Butiran Debu

Butiran Debu
firasat


__ADS_3

"Satu liter mungkin akan cukup untuk mengantarkan aku terlelap untuk selama nya" begitu batin Echi dengan pikiran sesatnya untuk segera menakhiri hidup.


Saat tangan nya hendak menjangkau botol cairan beracun tersebut, tiba - tiba saja ada seekor kucing liar yang masuk dengan lari terbirit birit dan menabrak kaki Echi. Tampaknya kucing tersebut sedang berkelahi. Karena terdengar suara erangan kucing lain di luar rumah.


Sontak saja hal itu menyadarkan Echi akan pikiran sesaat nya yang sesat. Segera ia berjalan keluar dan menjauh dari ruangan gudang di rumah nya tersebut.


Saat memasuki kamar, Echi mendengar suara nyaring ponselnya bersering. Dering pertama ia abaikan, Dering ke dua pun masih ia abaikan. Ia takut kalau yang menelpon adalah kakak nya yang akan marah marah dan mencaci diri nya seperti tadi. Namun sampai sudah entah ke berapa kali nya ia mengabaikan, ponsel nya masih saja terus berbunyi hingga mau tak mau ia segera meraih ponsel tersebut.


Echi segera mengangkat panggilan yang sudah berulang kali ia abaikan tersebut setelah mendapati nama Geraldi si 'abang sayang' yang menelpon nya.


"Assalam mu alaikum" ucap Echi dengan suara yang lemah.


"Wa alikum salam. Sayang.. Sayang kamu baik baik saja kan. Kenapa dari tadi aku telpon tapi tidak di angkat? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada mu?" Geraldi terus memberikan beberapa pertanyaan sekaligus karena rasa khawatirnya yang berlebih, mengingat kondisi psikis Echi yang mungkin sedang down dengan keadaan nya saat ini.


"Tidak ada. Aku baik - baik saja. Tadi aku sedang duduk di teras dan hape ku ketinggalan di kamar. Jadi aku tidak tahu kalau kamu dari tadi menelpon ku." Jawab Echi dengan nada yang di buat se normal mungkin. Ia harus menutupi kesedihan nya setelah di caci sang kakak tadi. Karena ia tidak ingin Geraldi terlalu mengkhawatirkan diri nya. Semua ini pasti akan baik - baik saja bukan. Setiap masalah pasti akan bisa teratasi. Dan ia bersama Geraldi sedang berusaha mengatasi masalah yang sudah mereka buat. Tinggal menunggu waktu. Karena dengan beriringnya waktu, semua pasti akan baik - baik saja.


"Yang... Hei... Sayang... kamu masih dengerin aku kan. Kok diem aja sih?"

__ADS_1


Panggilan Geraldi dari sambungan telepon membuyarkan lamunan nya.


"Eh,,, emh.. Suaranya kurang jelas, abang. Maaf ya kalo aku gak terlalu nyimak jadinya." Echi nyengir seolah Geraldi dapat melihat betapa ia menyesal karena melamun, bukan nya malah menyimak pembicaraan Geraldi yang panjang lebar di sambungan telpon.


"Ya udah. Intinya kamu jangan punya pikiran untuk berbuat sesuatu yang bisa merugikan diri kamu dan anak kita yang ada di perut kamu. Aku gak akan bisa memaafkan diri aku sendiri kalau kamu sampai berbuat yang macam - macam."


Tes


Air mata Echi lolos seketika. Bagaimana Geraldi bisa tahu apa yang baru saja ada di pikiran nya. Bahkan ia sempat akan mencelakai dirinya tadi.


"Ia. Aku janji bakal jaga diri. Aku di sini baik baik saja. Sama kecebong yang lagi tumbuh dalam perut aku" Ucapnya sambil terkekeh, mencoba menguatkan hatinya dengan candaan nya yang garing.


"Siap laksanakan bos" jawab Echi dengan semangat dan senyum mengembang di bibirnya.


"Eh, ada satu lagi. Jangan mikirin aku terus. Aku lagi nyiapin berkas buat surat nikah kita. Kalo urusan di sini selesai, aku bakal langsung ke sana." ucap Geraldi sambil terkekeh meskipun ucapan nya terdengar lirih.


"I miss you."

__ADS_1


"Miss you too."


"I love you"


"Love you too. Udah ah. Aku matiin ya. Ntar aku keburu sedih lagi."


"Iya. Ingat. Kamu harus selalu berpikiran positif demi kamu, aku dan anak kita."


"Oke. Assalam mu alaikum."


"Wa alaikum salam bunda nya anak aku."


Klik. Panggilan telpon pun terputus.


Lama Echi termenung. Bagaimana Geraldi bisa tau akan betapa kacaunya perasaan nya saat ini? Padahal ia tak menceritakan apa pum pada orang lain. Bahkan tidak pada ibunya sekali pun. Apakah ini yang di namakan kekuatan cinta? Bagaimana bisa Geraldi bisa dapat firasat saat ia berniat untuk mencelakai diri sendiri? Mungkinkah Geraldi merasakan apa yang ia rasakan?


Catatan:

__ADS_1


Author mau mohon maaf sama pihak noveltoon juga sama pembaca yang udah mampir di karya pertama author "Butiran Debu" ini karena cerita yang menggantung dan gak se asik karya karya author lain. Karena memang author mood nya gak jelas banget. Dan memang membaca dan mengomentari karya orang lain lebih gampang dari pada menulis cerita sendiri. Sekali lagi author ucapkan permohonan maaf 🙏🙏🙏


Terima kasih buat yang mau baca karya ini dan pihak noveltoon yang udah menampung cerita "Butiran Debu".


__ADS_2