
🌺🌺🌺
Ombak terasa begitu kencang saat Rudy dan Ze tiba di atas geladak. Karena cuaca tidak bersahabat, Ze memasang jaket pengaman pada tubuh mungil Rudy.
Rudy menurut saja, ia begitu antusias melihat pemandangan setelah sebelumnya terkurung beberapa hari di dalam ruangan yang sempit dan hanya tertidur. Ia mendapati beberapa orang di kapal saat berpapasan, tapi kesemua orang yang ditemuinya seolah menganggap mereka tidak ada. Tapi Rudy tak peduli, baginya saat ini ia amat senang bisa melihat matahari terbenam seperti yang Ze janjikan.
Kapal yang mereka tumpangi tidak terlalu besar, dengan isi beberapa orang yang hanya diam tanpa hiruk pikuk. Seolah kapal mereka hanya berpenghuni hantu.
“Pakai ini,” ujar Ze sambil memakaikan life jacket pada bocah lelaki di hadapannya. Cuaca sedikit berangin dengan ombak yang lumayan tinggi, ia tak mau mengambil resiko sesuatu terjadi pada bocah ini, jika tiba-tiba laut memutuskan tidak bersahabat. Ze sangat tahu jika sesuatu terjadi pada mereka maka penghuni kapal tidak akan memperdulikan mereka karena saat ini ia menumpang kapal ilegal, bisa dibilang orang-orang yang ada di sini adalah para pelanggar hukum, tentu saja termasuk ia. Kapal ini harus sampai di pulau kalimantan sesuai waktunya, tak peduli kendala apa pun di perjalanan. Makanya tak akan ada tim penyelamat di sini. “Terima kasih,” ucap Rudy padanya saat ia selesai memasangkan life jacket. Ia hanya menanggapinya dengan senyum, ia tak pernah bersama anak kecil sebelumnya, Rudy adalah anak pertama yang bersamanya. Ia senang ternyata anak kecil tak serewel yang ia kira.
“Wah, langitnya indah…” ujar Rudy senang. “Terima kasih,” ucap Rudy sekali lagi.
Ze berdiri di samping Rudy dan ikut memandang keindahan panorama. Semburat jingga dengan latar belakang langit yang mulai gelap membuat pemandangan malam menjadi sangat indah, warna jingga yang seolah akan tenggelam di ufuk barat menjadi satu-satunya penerang dalam luasnya lautan. Tanpa ada bangunan ataupun penghalang lainnya, matahari terbenam saat ini terlihat sangat mengesankan. Meski cuaca sedikit berawan, tapi itu tak mengurangi pemandangan indah yang ada dihadapannya ini. Ia tak pernah tahu bahwa langit bisa seindah ini “Apa kamu senang?” tanya Ze.
“Iya,” jawab Rudy sambil meloncat kegirangan.
“Awas…” teriak Ze sembari menarik kerah baju Rudy karena saat bocah itu meloncat kapal tiba-tiba sedikit oleng. Hampir saja bocah itu jatuh ke lautan. “Pegangan yang erat, aku tidak akan menolongmu jika kamu terjatuh,” ujar Ze marah. Ia sedikit menyesal telah mengajak bocah ini keluar. Cuaca yang semula cerah berawan tipis langsung berubah, mendung yang awalnya terlihat jauh seolah-olah muncul begitu saja terbawa angin dengan membawa rintik hujan mulai turun.
“Aku minta maaf,” ujar Rudy ketakutan.
“Ayo ikut aku, kita kembali," ajak Ze sambil menggandeng Rudy untuk kembali ke dalam kapal. Tapi sebelum mereka benar-benar sampai di dalam kapal, ombak besar tiba-tiba datang. Ze yang bertubuh kurus tak kuasa menahan dirinya dari guncangan kapal, sehingga genggaman tangannya pada Rudy terlepas.
“Rudy…” teriak Ze, ia melihat Rudy tersangkut di pembatas kapal, bocah itu langsung berpegangan. “Pegangan yang erat,” perintahnya pada Rudy, ombak sekali lagi berhembus kencang kali ini disertai hujan yang cukup deras. Ze harus berpegangan sekali lagi, ia tak berani mengulurkan tagannya pada Rudy sebelum ia mendapat genggaman yang kokoh untuk keselamatannya sendiri, kalau tidak, ia akan berakhir jatuh ke laut tanpa pengaman. Ia hanya berharap Rudy berpegangan cukup kuat sampai ia punya kesempatan untuk menariknya sedikit ke tengah. Tapi tentunya bocah itu tak cukup kuat untuk menunggu Ze menolongnya.
