
Hampir dua minggu sudah Echi di asrama tempat kakak nya mengajar. Kakak nya yang bernama Fira mengajar di sebuah desa yang letaknya jauh dari kota.
Suasana di desa masih sangat asri. Penduduk nya juga terkenal dengan keramahan nya.
Sebagian besar masyarakat desa masih mengandalkan penghasilan dari bertani.
Banyak para ibu ibu, wanita dari yang masih muda bahkan sudah lanjut usia masih semangat menanam padi dengan cara yang terbilang masih sangat tradisional. Sedangkan para pria bekerja di kebun, seperti kebun karet, kebun kopi, kebun rambutan, bahkan banyak pula kebun petai.
Selama kakak nya mengajar sebagai guru honorer, yang menghabiskan setengah hari di sekolah dasar yang terletak di seberang jalan depan rumah dinas nya Echi hanya mengerjakan pekerjaan seperti menyapu, mengepel, masak, cuci piring, cuci baju, dan semua rutinitas layak nya asisten rumah tangga yang terkadang membuat diri nya jenuh.
Fira, selain mengajar ia juga sangat kreatif. Banyak sampah dari limbah rumah tangga di sulap nya menjadi hiasan seperti bunga, tempat tisu, vas bunga, dan masih banyak lagi.
Setiap sore tepat nya setelah ashar, Fira and the gang akan menjalankan aktivitas mengolah limbah. Echi yang memang kurang terampil mencoba untuk membantu sang kakak menyiapkan bahan untuk di jadikan sebagai suatu barang yang bermanfaat.
Tampak beberapa anak murid Fira turut serta menggunting baju baju yang sudah tak terpakai membentuk lingkaran lingkaran kecil.
Ada juga yang tampak sedang menjahit sisian kain berbentuk ingkaran kecil tersebut. Kemudian di tarik nya benang tersebut, dan di kuncinya di bagian tengah, hingga kain tadi terbentuk tampak seperti sebuah bunga kecil.
Diperhatikan nya oleh Echi setumpuk demi setumpuk bahan yang sudah siap untuk di proses ke tahapan berikut nya. Ia mencoba membuat sebuah tempat tisu dari semua bahan yang ada.
Namun setelah beberapa kali mencoba, tetap saja pada akhir nya ia serahkan pekerjaan nya tersebut ke tangan kakak nya.
"Nih kak. Aku tuh emang kaku banget paling ya, tangan nya sampe ke jari jari nya. Masa yg beginian aja aku gak bisa bikin sih?" ucap Echi kesal sambil sedikit membanting tempat tisu yang belum sepenuh nya jadi karena bentuk nya yang tampak tid\k seperti kotak tempat tisu.
"Yah jangan ngambek gitu dong. Kamu itu hanya perlu banyak berlatih aja. Lama lama juga bakal bisa bikin yang bagus." ucap fira menyemangati adik nya
"Tau ah, aku tuh bosen kak. Gak ada kegiatan gini. Aku mau pulang aja ke rumah nenek" keluh Echi
"Tapi kan ayah sam ibu gak ada, mendingan di sini aja lah. Temanin kakak ya." bujuk Fira
__ADS_1
"Tapi aku beneran bosen kak. Aku juga gak punya temen di sini." jawab Echi
"Makanya, sesekali keluar rumah. Biar bisa ketemu sama orang."
"Yah kak. Kakak tau sendiri kan kalo aku itu orang nya kaku. Aneh banget rasa nya kalo tiba tiba ngajak ngobrol orang yang belum aku kenal. Lagian juga kalo aku di rumah nenek nanti nya aku mau cari cari kerja kak. Lumayan, mana tau bisa nabung biar tahun depan bisa kuliah." keluh Echi penuh harap.
"Emang mau kerja apa kamu?" tanya Fira
"Ya belum tau. Tapi nanti aku coba buat ngelamar dulu entah di kafe, atau di mana aja lah. Yang penting bisa dapet rejeki yang halal." jelas Echi
"Ya terserah kamu deh kalo gitu. Yang penting inget waktu sholat. Jangan sampai gara gara kerja, solat kamu jadi lalai. Gak bakal berkah duit gaji mu." nasihat Fira dengan tegas
"Oh, siap bu ustadzah.. Urusan solat akan di nomer satukan." sahut Echi sambil tertawa karena bahagia bisa mendapat izin untuk mencari kerja yang layak sesuai kemampuan nya dengan lulusan SMK yang di miliki nya.
***
Siang itu cuaca sangat panas. Wajah Echi sudah tampak lesu dengan di penuhi keringat yang bercucuran di wajah sendu nya.
Namun usaha nya masih belum jua mendapatkan hasil hingga akhirnya ia memutuskan untuk istirahat dan shoat zuhur terlebih dahulu sebelum akhir nya ia mencari makan untuk mengisi ulang energi nya.
***
Di warung makan.
"Eh, kayak nya itu anak baru deh. Aku baru liat."
"Emang kerja di mana ya dia?"
"Samperin yuk."
__ADS_1
"Ayok. Kita interogasi dulu dia. Biar kenal sama senior pasar induk"
Mereka tertawa sambil menghampiri Echi.
"Hai, kenalin gue Darti."
"Hai, gue Meta. Kita berdua kerja di kedai kopi di simpang tiga situ." tunjuk nya sambil mengenalkan diri
"Lo kerja di toko mana?" tanya gadis yang mengenalkan diri nya dengan nama Darti.
Echi menggelengkan kepalanya pelan dan menelan nasi kunyahan terakhir nya.
"Aku masih nyari kerja. Ternyata susah ya, semua toko yang ku hampiri tidak menerima karyawan baru lagi." ucap nya lirih.
"Kalo gitu lo ikut kita aja. Kebetulan toko sebelah lagi butuh karyawan cewek. Cuma lo kudu kuat kuat mental. Tu nyonya toko sebelah terkenal galak sama karyawan nya. Yakin lo bakal kuat ngadepin nya?"
Echi mengangguk dengan penuh keyakinan dan tersenyum manis seakan meyakinkan bahwa hal itu bukanlah masalah baginya.
"Aku akan mencoba nya."
***
Setelah di kenalkan kepada pemilik toko, Echi dipersilakan untuk langsung bekerja meski hanya terhitung setengah hari.
Echi merasa sangat senang, begitu pun sang pemilik toko. Ia puas dengan cara kerja Echi dalam menghadapi dan meyakinkan pelanggan untuk membeli barang barang dagangan nya.
Sekarang sudah jam lima sore. Tampak karyawan lain di toko tempat Echi bekerja, seorang karyawan pria sedang merapikan barang barang yang semula di pajang di depan toko untuk di masukkan ke dalam. Dan pintu toko pun di tutup dengan rapat untuk kemudian di gembok.
Sementara Echi sedang berada di ruang tuan pemilik toko. Ternyata ia sedang di panggil untuk menerima gaji hari ini. Meski hanya setengah hari, tapi ia mendapat uang sejumlah tiga puluh ribu, sedang untuk ke depan nya Echi akan menerima gaji per bulan sejumlah lima ratus ribu, dan akan bertambah sesuai kinerja nya pada toki tersebut.
__ADS_1
Meski jumlah gaji nya tidak sebesar UMR, tapi Echi tetap bersyukur. Ia yakin suatu saat nanti ia akan mendapat gaji yang lebih layak dengan usaha dan kerja keras nya. Sesuai dengan apa yang di janjikan oleh tuan pemilik toko tempat ia bekerja.