
Seorang Geraldi Leon dan sepupu terbaik nya Ario sekarang bisa bernafas lega. Pasal nya setelah hampir dua bulan mereka bekerja untuk memulihkan kondisi perusahaan cabang milik sang papa, kini akhir nya perusahaan tersebut sudah mulai stabil.
"Ah, akhir nya selama sepekan ini setidak nya kondisi perusahaan sudah mulai stabil." ujar Ario sambil menyender di kursi sofa rumah tinggal mereka.
"Ya, aku rasa kondisi perusahaan sudah mulai stabil. Tapi kita tidak boleh lengah, bisa saja para tikus tikus kecil itu memanfaatkan situasi ini untuk memanfaatkan posisi mereka dan berulah seperti semula." sahut Geraldi
"Kalaupun mereka kembali memanfaatkan jabatan mereka untuk dapat mengkorupsi waktu dan menggerogoti milik perusahaan lagi, aku akan mengeluarkan surat peringatan yang ke tiga disertai dengan gaji terakhir mereka." tambah Geraldi lagi
Karyawan yang bekerja di perusahaan milik pak Pranata Al Leon memang merupakan karyawan pilihan karena sudah melalui tahap seleksi yang cukup ketat. Namun setelah sekian lama bekerja, ada beberapa orang yang baru naik jabatan ternyata malah menyalahgunakan jabatan baru nya.
Merasa mendapat kepercayaan, orang yang tak bertanggung jawab itu bertindak seenak nya dengan keluar dari kantor pada jam sebelum pulang kerja dengan mengelabui sang pemimpin tentu nya. Sehingga pekerjaan nya tentu saja menjadi terbengkalai.
Belum lagi hal tidak terpuji lain nya yang membebankan kebutuhan pribadinya dengan memanipulasi kan data dan memasukkan nya pada data pengeluaran perusahaan.
"Mereka itu sudah bekerja terlalu lama di perusahaan ini. Sehingga mereka sudah paham bagaimana cara bermain dengan baik. Harus nya mereka di pecat saja sudah." ujar Ario sambil mengetuk ngetuk dagu dengan jari telunjuk nya.
"Jangan. Aku kasihan dengan keluarga mereka. Mereka pasti sangat bergantung pada perusahaan ini. Aku tidak dapat bayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga nya jika ia sampai di pecat. Sebaik nya kita awasi saja dulu. Seperti kata ku tadi. Kalau mereka sudah ketahuan melakukan kesalahan lagi, baru aku akan mengeluarkan mereka." sahut Geraldi
"Kau begitu lembek menyikapi kecurangan kecurangan karyawan mu yang bahkan sudah hampir membuat perusahaan ini harus di tutup karena bangkrut." jawab Ario dengan nada meremehkan.
"Mengganti mereka dengan karyawan baru juga tidak akan semudah memecat mereka. Perusahaan ini berada di kota kecil, aku yakin kalau akan sulit mencari orang yang berkompeten dalam bidang nya seperti mereka." jawab Geraldi lagi
"Kenapa tidak bawa dari perusahaan induk saja. Di sana kan kota besar, kota megapolitan. Tentu sangat banyak orang yang berminat untuk menggantikan posisi karyawan yang kau tarik ke sini." ucap Ario memberikan saran nya
__ADS_1
"Untuk memindahkan mereka memang mudah, tapi aku rasa mereka yang sudah terbiasa tinggal di kota besar dengan segala fasilitas yang ada akan sangat sulit beradaptasi di kota ini. Apa lagi kalau yang sudah beristri dan punya anak." sahut Geraldi lagi sambil mengingat minim nya fasilitas di kota kecil tersebut.
"Ya, kau benar. Karena aku sendiri kalau tidak di sibukkan dengan pekerjaan seperti kemarin kemarin merasa jenuh." jawab Ario
"Ya, aku tau. Lihat lah wajah tampan mu yang sudah mulai berkurang ketampanan nya itu. Kau jenuh karena tidak bisa clubbing kan?" jawab Geraldi sambil mencibir kebiasaan sepupu nya itu
"Ya, hal itu membuat mata ku lelah. Karena sudah lama tak bertemu dengan wanita wanita seksi. Aku juga merindukan minuman faforit kita. Apa di sini minuman beralkohol itu di larang ya?" kata Ario pasal nya ia tidak menjumpai minuman beralkohol di supermarket maupun tempat tempat belanja yang ia kunjungi.