“Kakak…” teriak Ze sebelum sebelum genggaman kecilnya terlepas oleh guncangan kapal dan detik berikutnya tubuh itu terselip di antara pembatas dan terjun ke laut. Ze sejenak tertegun tak percaya tubuh itu tertelan ombak. Ia panik bukan kepalang. Ia lalu berteriak pada bagian kemudi untuk menghentikan kapal, tapi sepertinya mereka tidak mendengar. Ombak terlalu buruk untuknya jika ia harus mencebur ke laut, untungnya ia telah memasangkan life jacket pada Rudy, kalau tidak, ia mungkin tak perlu repot-repot menolongnya karena tanpa life jacket bocah itu tak akan selamat. Semua orang yang ada di sekitarnya tiba-tiba menjadi tak terlihat. Rudy sangat marah tapi ia tak bisa memaksa mereka menolong Rudy karena peraturan telah disepakatinya sebelum menaiki kapal ini, bahwa keselamatan adalah milikmu sendiri, ia menyadari itu. Hanya saja kapal yang terus bergerak membuat Rudy semakin tertinggal jauh di belakang. Saat situasi semakin genting, jika saat ini ia tidak segera bergerak dan menolong bocah malang itu, bocah itu mungkin tidak akan selamat.
__ADS_1
Ze mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk menolong. Ia melihat ada rakit pelampung yang masih tersegel di samping kapal. Disertai ombak, angin kencang juga hujan deras, ia memotong tali pengaman tabung yang berwarna putih itu dengan pisau kecil miliknya, pisau yang telah menelan banyak nyawa, ia berharap kali ini pisau ini bisa menyelamatkan nyawa. Saat tabung itu terjatuh ke laut dan menyentuh permukaan air, beberapa detik kemudian secara ajaib tabung itu mengembang berubah menjadi rakit pelampung. Ia memastikan ransel miliknya aman dipunggungnya sebelum ia terjun ke lautan untuk menolong Rudy. Ia berharap usahanya mempertaruhkan nyawa tak sia-sia dan Rudy masih bisa ditemukan.
🌺🌺🌺
Rayan mondar-mandir di ruangannya, Intan yang duduk tak jauh dari suaminya hanya menggigit bibirnya dengan kelu. Mereka baru saja mendapat kabar buruk dari tim pencarian yang ada di lapangan bahwa putra mereka tak ditemukan. Semua kapal yang bersandar telah digeledah. Tapi putra mereka seolah raib.
“Mungkin saja Rudy dan penculik itu naik kapal barang, kapal ikan, kapal ilegal, atau apa pun itu. Setidaknya kita harus melakukan pencarian langsung di lautan,” usul Intan, ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Harapannya yang sempat terkembang dengan petunjuk dari Anton, pupus sudah. Ia berharap Tuhan mengabulkan doanya, ia tak ingin apa pun. Ia hanya ingin Tuhan menjaga putranya tetap hidup dan sehat.
“Ma, apa Kakak tidak pulang lagi?” tanya Ruby polos, “aku ingin main sama Kakak.”
Intan terdiam tak bisa menjawabnya, ia hanya bisa memeluk putrinya dengan erat. “Kita sama-sama berdoa ya, Sayang. Semoga Kak Rudy segera pulang dan berkumpul dengan kita lagi.”
“Kenapa Kakak ikut orang itu, Ma?” tanya Ruby lagi.
Intan hanya bisa menggeleng, “Entahlah Sayang.”
Ruby yang berada di pangkuan Ibunya mengangguk. Intan ikut penasaran dengan pernyataan putrinya. Mereka tidak menyangka Ruby mengetahui seperti apa rupa penculik itu.
“Bisakah kamu menceritakan pada Papa seperti apa kejadiannya,” pinta Rayan.
