Butiran Debu

Butiran Debu
meriang


__ADS_3

Setiap peraturan di buat untuk di patuhi. Tapi sebagian mengatakan bahwa peraturan itu di buat untuk di langgar. Ya. Setiap orang memiliki jalan pilihan nya masing masing.


Seperti hal nya Echi saat ini. Ia tahu, bahwa berhunungan badan dengan laki - laki sebelum mereka menikah adalah hal yang tidak di perbolehkan. Bahkan di haramkan dalam peraturan agama. Ia adalah perempuan yang taat pada agama. Selalu melaksanakan sholat lima waktu meski pun kadang agak molor dari waktu setelah suara adzan berkumandang. Ia juga merupakan perempuan yang selalu menghadiri majlis ta'lim yang tentunya selalu membahas mengenai kehidupan sebagai muslim. Apa saja larangan dan perintah bagi seorang muslim ia mengetahui nya.


Namun semua ilmu dan pemahaman agama se akan tumpul saat ia bertemu dengan sang kekasih. Tetap saja ia tak dapat mengendalikan nafsu nya.


Biar bagaimana pun ia hanyalah seorang manusia biasa. Yang tak pernah luput dari salah dan dosa.


Setelah melakukan hubungan intim yang seakan menjadi candu bagi dirinya. Menuntut untuk kembali mengulang dan terus mengulang kenikmatan duniawi. Tanpa ia sadari dampak nya terhadap diri nya dan masyarakat. Echi semakin menggila. Nafsu semakin merasuki nya. Bahkan ia kini berani meminta dan memulai pada Geraldi untuk melakukan hubungan itu lagi.

__ADS_1


"Yang, kamu gak ngerasa ada yang aneh sama diri kamu?" Tanya Geraldi yang mendapati perubahan pada fisik Echi.


"Apa? Aku ngerasa masih kayak biasa nya sih. Gak ada yg beda". Jawab Echi tanpaenaruh curiga.


"Aku ngerasa sekarang perut kamu makin berisi deh." ucap Geraldi sambil memandangi perut rata Echi, seakan berharap ada sesuatu yang akan membuat perut itu semakin tampak ke permukaan.


"Jangan kayak gitu ah, ngeliatin nya. Emang sekarang aku suka laper, jadi sering kebangun buat makan tengah malem. Emang nya keliatan membuncit ya, perut aku sekarang?" Echi memperhatikan perut nya dan menutupi nya dengan kedua telapak tangan nya berusaha mendapati perbedaan pada ukuran perut nya.


"Udah, jangan di liatin terus. Kamu kalo bertingkah aneh gitu nanti ada yang curiga loh." ucap Geraldi yang kemudian beranjak dari duduk nya.

__ADS_1


Setelah perbincangan mereka beberapa hari lalu di teras rumah Echi, Echi menyadari bahwa memang perut nya mulai membuncit walau kini selera makan nya semakin menurun. Bahkan ia sering melewati jam makan rutin nya. Hingga membuat ia jatuh sakit.


"Echi, ibu perhatikan dari kemarin kamu kayak yang males malesan buat makan. Kalo gitu terus, nanti kamu bisa sakit. Apa lagi kamu sering begadang bantuin ibu bikin kue." ucap ibu yang menglhawatirkan keadaan anak nya, apa lagi wajah Echi tampak lebih pucat.


"Iya buk. Gak tau kenapa aku gak ada selera makan. Apa lagi lambung aku sering perih. Jadi kalo di isi nasi rasanya kayak mau muntah gitu." keluh Echi pada sang ibu.


"Mendingan kamu sekarang istirahat dulu. Mungkin kamu kelelahan. Kalo emang gak bisa makan nasi, kamu bisa ngemil roti atau makan makanan berat lain yang gak bikin mual." ucap ibu memberi saran."


"Ya udah bu. Aku ke kamar dulu buat istirahat." ucap Echi kemudian berlalu meninggalkan ibu nya yang sedang berada di dalam ruang produksi, membuat kue kie pesanan langganan nya.

__ADS_1


Semakin hari, kondisi Echi semakin lemah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring di kamar nya. Tubuh nya menggigil. Wajah nya semakin pucat. Namun tak ada makanan yang sanggup ia telan hingga ia kesulitan untuk meminum obat dari dokter hingga ia tak kunjung sembuh dari rasa meriang yang di derita nya.


__ADS_2