Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Berkumpul lagi


__ADS_3

🌺🌺🌺


“Kamu tunggu saja di rumah ya, tak usah menjemput di bandara. Siapkan saja sesuatunya di rumah. Nanti ada Ema datang membantu,” ucap Rayan pada Intan saat video call terakhir mereka.


Raut wajah Intan langsung berubah, siapa sih yang tidak ingin menyambut kekasihnya juga anak-anaknya di bandara. “Biarkan aku berbicara dengan anak-anak,” pinta Intan, ia akan merayu anak-anak supaya mengizinkannya menjemput mereka. Tak lama kemudian si kembar telah duduk di depannya. Ruby tampak antusias sedangkan Rudy sibuk melihat ke arah yang lain.


“Biarkan Mama menjemput kalian, ya?” pinta Intan.


Ruby tak langsung menjawab malah menoleh ke arah Papanya. Ia memang tak tahu alasan pasti Papanya melarang Mamanya menjemput mereka, tapi sebagai anak yang berbakti ia harus menurut apa kata Papanya. Karena tak tahu harus berkata apa Ruby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Rudy sudah lebih dulu kabur sebelum Intan minta pendapat putranya. Akhirnya, Intan hanya bisa menghela nafas.


Rayan melihat wajah kecewa Intan tapi pura-pura tak melihatnya, padahal sejatinya ia sendiri juga kecewa, dalam hatinya ia sangat ingin dijemput oleh Intan. Ia ingin memuaskan semua kerinduannya secepat mungkin. Tapi, semua ini demi kebaikan mereka, musuh mereka kali ini bukanlah orang yang welas asih, ia takut jika si kembar terekspos, itu akan menjadi kelemahan mereka saat melawan Anton.


“Aku merindukanmu, tunggu aku ya, sayang,” kata Rayan malu-malu.


“Aku juga, pastikan kamu sampai dengan selamat. Jaga si kembar untukku,” pinta Intan.


Rayan mengangguk dan mendekatkan bibirnya ke kamera, memberi kecupan sayang untuk Intan.


Intan mendekatkan pipinya menerima kecupan itu. Bagaimana ia bisa tahan menunggu jika perlakuan Rayan semanis itu padanya. Rayan mengatakan perjalanannya sekitar 4 jam tapi waktu yang dibutuhkan bisa lebih dari itu. Ia akan sangat bosan menunggu mereka, untunglah ia tak sebosan itu, karena tak hanya Ema yang datang, ia juga telah mengundang Mas Eka juga Kak Tia beserta dua keponakannya, Adam dan Wina. Untung, Adam dan Wina juga cepat akrab dengan Samuel, putra semata wayang Ema.


Adam sudah menginjak usia 12 tahun, ia sudah duduk di bangku SMP, sedangkan si kembar lebih tua 2 bulan dari Wina, dan lebih tua 4 bulan dari Samuel. Wina, dan Samuel masing-masing telah kelas 1 SD, jika si kembar sekolah di sini mereka akan berada di kelas yang sama, tentu saja di sekolah yang berbeda, karena Rayan menginginkan si kembar sekolah di tempat paling dekat dari rumah.


Intan terus saja memasang wajah khawatir dan menengok ke halaman. Ema yang melihatnya tentu saja merasa kasihan, ia berusaha menenangkan Intan, “mereka akan baik-baik saja,”


“Aku ingin mereka datang secepatnya, aku sungguh tidak sabar. Aku sudah terlalu merindukannya,” ucap Intan. Suasana sudah sepi karena anak-anak telah pindah ke kolam di halaman samping, Mas Eka dan Edi ikut ke sana meninggalkan Intan dan para ibu yang menenangkannya.

__ADS_1


Kak Tia memegang tangannya menguatkan, “apalah arti menunggu beberapa jam, kamu sudah menunggu beberapa tahun, sini biar aku merapikan penampilanmu,” usul Kak Tia.


Ema pun setuju, karena terlalu khawatir Intan malah mengabaikan penampilannya. Sebenarnya Ema juga tahu, kakaknya akan mengabaikan penampilannya juga, tapi tentunya pertemuan ini adalah pertemuan perdana setelah bertahun-tahun, jadi biarlah memori indah ini terpatri untuk hal-hal yang memang indah.


