
🌺🌺🌺
Sania membuka mata dari tidurnya yang lelap. Namun, saat ia benar-benar terjaga, ia dibuat terkejut kala menyadari tangannya melingkar dibadan Anton dan kepalanya merebah dibahu bossnya. Ia menelan ludah ketakutan, dengan perlahan Sania menjauhkan diri dari Anton dan segera keluar kamar.
Anton memandang ke arah pintu tempat Sania keluar, sebenarnya Anton tidak benar-benar tidur malam ini, Anton yang belum pernah tidur dengan perempuan mencobanya untuk pertama kali. Tapi malam ini, Sania tidak hanya sekedar tidur dengannya tapi juga memeluknya. Anton tak bisa marah, salahnyalah yang mencoba tidur bersama. Meskipun itu berakhir dengan Anton yang tidak bisa sama sekali, ia masih tidak bisa mengingat kenapa ia merasa takut tidur dengan perempuan.
Anton berlalu ke kamar mandi, air dingin akan menyegarkan pikirannya untuk fokus menggapai target yang harus dicapainya, tidak hanyut pada masalah masalah yang tak penting seperti ini.
Anton harus menyusun rencana untuk mendapatkan Intan. Ia belum akan puas sebelum mendapatkan Intan diranjangnya. Ia sudah tak sabar masuk ke keluarga wibowo dan mendapatkan akses keuangan mereka. Ada target besar yang ingin di capai Anton, yaitu menghapus nama Daisuke dari belakang namanya dan menggantinya dengan nama Ibunya, tapi itu hanya memungkinkan jika kekayaannya bisa membeli sebagian besar saham atau bahkan membeli seluruh perusahaan dibawah naungan Daisuke Company.
Begitu Anton keluar dari kamar, bajunya telah tertata rapi diranjang. Namun ia tak mendapati Sania, padahal gadis itu selalu menunggunya berpakaian dan mendengarkan setiap perkataannya seperti mencatat point penting hari ini atau sekedar membacakan agendanya. Tapi pagi ini ia tak ambil pusing dengan itu karena kali ini ia telah sibuk menelefon seseorang.
"Ze, buntuti Intan. Aku mau semua kegiatan dan agendanya lengkap," perintah Anton.
Ze, adalah kaki tangan Anton untuk melaksanakan perbuatan kotornya, tak ada yang tahu siapa Ze itu kecuali Anton. Bahkan Sania hanya tahu sangat sedikit mengenai Ze dan sekalipun belum pernah bertemu.
🌺🌺🌺
Intan merenung dikantorya, sudah beberapa kali ia menghindari Anton, undangannya atau bahkan untuk sekedar berpapasan. Ia benar-benar sudah seperti orang paranoid jika tiba-tiba saja ada gelagat Anton ataupun Sania, sekertaris Anton. Tapi ia sadar tak selamanya ia bisa menghindari Anton, lantas jika ia tiba-tiba bertemu apa yang akan terjadi padanya. Ternyata menjadi seorang pebisnis tak semudah bayangannya. Bahkan saat ini ia merasa bahwa nyawanya akan terancam gara-gara bisnisnya. Makin lama bukannya menjadi semakin takut, ia malah semakin takut menghadapi masa depannya. Bagaimana mau menyelamatkan putrinya? diri sendiri saja merasa tak tenang.
Intan melihat telefonnya berkedip di atas meja. Pasti ada yang menelefonnya, ia lupa mengganti mode senyapnya saat rapat tadi. Ternyata Mas Eka yang menelefon.
"Intan," suara Kakaknya terdengar panik
"Ada apa Mas Eka?"
"Bu Ella meninggal."
"Ya Tuhan, aku turut berduka cita. Kapan itu Mas? "
__ADS_1
"Barusan, Mas Eka sudah disini sejak kondisi Bu Ella memburuk. Rencananya Bu Ella dikuburkan besok, jika kamu bisa datanglah," pinta Mas Eka.
"Kak Tia sudah ada disanakah?" tanya Intan.
"Ya, kak Tia disini bersama anak-anak. Aku menghubungimu dari tadi agar bisa kesini bersama Kak Tia, tapi kamu tidak juga mengangkat telfon."
"Aku lupa mengganti mode senyapnya saat rapat tadi. Aku pasti akan kesana."
"Datanglah bersama Nathan, jangan berkendara sendirian."