“Waktu itu Kakak berkata bahwa ia mau ke toilet dan melarangku ikut jadi aku harus tetap berada di almari sampai Papa tiba. Waktu itu aku mendengar Kakak berkata dengan keras, jadi aku ingin melihatnya lewat lubang kunci karena saat itu aku takut jika aku ikut keluar Kakak akan marah padaku.”
“Apakah kamu melihat orang itu dengan jelas?” tanya Rayan lagi.
“Iya, pria yang bersama kakak masih muda, tampan seperti Om Nathan, dan senyumnya sangat manis. Matanya berwarna abu-abu. Sewaktu ia menutup mulut kakak dengan sapu tangan, Ruby melihat jari kelingking tangan kirinya sangat pendek,” kata Ruby menerangkan. Ia masih bisa mengingat dengan jelas peristiwa itu. Ia hanya heran kenapa Papanya tak pernah menanyakan ini sebelumnya. Padahal ia tahu seperti apa orang yang bersama Kakaknya itu.
__ADS_1
“Bukankah orang itu memakai masker?” tanya Intan tak mengerti. Bagaimana Putrinya melihat dengan jelas sosok itu jika sosok itu memakai masker.
Ruby menggeleng. “Aku tidak melihatnya memakai masker,” jawab Ruby. “Orang yang bersama Kakak itu mencium Kakak di bibir dan tersenyum manis.”
“Apakah Kakak memarahi orang itu karena mencium Kakak?” tanya Intan. Ia ketakutan. Ingatannya kembali pada malam itu saat penjahat itu begitu tertarik dengan Rudy. Tidak… ini tidak benar, tidak mungkinkan orang itu gay dan paedofil? Batinnya sembari menutup mulutnya menggunakan tangannya. Ini menjelaskan kenapa Ruby tetap selamat, rupanya orang itu tidak tertarik dengan perempuan.
“Kakak tertidur,” jawab Ruby.
“Aduh, Rayan… bagaimana ini?” Intan mulai panik. Semakin lama mereka tidak bisa menemukan Rudy, maka semakin mengkhawatirkan pula keselamatan Putranya.
“Apakah pria itu melihatmu, Sayang?” tanya Rayan pada Ruby.
Ruby mengangguk, “kupukir ia tidak melihatku, tapi orang itu bilang hush… sambil menaruh jari telunjuknya di mulut seperti ini,” kata Ruby sembari menyontohkan.
Rayan terhenyak tak percaya mendengar penuturan Putrinya. Mungkinkah…
“Rayan… mungkinkah orang itu gay?” tanya Intan. Matanya telah sembab oleh air mata.
“Apa itu gay, Ma?” tanya Ruby.
“Bukan apa-apa, Sayang. Bagaimana kalau kamu mencari Oma, bantu Oma menata taman, jika Kakak pulang nanti, ia akan melihat betapa rajinnya Ruby,” ujar Rayan sembari mengalihkan Ruby pada kesibukan yang lain. “Biar Papa dan Mama yang akan mencari kemana orang itu membawa Kakak.”
Ruby mengangguk mengiyakan. Ia telah melihat kedua orang tuanya sangat sibuk belakangan ini semenjak Kakaknya pergi dengan orang itu. Ia juga ingin Kakaknya kembali tapi ia tidak tahu harus berbuat apa agar Kakaknya mau kembali. Sejujurnya momen saat Kakaknya memanggilnya dan memandangnya sebelum tertutupi sapu tangan dan tertidur itu begitu mengganggu malam-malamnya. Meski ia telah bermain dengan Samuel sampai lelah, tapi kenangan saat itu begitu membekas diingatannya dan tak sedikitpun memudar. Apalagi Papa dan Mamanya tak pernah lagi tidur dengannya. Ketika ia pura-pura tertidur maka Mamanya akan turun dari ranjang dan tidak pernah kembali lagi sampai pagi. Apakah kesalahannya yang membuat orang itu membawa Kakak? Sampai-sampai Papa dan Mamanya sedikit demi sedikit menjauh darinya. Ruby mencoba berpikir positif, setidaknya ia punya Oma dan Samuel yang selalu ada untuknya.
“Sepertinya Anton membohongi kita… kita telah terperangkap oleh rencana Anton dan semakin menjauhkan Rudy dari kita. Kita harus ke kantor polisi sekali lagi.”
__ADS_1
“Aku ikut denganmu,” kata Intan.
🌺🌺🌺