Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Sakit


__ADS_3

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Rayan berjalan riang ke arah tempat operasi Intan, lampu yang menandakan operasi masih berlangsung, masih menyala. Ia tidak mungkin serta merta masuk melihat Intan, itu sangat tidak etis, karena ia sudah keluar dari tadi. Jadi dengan sabar Rayan menunggui Intan di depan ruangan, kali ini ada beberapa keluarga yang juga menunggu di depan ruang operasi. Rayan tak sempat bertanya siapa yang sedang di tunggu mereka.


Tanpa terasa 2 jam pun berlalu, kantuk yang mulai menyerang dicoba ditahannya. Sampai ia harus mengacak-acak rambutnya untuk menghindari kantuk yang melanda. Tak berapa lama kamar operasi pun terbuka, Rayan serta merta bangkit dari duduknya, yang anehnya keluarga yang berkumpul tak jauh dari tempatnya pun ikut bangkit mengrubung Intan.


"Bagaimana istri saya dokter?" kata lelaki muda disamping Rayan.


Rayan sempat ingin marah, bagaimana bisa Intan jadi istrinya. Tapi begitu Rayan melihat siapa yang berbaring di ranjang, ia hanya bisa terpana, orang yang berbaring diranjang dorong ini bukanlah Intan. Lalu dimanakah Intan? Rayan bertanya-tanya dalam hati.


"Pasien yang sebelumnya operasi dimana dokter?" tanya Rayan dengan suara tegas dengan nada menuntut. Ia hanya mengeluarkan nada seperti ini untuk mengintimidasi lawan bicara. Dan benar saja, semua yang ada disana menoleh ke arah Rayan.


"Pasien sebelumnya sudah selesai operasi, sudah dipindahkan di kamar inap," jawab seorang perawat yang ikut dalam rombongan tersebut.


"Apa!" Teriak Rayan histeris


"Dokter bagaimana istri saya?" tanya pria itu lagi.


Rayan tak sempat mendengar apa kata dokternya lagi karena ia sudah berlari menuju meja resepsionis tak jauh dari ruang operasi.


"Dimana pasien yang baru saja operasi? Pasien sebelum nyonya ini. Dimana dia sekarang?" tanya Rayan beruntun. Rasanya ia sudah hampir gila karena menunggu orang yang salah.


"Sebentar, ya, Bapak biar saya cek,"


"Nyonya Intan sudah dipindah ke kamar nomor 44. Diujung koridor ini. Kamar yang menghadap ke arah timur."


"Terimakasih," jawab Rayan sambil setengah berlari menuju ruangan Intan. Bagaimana bisa dia teledor seperti ini? Bagaiamana bisa ia membiarkan Intan seorang diri?


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Rayan membuka ruangan dengan tergesa-gesa. Namun, alih-alih melihat Intan di ranjang. Ia hanya melihat Seorang pria duduk membelakanginya. Tanpa melihat wajahnyapun, ia tahu siapa yang duduk di kursi itu. Pria paruh baya yang dulunya sangat dekat dengannya, dialah Pak Wibowo, ayah Intan.


Rayan langsung terduduk, lututnya terasa lemas, sampai-sampai ia tak sanggup lagi berdiri. Tamat sudah riwayatnya kali ini, Intannya, buah hatinya, dan dirinya, tak akan ada yang selamat jika itu mengenai Pak Wibowo. Dendam Pak Wibowo padanya pasti sudah mendarah daging, kesalahannya kali ini benar-benar tak termaafkan.

__ADS_1


"Kamu datang," sambut Pak Wibowo datar tanpa menoleh, matanya masih fokus keluar jendela. Beberapa tahun menjadi bawahannya, Rayan tahu nada suara itu adalah permulaan dari amarah yang sangat besar.


"Tolong maafkan aku," kata Rayan sembari bersujud. Apapun akan dilakukannya asalkan bisa menyelamatkan Intan dan buah hatinya.


"Kamu tahu dosamu tak termaafkan," kata Pak Wibowo sembari memutar kursi menghadap ke arah Rayan.


"Tolong berilah ampunanmu," ucap Rayan lagi, kali ini dengan nada sumbang karena ia sudah ingin menangis, mekecewaanya karena menunggu orang yang salah ditambah kelalaiannya membuat Intan lepas dari penjagaannya.


"Hendrayan yang congkak sekarang tengah bersujud, sepertinya kamu cukup tulus. Bagaimana kabar anakmu?" tanya Pak Wibowo mengalihkan pertanyaan.


"Tolong jangan ganggu anakku. Cukup sakiti aku saja, aku mohon belas kasihmu. Mereka darah dagingmu juga," pinta Rayan tanpa bisa menyembunyikan air matanya. Apapun akan dilakukannya asalkan jangan sakiti buah hatinya.