"Baik"
Bu Ella mengurusku selama kehamilan dan aku belum pernah berkunjung lagi. Sayang sekali aku berkunjung saat Bu Ella sudah tiada.
Intan lantas menelefon Nathan untuk memintanya menemani perjalanan malam ini.
🌺🌺🌺
"Kamu akan kemana Jhon?" tanya Kakaknya.
"Aku akan mengantar bosku ke panti asuhan di daerah S," jawab Nathan sambil bergegas ke kamarnya.
"Tidak bisa berangkat besok kah. Daerah S. Sangat jauh dari sini, sangat berbahaya berkendara malam hari. Apalagi kamu belum pernah ke sana," ujar Johan sambil ikut masuk ke kamar adiknya.
"Pemakaman kepala panti asuhan yang merawat bosku dan saudaranya akan diadakan besok pagi, jadi daripada tergesa-gesa aku akan berangkat malam ini. Aku tak apa kak Johan, tidak terlalu jauh juga."
"Kakak akan mengantarmu," kata Johan karena ia sangat hafal tempat itu, dulunya ia sering mengantar jemput Rayan kesana.
"Tak usah. Urusan disni sangat banyak. Tolong pamitkan aku pada ayah ibu. Sekarang jangan menggangguku dulu, aku mau mandi dengan." kata Nathan sambil mendorong kakaknya keluar dari kamar.
__ADS_1
Ya, Jonathan adalah adik kandung Johan, anak buah kepercayaan Rayan. Suatu takdir jika Jhon, nama kecil Nathan saat di rumah, menjadi asisten Intan. Johan tak tahu jika keputusan adiknya menolak bekerja diperusahaan Rayan membawanya menjadi asisten Intan.
Namun begitu, Johan tidak serta merta melepaskan adiknya seorang diri karena saat ini Intan tengah berurusan dengan Anton Daisuke, Johan meminta seseorang untuk membuntuti adiknya supaya aman.
🌺🌺🌺
"Seseorang sepertinya membuntuti kita." ucap Intan sedikit paranoid, "mobil dibelakang dari tadi tetap dibelakang terus. Sungguh menakutkan! mana jalanan sepi dan gelap lagi."
Nathan lantas teringat kakaknya. Ia harus menanyakannya daripada berfikir yang tidak-tidak.
"Apakah kamu menyuruh seseorang membuntuti ku?" tanya nathan pada kakaknya.
"Ya, apa kentara sekali."
"Ya, untuk apa anak buah kakak membawa van untuk membuntutiku. Aku baik-baik saja tak perlu membawa pengawal sebanyak itu."
"Aku tidak menyuruh orang membawa van, Soni membawa mobil hitam biasa, mobil kantor." ujar Johan khawatir. "Coba cek sekali lagi, benarkah mobil itu membuntutimu?"
"Baiklah," Nathan lantas mempercepat laju mobilnya, sesuai dugaan, van itu lantas mempercepat kendaraannya juga.
"Sial, aku harus ngebut. Perintahkan Soni segera kemari. Aku butuh bantuan jika terjadi apa-apa," pinta Nathan pada Kakaknya.
Dan bruakkkkk....... Suara tabrakan terdengar nyaring dan telefon Nathan tak tersambung lagi. Dengan panik Johan menelfon Soni yang ternyata ia sedikit tertinggal karena harus mengisi bahan bakar.
Oh,tolonglah! jangan sampai terjadi sesuatu pada adikku.
Tak seberapa lama telefon Johan kembali berdering. Kali ini Soni yang menelefon.
"Aku menemukan Nathan, ia terluka. Aku harus mengejar penculik itu atau Nathan..." Soni sedikit terdiam sebelum melanjutkan perkataannya dengan nada yang penuh kekhawatiran, "Aku harus segera membawa Nathan ke rumah sakit, lukanya serius," ujar Soni tak lagi minta pertimbangan antara mengejar penculik itu atau menolong Nathan yang ternyata terluka cukup parah. Bahkan jika lukanya tak parah Johan tetap akan meminta Soni memilih adiknya. Penculik itu akan membiarkan Intan hidup untuk tebusan atau apapun itu, sedang Jhon bisa saja tak terselamatkan. Johan yang khawatir langsung memacu kendaraannya menuju rumah sakit yang akan dituju Soni, Namun dalam perjalanan ia meminta tim yang lain untuk menemukan Intan, "aku harus melaporkan ini pada Tuan Rayan," gumam Johan.
__ADS_1
🌺🌺🌺