Mereka lantas pindah ke lantai atas dan membuat Intan menjadi lebih cantik. Kak Tia telah siap dengan peralatan riasnya, ia siap memoles adik iparnya menjadi secantik bidadari tanpa menimbulkan kesan menor yang berlebihan. Intan bahkan baru tahu kalau Kak Tia pandai merias. Sedangkan Ema membantunya memilih baju yang manis untuk dikenakan Intan.


🌺🌺🌺


Hari sudah menjelang siang saat suara mobil terdengar dari halaman, kontan saja mereka bergegas keluar. Anak-anak yang telah selesai berenang ikut berlarian keluar, apalagi Wina dan Adam, mereka sangat antusias bertemu sepupunya untuk pertama kali.


Intan juga tak kalah antusias, ia berdiri di depan pintu menyambut mereka, wajah cantiknya berbalut make up tipis yang membuat segar penampilannya, rambut pendeknya dihias oleh jepit rambut berbentuk bunga putih. Ema telah memilihkan gaun pendek selutut warna putih, yang untungnya adalah favoritnya. Jika ditambah dengan seikat buket bunga, ia pasti terlihat seperti calon pengantin yang menunggu pengantinnya.


Intan melihat seseorang keluar dari mobil, wajahnya mirip Jonathan, mungkinkah dia Johan yang sering dibicarakan Rayan. Johan keluar dari pintu kemudi dan detik berikutnya Rayan keluar dari pintu yang lain. Ia terpaku di tempat kala melihat Rayan. Pria yang beberapa hari terakhir rutin dilihatnya melalui video call, sekarang tengah berdiri tak jauh darinya sembari tersenyum hangat ke arahnya. Rayan terlihat tampan seperti biasa, pria itu tetap mempertahankan kumis dan jambang tipis namun kali ini ditambah potongan rambut yang rapi, kulitnya terlihat lebih coklat dari yang terlihat di video, terlihat sangat eksotis. Apalagi ditambah tatapan Rayan yang penuh dengan cinta dan kerinduan tengah menatap ke arahnya. Ia tak sanggup menahan diri untuk tidak berlari ke arah Rayan dan memeluk pria itu. Namun satu hal yang mencegah Intan melakukannya adalah karena ada seseorang yang lebih dulu melakukannya.


“Hei, kau merindukanku, tidaklah kau merindukan si kembar juga,” seru Rayan sambil menurunkan Samuel.


Rayan segera menyingkir ke samping, memberi jalan kedua anaknya untuk bertemu dengan keluarga yang sangat jarang dilihatnya, bahkan ada yang tak pernah dilihatnya sekalipun, seperti Mas Eka dan keluarganya.


Saat melihat buah hatinya keluar dari balik Rayan, Intan tak kuasa menahan dirinya untuk tidak lari memeluk mereka, kerinduannya pecah oleh pertemuan ini, ia menangis keras sambil memeluk mereka.


“Ini Mama sayang, ini Mama,” tangis Intan sambil memeluk mereka berdua. Ruby memeluk Mamanya dengan penuh kerinduan dan rasa sayang sedangkan Rudy yang lebih pemalu hanya diam saja menerima pelukan dan ciuman dari Mamanya.


Intan memandang kedua buah hatinya, mereka terlihat sangat mirip satu sama lain tak seperti di video call yang terlihat ada perbedaan dari keduanya, Ruby sangat cantik dengan rambut di ikat dan poni lucunya. Intan menciumnya berulang kali, “Mama merindukanmu, sayang, Mama mencintaimu,” gumam Intan di sela isak tangsinya.


“We love you, Mom” sahut si kembar sambil mencium pipi Mamanya, Ruby di bagian pipi kanan dan Rudy di bagian kiri. Intan merasa seolah berada di surga dikelilingi oleh malaikat kecilnya.