"Aku juga akan mengatakan yang sama. Jangan ganggu anakku maka aku tidak akan mengganggu anakmu, dan perlu kamu tahu, anakmu bukanlah darah dagingku karena aku tidak akan pernah sudi mengakuinya. Camkan itu!"


Batin Rayan berkecamuk, "Bagaimana aku bisa berpisah dengan Intan dia istriku, Ibu dari anakku. Apalagi aku berhutang janji pada Intan untuk menjaganya dan anak-anak," kata Rayan memohon dengan suara memelas.


"Hahahhahahaha....." Tawa pak Wibowo menggelegar mengisi kesunyian kamar.


"Plak....." Suara tamparan nyaring terdengar mengganti suara tawa nyaring Pak Wibowo. Rupanya Pak Wibowo telah mendaratkan tamparan pada Rayan, tamparan yang sangat keras. Ujung bibir Rayan sampai sobek akibat ia menerima saja tamparan itu tanpa menghindar.


"Plak...!" Pak Wibowo menampar Rayan sekali lagi. Kali ini tamparan itu sedemikian kerasnya hingga Rayan jatuhย  tersungkur.


Rayan tak sanggup menghindar dari tamparan penuh amarah Papa Intan. Karena dalam lubuk hatinya, Rayan menyadari bahwa ia pantas untuk tamparan itu. Ia pantas untuk menerima semua amarah itu.


"Aku.. Aku tak sanggup hidup tanpa Intan," aku Rayan dengan suara terbata-bata. Sudut bibirnya sudah berdarah membuat Rayan kesakitan saat berkata-kata.


"Baik, jika itu maumu. Aku akan mengabulkannya."


"Benarkah!" Ada secercah harapan tumbuh dalam hati Rayan.


"Dengan satu syarat," jawab Pak Wibowo.


"Apa itu?" sahut Rayan cepat.

__ADS_1


"Jika kamu menginginkan anakku maka aku menginginkan anakmu dan selamanya kamu tak akan pernah bisa menemuinya, aku akan membuangnya di panti asuhan yang sangat jauh di ujung dunia hingga kamu tak akan sanggup dan tak akan pernah bisa menemui anakmu lagi. Apakah kamu bersedia dengan syarat itu?" tantang Pak Wibowo.


Rayan tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Rayan hanya bisa menangis keras. Tolong jangan suruh ia memilih diantara dua hal yang tak bisa dipilihnya.


"Sekarang kamu tahu perasaan seorang Ayah. Jadi menyerahlah. Maka aku akan membiarkanmu hidup. Bawa anak dan keluargamu pergi ke luar negeri dan jangan pernah memghubungi Intan lagi. Jika kamu melanggar maka kamu akan tahu akibatnya."


"Izinkan aku bertemu Intan untuk terakhir kali," pinta Rayan.


"Intan sudah dipindahkan dari rumahsakit ini. Keinginan terakhirmu tak bisa aku kabulkan,"ย  kata Pak Wibowo sambil beranjak dari duduknya, "ingat, kamu harus sudah pergi dalam 3 hari."


"Kapan kami bisa kembali?" tanya Rayan buru-buru sebelum Pak Wibowo pergi.


"20tahun," jawab Pak Wibowo. 20 tahun sudah cukup bagi Intan untuk membangun rumah tangganya sendiri.


"Itu terlalu lama. Tolong pertimbangkan lagi," pinta Rayan.


"Jika kamu bisa menerima pukulan dari pengawalku tanpa melawan. Aku akan menguranginya menjadi 15tahun"


"Aku tak keberatan," jawab Rayan putus asa.


"Benar-benar orang yang putus asa," ujar Pak Wibowo sembari menjambak rambut Rayan.


"Pengawal," panggil pak Wibowo sembari melempar Rayan sampai kepala Rayan tersungkur dikakinya.


Beberapa orang langsung masuk ke ruangan, Rayan tak perlu menghitungnya, yang diperlukannya saat ini hanya menahan pukulan mereka.


"Pukul orang ini 5 menit tanpa jeda dengan pukulan paling keras dan menyakitkan," perintah Pak Wibowo tegas sembari keluar dari ruangan.


"Baik," ujar para pengawal serempak.


Dan yang terdengar saat ini hanyalah pukulan bertubi-tubi yang diterima Rayan.


Rayan menerimanya tanpa mengeluh, tanpa berteriak, ia hanya harus fokus melindungi organ fitalnya dari pukulan para pengawal Pak Wibowo. Namun para pengawal Pak Wibowo sangatlah terlatih, mereka juga sangat banyak. Rayan tak sanggup lagi, ia pun pingsan sebelum 5 menit itu berakhir.

__ADS_1


Takdir sekali lagi memisahkan mereka. Akankah mereka dipersatukan kembali.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2