
Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tapi jatuh cinta itu akan menjadi masalah bagi mu saat orang yang kau cintai ternyata tidak memiliki perasaan yang sama dengan mu. Dan itu tidak akan menjadi masalah jika kau mau mencintainya dengan tulus, tanpa memaksa untuk dia membalas cinta mu atau sekedar menahan nya untuk berada di sisi mu. Kau bisa saja mencintai dan memiliki raga nya, tapi tidak dengan hati nya. Maka apakah kau akan merasa bahagia tanpa di cintai oleh nya?
Saat mentari bersinar lembut, tetesan embun masih membasahi helaian daun,, burung burung berkicau menyanyikan lagu riang. Sepasang kaki melangkah dengan cepat. Langkah nya tampak lebar lebar. Kaki itu tak tampak seperti langkah orang berjalan, karna lebih terlihat seperti sedang setengah berlari. Rambut panjang ikal yang di kuncir kuda itu tampak bergoyang goyang di belakang punggung tegap tersebut. Ya pagi ini Echi sedang berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari rumah nya yang bejarak satu kilometer karna sepeda yang biasa di kayuhnya sedang rusak. Seragam putih biru yang ia kenakan tampak sudah mulai basah akibat terkena cucuran keringat yang sudah mengalir deras membasahi tubuh kurus nya. Tak jarang ia di katai robot oleh teman teman nya saat mereka melihat Echi berjalan untuk ke sekolah namun hal itu tak ia hiraukan sama sekali. Yang terpenting bagi nya ia bisa tiba di sekolah tepat waktu tanpa harus terlambat saja ia sudah sangat bersyukur.
Sebuah angkutan umum berhenti di depan gang yang menuju ke sebuah sekolah SMP. Seorang gadis cantik turun setelah membayar uang kepada pak supir dan berjalan melangkah beriringan dengan langkah sepasang kaki perempuan yang memiliki betis lebih besar bahkan seperti betis anak laki laki.
Echi memelankan langkah kakinya mengikuti langkah Oca sambil menyapa nya.
"Oca, kamu udah siap kan?"
__ADS_1
Oca menoleh sambil mengernyitkan dahi petanda sedang dalam mode bingung, lalu menjawab "emang hari ini ada ulangan ya?"
"Eh, malah nanya ulangan sih. Itu loh, kita kan mau nembak Yudis, kamu udah siap belom?" Ucap Echi dengan suara pelan tapi masih terdengar jelas oleh Oca. Ia takut takut kalau sampai ada siswa lain yang mendengar obrolan mereka.
Oca mengangguk tanda mengiya kan sambil berkata "emang kamu udah ngatur giamana cara nya biar bisa ngasih ini surat ke dia tanpa harus anak anak lain pada tau?"
"Ya gampang lah itu mah. Aku emang belum punya rencana, biar aja ntar semua ngalir ngikuti alur aja kalo udah di jalani." jawab nya santai.
"Udah, percaya sama aku ntar semua juga beres."
__ADS_1
Setibanya mereka di kelas, Oca mengajak nya ke toilet terlebih dahulu sebelum bel tanda pelajaran di mulai berbunyi yang di setujui oleh Echi. Begitulah rutinitas wajib mereka. Ke toilet seperti sebuah rutinitas wajib, entah itu hanya sekedar ingin bercermin atau memang benar benar melakukan buang air dan mereka tak pernah absen setiap hari nya.
***
Setelah melewati serangkaian kegiatan belajar mengajar, akhirnya jam menunjuk pada angka dimana waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah telah usai sehingga terdengar bel pulang berdenting nyaring di susul dengan derap langkah para siswa yang menghambur keluar dari setiap ruang kelas.
"Oca, ayo kita ke perpus bentar,, aku mau nyari buku buat ngerjain tugas sejarah tadi." ucap Echi yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Oca.
Setibanya di perpustakaan, senyum Oca langsung mengembang dan ia tahu maksud dari sahabatnya yang berjalan dengan langkah lebar sedikit menyeret nyeret tubuhnya yang tak dapat mengimbangi langkah Echi karena takut kehilangan kesempatan kata nya. Ternyata Yudis sedang bertugas merapikan perpustakaan. Melihat Echi yang langsung nyelonong masuk, Oca pun tahu maksud sahabat nya lalu menghampiri Yudis untuk sekedar berbasa basi lalu kemudian membantu merapikan buku buku ke rak yang tersedia sesuai jenis bacaan buku tersebut.
__ADS_1
"Yudis, aku pinjam buku ini ya, buat ngerjain tugas sejarah." Echi menyodorkan buku ke meja Yudis sambil menyerahkan kartu anggota perpustakaan.
Setelah Yudis mencatat buku yang di pinjam nya, Echi pamit undur diri sambil mengedipkan mata ke arah Oca. Ada kata tersirat dari senyum di wajah Echi seakan mengatakan "aku sudah mengatur ini, sekaranglah saatnya kau ungkapkan perasaan mu kepadanya" saat menatap Oca agak lama kemudian Echi melangkah keluar ruangan perpustakaan meninggalkan Oca dan Yudis yang sedang mengobrol di sana, berharap mereka akan bersatu menjadi sepasang kekasih. Ia tampak tersenyum, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia juga sedang terluka, namun ia tak mau berharap lebih untuk sekedar menyandang gelar pacar dari seorang Yudis di usia yang baru mencapai lima belas tahun pun belum genap. Mungkin ini hanya akan jadi kisah 'cinta monyet' bagi nya