
Sudah tiga bulan berlalu. Tapi Leon masih merasa bersalah atas pergi nya Echi yang menjauh sampai sampai ia pergi ke kota z.
Leon berpikiran bahwa pergi nya Echi semata mata hanya untuk menghindari diri nya. Ia sempat meminta informasi mengenai Echi kepada pemilik toko tempat Echi bekerja. Ia juga sempat meminta nomer hp Echi, namun seperti nya ia tak punya keberanian untuk menghubungi nya.
Sangat lah memalukan bagi seorang Leon untuk meminta maaf melalui hubungan telpon yang di rasa sangat tidak gentle. Ia lebih suka untuk bertemu langsung dan melihat reaksi serta raut wajah lawan bicara nya. Karena dengan melihat sorot mata dan ekspresi lawan bicara nya, ia akan bisa mengetahui kebenaran yang terpancar di sana.
Selama tiga bulan pula Leon memilih tetap tinggal di desa bersama nenek nya. Suasana desa yang hangat karena keramah tamahan warga nya membuat Leon betah berlama lama di sana. Ia mengabaikan orang tua nya yang meminta nya untuk pulang dan membantu ayah nya mengurusi perusahaan.
Sedang di tempat lain, Echi yang bersifat introvert kesusahan mencari teman. Di tambah lagi banyak teman masa kecil nya yang sudah bekerja maupun sedang kuliah di kota lain dan mencoba peruntungan mereka di perantauan.
Echi memang lah di lahir kan dan tumbuh di kota z mengingat sang ayah yang selalu kerja berpindah pindah tempat sesuai dengan proyek yang di dapat nya. Sehingga sang ibu yang selalu setia merawat dan mengurusi sang suami pun selalu bersedia mengikuti ke mana suami nya berada. Bahkan ketika anak anak mereka masih kecil dan belum sekolah, mereka selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti ke mana sang ayah mengais rejeki untuk menafkahi mereka.
Namun ketika anak anak nya sudah bersekolah, ibu mengalah untuk membiarkan ayah pergi mengurusi pekerjaan nya seorang diri. Ayah pergi jauh untuk mencari nafkah. Dan sang ibu dengan setia nya selalu menanti kepulangan sang suami yang kadang dua bulan bahkan tiga bulan sekali baru pulang ke rumah demi efektif waktu dan biaya. Itupun paling hanya seminggu berada di rumah untuk kemudian pergi lagi.
Karena sekarang dirasa anak anak nya sudah semakin dewasa, dan sudah bisa mengurusi diri nya sendiri dengan baik, ibu memutuskan untuk kembali mengikuti sang suami dan hanya membawa anak nya yang paling kecil, seorang anak lelaki yang sekarang sedang duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Maka di sinilah Echi, di sebuah desa yang berjarak lumayan jauh dari kota z. Ia memilih ikut dengan orang tua nya setelah mengalami pergulatan bathin yang panjang.
__ADS_1
flash back on..
Kala itu setelah hampir dua minggu bekerja, Echi kembali di landa kebimbangan. Pasal nya sang paman yang bekerja sebagai TKI di negeri tetangga sedang mendapat amanat dari ketua divisi nya untuk mencari dua orang wanita untuk bekerja sebagai asisten dokter di klinik perusahaan.
Paman nya juga menjanjikan pekerjaan tersebut dengan gaji yang lumayan besar jika di rupiahkan. Dengan gaji yang di tawarkan, Echi bisa menabung untuk dapat melanjutkan kuliah seperti yang di impikan nya.
Tapi di lain sisi, kedua orang tua nya meminta ia untuk ke kota z. Tentu ia bahagia dapat berkumpul dengan ayah dan ibu serta adik yang selalu di asuh nya sedak bayi.
Setelah menimbang cukup lama, Echi pun akhir nya meninggalkan impian nya untuk bisa kuliah dan memiliki pekerjaan dengan gaji yang layak. Ia pergi ke kota z menemui kedua orang tua nya.
Di kota z Echi di tugaskan menjaga adik nya. sedang sang ibu dan ayah bekerja. Pekerjaan yang membuat orang tua nya berpindah tempat itu membuat ia mengalah, setelah semua planning yang ia susun dengan apik nya harus buyar meninggalkan pening di kepalanya.
flash back off
Hidup kadang memang tak adil saat apa yang kita ingin kan tidak bisa terwujud untuk menjadi nyata. Itulah yang di alami Echi. Meski tidak bekerja di kantor yang besar, ia bercita cita untuk memilki pekerjaan yang sesuai dengan bidang nya saat di bangku SMK, sebagai siswa akuntansi.
Ia ingin menjajal sejauh mana ilmu yang telah dia dapat semasa sekolah. Bagaimana repot nya saat mengalami secara langsung mengurusi lembar demi lembar data laporan yang harus ia susun di tempat nya bekerja. Namun impian nya pupus sudah.
__ADS_1
Echi tak sedikit pun merasa kesal atau menyesal atas jalan hidup nya. Ia yakin bahwa ia akan mendapatkan hal yang terbaik dalam hidup nya pada suatu saat nanti. Karena Allah akan memnberikan apa yang ia perlukan, bukan apa yang ia inginkan. Karena belum tentu apa yang ia ingin kan akan membawa dampak baik bagj nya. Dan belum tentu juga apa yang ia dapat kan adalah suatu keburukan meski pun itu hal buruk sekali pun. Echi selalu mencoba untuk berbaik sangka pada ke agungan yang maha kuasa.
Sementara di tempat lain, Leon sedang termenung sambil menatap benda yang sedari tadi di genggam nya.
"KTp milik siapa itu?" tanya Ario yang kedatangan nya tak di ketahui oleh Leon. Hal itu tentu membuat Leon berjingkat karena saking kaget nya dan ia pun menjatuhkan benda dalam genggaman nya ke lantai.
"Ah, aku rasa kau sedang jatuh cinta. Akui saja, jangan menyangkal persaan mu sendiri Leon." ucap Ario kemudian setelah melihat pada KTP yang baru saja di jatuhkan ke lantai oleh Leon.
"Jaga bicara mu. Aku bukan diri mu, yang dengan mudah nya dapat jatuh cinta pada wanita." sanggah Leon dengan cepat.
"Lalu untuk apa kau memandangi KTP ini?" selidik Ario
"Eits, tunggu. Harusnya aku bertanya, dari mana kau dapat kan ini?" tanya Ario lagi dengan penuh selidik.
"Wanita itu menjatuhkan nya saat hendak membayar martabak saat itu. Karena sudah ku bayar lebih dulu, ia segera mengembalikan uang nya ke dalam dompet. Namun karena buru buru entah bagaimana KTP nya terjatuh. Mungkin dia sendiri tidak menyadari nya. Untung nya aku yang menemukan nya. Kalau orang lain yang menemukan nya, mungkin benda ini sudah di buang." jelas Leon
"Lalu sekarang mau kau apakan? Mau kau pandangi sepuas mu?" tanya Ario lagi
__ADS_1
"Aku sedang memikirkan cara mengembalikan nya. Tapi... Entah lah, terlalu banyak planning membuat pening." ujar Leon sambil mengacak rambut nya