Butiran Debu

Butiran Debu
Awal kisah baru


__ADS_3

Setelah melewati masa - masa suram dan menyedihkan dalam hidup nya, akhirnya hari pernikahan nya pun tiba. Echi masih belum percaya bahwa ia akan secepat ini menikah. padahal dalam benak nya belum pernah terpikirkan untuk menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga. Ia masih ingin menyandang status lajang. Bekerja dan mengumpulkan banyak uang untuk membahagiakan orang tua yang selama ini sudah membesarkan nya. Ya. Prioritas Echi saat ini adalah kebahagiaan keluarga nya. Meski kadang ia merasa di perlakukan tidak adil, tapi ia merasa bahwa itu adalah perjalanan hidupnya untuk bisa menjadi wanita yang kuat dan tegar. Bukankah sebagai manusia kita harus selalu bersyukur? Karena masih banyak orang - orang di luaran sana yang nasibnya tak seberuntung kita atau bahkan lebih miris dari apa yang kita alami.


Gaun putih sederhana tapi terkesan anggun membalut tubuh Echi pagi itu dilengkapi dengan hijab dan make up tipis pada wajahnya. Hari ini adalah hari di mana mereka akan mengesahkan hubungan dalam ikatan janji suci pernikahan. Dimana antara Echi dan Geraldi akan halal untuk melakukan apa yang sebelumnya di haram kan bagi mereka.


"Wah, kakak cantik meski pun sekarang makin kurusan." ucap Cantika yang baru saja memasuki kamar melihat penampilan kakak nya.


"Kamu tuh sebenarnya mau muji kakak apa mau bilang kalo kakak makin kurus sih?" jawab Echi sembari merengut.


"Iihh. Mau nikah tuh harusnya senang, ceria, ini malah merengut gitu. Keliatan gak bahagia tauk kak."


"Kakak masih gak percaya kalo hari ini bakalan nikah."


"Hahaha. Keliatan banget kakak gak lakunya kalo denger kakak bilang gitu."


"Apa sih kamu tuh dek. Malah ngeledek terus."

__ADS_1


"Ya kan secara yang selama ini di kejar - kejar cowok tuh aku. Eh taunya kakak tiba tiba pacaran, terus nikah deh."


"Enak aja kalo kamu mikir kakak gak laku. Kakak juga banyak yang ngejar, tapi kakak tolak. Lagian kakak tuh belum kepikiran buat punya pacar apalagi sampe nikah."


"Ya tapi semua nya udah terjadi kak. Kakak harus terima semua akibat perbuatan kalian. Lagian aneh. Dulunya selalu ngehindarin si abang, eh tapinya mau di pegang - pegang sampai apa yang terjadi pun terjadi lah." Cantika nyengir sambil memutar bola matanya, menggoda Echi yang malah semakin menunjukkan raut kesedihannya.


"Entahlah dek. Rasanya semua kayak mimpi. Tapi bukan. Seandainya saja kakak bisa memutar waktu..." Echi tercekat dan tak mampu meneruskan kalimatnya.


"Hust. Kakak tuh jangan sedih, ntar aku dikira nyubit kakak sampe kakak nangis lagi. Eh tapi kan, bang Ge tu kayak nya sayang banget tauk sama kakak. Dia tuh perhatian, setiap kakak pengen makan ini itu selalu di turutin sama dia. Setiap kakak pengen ke mana - mana selalu di anterin. Padahal kakak biasanya sering ngehindar gitu. Aku yakin kalo bang Ge tuh tulus mencintai dan mennyayangi kakak. Makanya kakak harus bersyukur bisa nikah sama dia. Ya, walau pun melalui cara yang salah."


"Echi, udah selesai belum nak."


"Udah bu. Masuk aja."


"Eh, kamu di sini ternyata. Ibuk dari tadi nyari kamu, Cantika."

__ADS_1


"Iya. Cantika tuh lagi nyemangatin kakak. Biar bisa senyum. Masa iya pengantin malah masang muka melow gitu."


"Ih, anak ibuk cantiknyaa." Air mata luruh begitu saja dari pelupuk mata sang ibu melihat anak nya yang sebentar lagi akan menikah. Di usapnya bahu putrinya, berusaha untuk kuat dan memberi kekuatan pada sang anak.


"Ibuk..... Maaf. Maaf buk. Maaf..." Echi terisak sambil merasakan kehangatan dari belaian lembut tangan sang ibu.


"Sssttt. Ibu juga minta maaf karena ibu juga punya banyak salah sama kamu. Jangan nangis lagi (ibu mengusap air mata Echi) nanti riasan kamu rusak."


"Ih, kakak nih. Sini aku benerin dikit riasan nya."


"Eh iya. Ibuk ke sini mau bawa kamu keluar. Pengantin pria nya udah ada di depan."


Echi keluar dengan di apit oleh ibu dan adik nya. Tangan Echi di genggam dengan erat oleh ibunya yang mengalirkan kehangatan dan kekuatan.


Andai saja selama ini kalian selalu hangat seperti ini bu, dek, mungkin aku gak akan mencari tempat lain untuk mencari kehangatan dan perhatian. Karena selama ini cuma Geraldi lah yang selalu bisa mengertikan aku, tempat aku bercerita, tempat ku berkeluh kesah selagi kalian selalu menyalahkan aku, mengabaikan aku. Semoga pernikahan ini adalah awalan yang baik dalam hidup ku.

__ADS_1


__ADS_2