
"Lalu sekarang mau kau apakan KTP itu? Mau kau pandangi sepuas mu?" tanya Ario lagi
"Aku sedang memikirkan cara mengembalikan nya. Tapi... Entah lah, terlalu banyak planning membuat pening." ujar Leon sambil mengacak rambut nya hingga tampak sangat berantakan.
"Ya sudah, besok kita berangkat ke kota San saja, mengikuti perintah papah boss." saran Ario yang tak mendapat respon dari Leon.
"Kasihan papah, di usia yang sudah tidak muda lagi masih harus pergi pergi mengurusi perusahaan. Sudah saat nya kita turun tangan untuk membantu." Lanjut Ario dan masih belum jua di respon oleh Leon.
"Lagi pula dari kota San lebih dekat untuk menuju desa tempat tinggal Echi." ucap nya lagi berharap Leon akan memberi tanggapan.
"Bukan nya Echi berada di kota z ya.? tanya Leon. Artinya pancingan Ario berhasil membuat Leon merespon
"Ya, dari kota San lebih dekat menuju ke desa Echi yang letak nya berada sangat jauh dari kota z. Tapi desa pelangi masih masuk wilayah kota z." jawab Ario menjelaskan.
"Memang tau dari mana kamu?" Tanya Leon yang masih tak percaya
"Sebulan yang lalu aku ke kota San, papa mu memanggil ku karena sedang butuh bantuan. Aku sempat jalan jalan ke desa Pelangi. Karena memang di sana tempat nya asyik, bisa di bilang unik sih. Banyak keberagaman budaya Indonesia karena di sana banyak pendatang antara lain dari Jawa, dari Lombok, dan wilayah lain nya. Mereka masih tetap membawa kebudayaan mereka di desa pelangi. Gue rasa di situ sih letak ke unikan nya. Tapi mereka tetap bisa saling rukun dan menghargai antara satu suku dengan suku lain nya."
"Ya, seperti nya kau berhasil membujuk ku untuk ikut serta dalam mengelola perusahaan papa." Leon mengomentari ucapan Aria sambil manggut manggut.
"Bagus lah kalau begitu. Pasti papa akan sangat senang saat tahu bahwa anak nya sekarang sudah mulai berubah." puji Ario atas keputusan Leon. Meskipun sebenar nya ia tahu alasan Leon mau ikut ke kota San sebenarnya karena Echi
__ADS_1
Setelah perbincangan mereka tadi Leon tampak sedang semangat untuk menjalan kan misi nya. Ia tak mau bekerja setengah setengah. Maka sekarang dia sedang membaca beberapa berkas mengenai data data perusahaan sang papa yang sedang mengalami guncangan sehingga perlu penanganan khusus untuk membuat produktifitas perusahaan nya kembali normal seperti sedia kala.
Pukul empat tiga puluh dini hari
Dua orang pria itu sekarang sudah menjejakkan kaki nya di kota San setelah melewati perjalanan udara yang sempat delay beberapa jam karena cuaca buruk.
Tampak Leon dan Ario masih sangat mengantuk karena suhu dini hari yang dingin di tambah rintik rintik hujan yang membuat udara terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.
Setelah lima belas menit menunggu jemputan, mereka pun di hampiri oleh seorang pemuda yang kemudian membawa mereka. Tiga puluh menit perjalanan, mereka akhir nya tiba di perumahan utama milik perusahaan Nuansa Citra.
"Kita sudah sampai. Rumah ini sudah di siapkan oleh tuan untuk tuan muda. Di dalam ada tiga kamar, silakan pilih kamar yang akan di tempati. Nanti pagi akan ada seorang ibu yang menjadi asisten rumah tangga yang akan menyiapkan makanan dan membersihkan rumah ini. Jika ada yang di perlukan tuan bisa menghubungi saya, saya menempati rumah di sebelah kanan rumah ini." ucap Aji yang tadi di tugaskan menjemput Leon dan juga Ario.
Mereka masuk ke dalam rumah dan memeriksa ruangan yang ada. Rumah satu lantai itu memiliki tiga kamar, yang dua di antara nya berjejer, sedang yang satunya berada dekat dengan dapur. Dapur nya tampak tidak terlalu luas, namun tetap nyaman. Ada meja makan dan empat buah kursi di tengah dapur tersebut. Tampak pula rak piring yang di penuhi perabotan dapur berjejer di sebelah kompor dan tempat cuci piring. Di ruang tami terdapat sofa. Rumah yang simpel dengan gaya modern tersebut tampak sangat nyaman.
Mata yang memang masih sangat mengantuk di tambah rasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh membuat mereka tidur dengan pulas nya seketika setelah merebahkan tubuh di kasur masing masing.
Saat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit, merek pun terbangun ketika mendengar suara klakson mobil di halaman rumah.
"Siapa sih yang mainan klakson. Berisik banget, ganggu waktu istirahat aja." ucap Leon sambil berlalu melewati kamar Ario
"Siapa?" tanya Ario sambik melemparkan pandangan ke arah Leon
__ADS_1
"Gak tahu. Ini gue mau keluar buat nengok tuh orang" jawab Leon sambil menunjuk ke arah pintu.
Namun mereka sangat terkejut ketika melihat pintu terbuka dan menampilkan orang di sebalik pintu tersebut.
"Papa." ucap mereka secara bersamaan. Yang tak menyangka bahwa sang papa akan berkunjung ke tempat kediaman mereka.
"Maaf kalau kedatangan papa mengagetkan kalian." ucap sang papa seraya melangkah kan kaki nya masuk ke dalam rumah teraebut.
"Aji, serahkan dokumen yang harus mereka pelajari." ucap Pranata Al Leon, papa dari Geraldi Leon kepada orang yang tadi menjemput mereka di bandara. Yang ternyata pemuda yang seumuran nya itu merupakan salah satu orang kepercayaan sang papa
Aji menyerahkan dokumen tersebut.
"Pelajari dokumen itu, telusuri di mana letak kesalahan nya." ucap sang papa kemudian.
"Baik pa, kita akan mempelajari nya. Dan kami akan memantau kegiatan di lapangan untuk menyesuaikan dengan data yang ada." jawab Leon dengan mantap.
"Papa tidak butuh janji. Buktikan lah dengan aksi." jawab papa singkat
"Ah, satu lagi. Tolong jangan terlalu mencolok, dan gunakan nama 'Geraldi' saja. Okee, Ario?" ucap sang papa sambil mengarahkan pandangan tegas nya ke arah Ario. Tanda memerintahkan Ario untuk memanggil anak nya dengan nama Geraldi, bukan nama Leon karena merupakan nama keluarga besar.
Setelah pertemuan pada hari itu, Leon yang sekarang di panggil dengan nama Geraldi serta Ario melakukan apa yang sudah di janjikan nya. Mereka bergelut di perusahaan sang papa dan menghabiskan hari hari dengan semua kesibukan nya di perusahaan.
__ADS_1
Ario yang merupakan sepupu dari Geraldi pun menunjukkan semangat yang sama untuk dapat menstabilkan keadaan perusahaan sang paman. Ia yang memang sudah akrab dengan Geraldi sedari kecil selalu menjadi bayangan dari seorang Geraldi Leon. Tanpa pernah mengeluh, dan ia juga tak pernah mengharapkan apa pun atas semua itu.
Hingga tak terasa telah sebulan berlalu dengan kesibukan di perusahaan. Geraldi sejenak melupakan tujuan utama nya ke kota San, yaitu agar dapat menemui Echi yang sekarang berada di desa Pelangi.