunci pintu kloset dan bersiap-siap di dekat pintu kamar sambil membawa besi besar, tempat menaruh jas, yang diambilnya dari kloset. Hatinya berdegup kencang, apalagi saat ia mendengar suara derit sesuatu yang menggesek lantai dan suara langkah kaki yang terdengar cukup nyaring mengisi kesunyian.
Suara derit itu tiba-tiba berhenti di depan ruangan yang ditempati Intan bersembunyi, ia menunggu dengan memegang erat besi panjang yang digunakannya sebagai pertahanan diri. Detak jantungnya seakan mau meledak kala ia mendengar suara kunci yang diputar, ia sedikit heran karena ia yakin telah menguncinya dan kunci itu padanya. Mungkinkah Rayan yang datang? Ia tak yakin tapi juga tidak berani membukakan pintu. Sejujurnya ia ketakutan dan mengantisipasi siapa yang datang. Keringat mengucur deras di pelipisnya juga di kedua tangannya sampai genggaman tangannya pada besi mulai licin.
“Krek...!” suara kunci telah berhenti diputar, berganti gagang pintu yang bergerak menandakan seseorang di luar pintu kamar sedang membuka pintu kamar. Tubuh Intan bergetar, ia ingin menghilang saja atau bersembunyi di kamar mandi. Namun terlambat, seorang yang diyakini Intan sebagai seorang pria, telah berdiri di depan pintu yang terbuka. Intan tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi ia yakin ia tak pernah mengenal atau mengetahui orang ini. Karena merasa tak mengenalnya, sedikit pun ia tak berniat menurunkan tongkat besi yang ada di tangannya.
Intan melihat sosok yang memasuki kamar. Seseorang itu berpakaian serba hitam dari atas sampai bawah, memakai tutup mulut dan topi hitam, semua serba tertutup kecuali matanya yang memandang Intan dengan tajam. Posturnya tinggi kurus dan terlihat masih muda. Ia tak melihat ada senjata di tangannya. Jadi Intan bertanya-tanya siapakah pria misterius ini.
“Siapa kamu?” tanya Intan.
Intan menduga apakah informasi mengenai seorang agen adalah bersifat rahasia sehingga pria itu tak memperkenalkan diri.
“Di mana anak-anak?” tanya pria itu.
“Oh, mereka aman,” jawab Intan, ia masih belum percaya 100% pada pria ini, meskipun pria ini mengaku sebagai utusan kakaknya. Ia hanya akan mengatakan posisi anak-anak saat Rayan tiba, ia hanya akan percaya Rayan.
__ADS_1
“Dimana?” tanya pria itu lagi.
“Di kamar sebelah,” jawab Intan. Ia membohongi pria itu.
“Baiklah, aku akan melihatnya,” jawab pria itu yang lantas segera berbalik.
Intan menghela nafas lega kala melihat pria itu berbalik, karena sejujurnya ia mencium aroma anyir darah dari tubuh pria itu. Jadi ia mencurigainya dan tak bisa berkata jujur tentang keberadaan si kembar. Untunglah pria itu percaya. Saat pria itu telah mencapai pintu, ia pun sejenak melonggarkan pertahanannya.
Tak disangka dengan gerakan cepat pria itu berbalik, berlari cepat ke arah Intan dan menendang Intan dengan keras sampai wanita itu jatuh terjengkang menatap tembok. Saking kerasnya tongkat yang mulanya dipegang Intan, terlempar jauh dengan bunyi kelontang yang keras.
“Aduh...!" pekik Intan.
🌺🌺🌺
Terimakasih bagi para pembaca yang telah memilih Author dan bulan kesembilan sebagai pilihan untuk ucapan selamat tahun baru.
__ADS_1
Bagi yang belum jangan lupa klik tulisan di bawah deskripsi bulan kesembilan untuk memberi Author ucapan selamat tahun baru dan dapatkan hadiah pouch dari Mangatoon.