__ADS_1


Rudy yang pendiam hanya memandang Mamanya penuh arti, lesung pipitnya tampak jelas saat Rudy tersenyum ke arah keluarga yang berdiri mengitarinya, ia sudah diberitahu bahwa akan ada saudara sepupu dari kakak angkat Mamanya, dan ia melihatnya sekarang, anak lelaki tinggi dan tampan, dengan sorot mata yang tajam dan terlihat sangat keren di usianya, ia langsung mengaguminya. Juga anak perempuan seumuran mereka, dengan tinggi tak jauh beda dari Ruby hanya saja mereka benar-benar terlihat berbeda, baik wajah, maupun rambut, mungkin karena mereka tidak benar-benar saudara sepupu dalam artian yang sesungguhnya. Rudy menyalami mereka satu persatu, Neneknya bilang bahwa di Indonesia wajar bagi mereka berkenalan dengan saling bersalaman. Giliran dengan Samuel, Rudy langsung memeluknya, akhirnya mereka bisa sering-sering main tanpa harus menunggu liburan. Dengan langkah cepat ia menggandeng Adam dan Samuel untuk bermain.


“Ini Ibuku, Maria,” kata Rayan sambil memperkenalkan seseorang lagi.


Intan sejenak melupakan keberadaan Ibu Rayan karena pertemuan dengan putra-putrinya. Namun saat melihat Ibu Rayan, Intan dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya. Intan pernah melihat wanita ini, bukankah ini ibu yang pernah menyerangnya sewaktu dulu di rumah sakit jiwa? . Ia sempat berupaya menemui ibu ini terakhir kali tapi tidak bisa bertemu, sungguh suatu takdir jika ibu yang dahulu ditemuinya adalah ibu Rayan. Namun Intan memilih mengabaikan kenyataan bahwa ia pernah bertemu dengan Bu Maria dan memilih menanyakannya pada Rayan nanti.


Setelah Ema membawa pergi Bu Maria, Ruby yang mengakrabkan diri dengan Wina, Johan yang berbincang dengan Eka, Kak Tia yang mengekor anak-anak perempuan bermain, tinggallah dua sejoli yang dimabuk rindu ini.


“Intan, aku merindukanmu,” ujar Rayan tanpa basa-basi langsung memeluk Intan.


“Aku juga merindukanmu, Mas Rayan, jangan pergi lagi,” ujar Intan sambil balik memeluk erat Rayan seolah takut kehilangan. Air matanya berlinang membasahi pipi putihnya, jika boleh jujur, ia lebih merindukan Rayan daripada si kembar, bagaimana tidak, sejak mereka menikah tak pernah ada cinta tanpa air mata yang mengiringi kisah mereka, saat ini biarlah kisah mereka menjadi kisah yang berakhir bahagia. Tuhan, izinkan kisah cinta ini berakhir bahagia, doanya dalam hati.


Rayan mengusap air mata yang membasahi pipi Intan, “jangan menangis, sayangku,” ia teramat sakit melihat air mata itu, semua kisah buruk ini berawal darinya, semua karenanya, Intan menderita karenanya, anak-anak harus berpisah karenanya, ia pantas dihukum karena kesalahannya ini. Tapi tentu saja kita sudah tahu bahwa Rayan telah mendapat karma dari perbuatannya.


Rasa cinta memenuhi relung hati Rayan, ia memandang Intan dengan tatapan penuh kerinduan dan ia dengan tulus mendaratkan ciuman penuh cinta, jauh dari lubuk hatinya hanya cinta yang tersisa untuk wanita ini.


Intan menerima ciuman Rayan dengan mata terpejam, mencoba meresapi dan merekam memori ini. Apalagi saat Rayan berlutut di kakinya sambil mengeluarkan cincin dengan kotak merah hati, hatinya serasa berkembang besar dan perutnya dipenuhi oleh kupu-kupu, rasanya hari ini ia benar-benar wanita paling bahagia di bumi ini.


“Intan, menikahlah denganku. Jadikanlah aku satu-satunya tempatmu bersandar,” Rayan melamar Intan sekali lagi.


Intan tak kuasa menjawabnya, ia hanya bisa mengangguk, bagaimana bisa mereka menikah lagi padahal cincin pernikahan mereka yang dulu masih setia tersemat di jari manisnya, tapi tentunya Intan tak peduli, baginya yang terpenting saat ini adalah tak akan ada yang bisa memisahkan mereka, Intan memeluk pria ini lebih erat lagi sebagai jawaban kesungguhan hatinya.


🌺🌺🌺


Jangan lupa follow dan jempolnya

__ADS_1


__ADS_2