"Di sini warga muslim nya sangat menjunjung aturan agama, makanya tempat seperti club malam dan minuman beralkohol tak bisa di adakan semau nya." ujar Geraldi menjelaskan
"Wah, kau tahu banyak tentang kota ini." puji Ario
"Aku hanya bertanya pada buk Majeni tadi. Setidak nya dia asli warga sini. Jadi kita harus cari tau mengenai kebiasaan warga sini biar dapat lebih berbaur." Ujar Geraldi menanggapi pujian Ario
Sejenak terjadi keheningan di antara Ario dan Geraldi. Entah karena di sibukkan dengan pikiran masing masing, atau karena sudah tidak ada lagi yang ingin di bahas. Hening. Hanya keheningan yang tersisa.
"Baiklah, ibu boleh segera pulang kalau begitu." jawab Geraldi dengan sopan dan di angguki oleh ibu Majeni yang segera berlalu pulang
Setelah kepulangan bu Majeni, dua orang yang sedang dilanda kejenuhan itu pun saling pandang, mereka berbincang untuk mencari solusi agar dapat keluar dan memecah kejenuhan yang kian melanda di penghujung minggu ini.
"Halo." ucap Geraldi sambil memegang handphone yang di letakkan di telinga nya.
"Iya, hallo. Ada apa lo nelpon gue. Tumben banget soal nya." ucap Aji yang terhubung sambungan telpon dengan Geraldi
__ADS_1
"Gue sama Ario lagi jenuh ni di perumahan. Masa iya kita udah dua bulan di sini malam mingguan nya di rumah terus. Ajak keluar dong sekali sekali." jawab Geraldi menjelaskan
"Emh, tapi gue mau balik kampung. Apa lo berdua mau ikut?" ajak Aji yang memanggil anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja dengan panggilan yang tidak seformal jika mereka sedang dalam kondisi bekerja.
"Boleh lah, siapa tau bakal ketemu cewe cantik. Lumayan buat nyegerrin mata." sahut Ario yang sedari tadi menguping.
"Ya udah, siap siap lo pada. Lima belas menit lagi gue ke sana." tegas Aji kemudian mematikan sambungan telpon nya
"Eh, tapi bu Majeni tadi udah masak buat kita. Gimana dong, sayang makanan nya kalo gak di makan." ucap Ario sebelum mereka berangkat.
"Ya udah, bungkus aja. Ntar di makan di rumah gue aja di kampung." Aji memberikan saran nya dan di setujui Geraldi dan Ario yang langsung membungkus masakan bu Majeni dengan rantang.
Setelah tiba di kampung tempat tinggal Aji yang ternyata adalah desa Pelangi, mereka melaksanakan makan malam karena mereka tiba pada waktu isya.
"Jalan yok." ucap Ario antusias
"Ya udah kita ke kafe pelangi aja, nemuin anak anak yang biasa nongkrong di sana." sahut Aji sambil mengeluarkan motor kesayangan nya
"Gue bawa motor ayah lo aja. Males bawa mobil, ntar di kira sok kaya lagi." ujar Geraldi karena memang mereka berangkat ke desa pelangi mengendarai mobil
"Yah, Geraldi pinjem motor dulu mau jalan jalan sama Aji." pamit Geraldi sambil meminta ijin untuk membawa motor ayah Darwin, ayah nya Aji yang di sahuti dengan anggukan
Mereka pun pergi ke kafe pelangi, Aji berboncengan dengan Ario, dan Geraldi mengendarai motor bebek milik ayah Aji.
__ADS_1
Geraldi sempat terdiam saat menatap siapa yang ada di kafe tersebut.
"Echi." gumam Geraldi pelan hingga tak terdengar dalam suasana kafe yang ramai