
Selama di sibukkan dengan pekerjaan di kantor milik papa nya, Geraldi hanya fokus bekerja dan terus bekerja. Hingga pada malam hari nya ia akan tertidur dengan sangat pulas akibat lelah yang di rasa. Dan ia akan terbangun setelah matahari menyapa di pagi hari nya. Untuk kemudian ia bekerja dan terus bekerja lagi.
Geraldi Leon memanglah seorang pria yang bertanggung jawab atas semua tindakan nya. Ia selalu fokus terhadap apa yang ia kerjakan. Dan mengenyampingkan urusan pribadinya.
Sehingga selama ia bekerja ia tak pernah memikirkan sedikit pun mengenai Echi. Hingga pada akhirnya tanpa dia sadari, perjalanan nya ke desa pelangi akan menuntun nya pada pertemuan dengan Echi.
Geraldi sama sekali rak merencanakan untuk menemui wanita yang akhir akhir ini selalu ada dalam pikiran nya sebelum akhirnya ia di sibukkan untuk fokus pada pekerjaan di perusahaan milik sang papa.
Takdir punya rencananya sendiri untuk mempertemukan setiap mahluk yang ada di muka bumi meskipun terpisahkan jarak yang sangat jauh sekali pun.
Karena Ario yang terus merengek untuk mencari suasana baru dari rasa jenuh yang melanda. Geraldi akhirnya mengiyakan ajakan Aji untuk ke desa Pelangi dan berkunjung ke kafe tempat anak muda di sana berkumpul, ternyata membawa ia menemui gadis yang telah mengusik hati nya selama ini.
Mereka pun pergi ke kafe pelangi, Aji berboncengan dengan Ario, dan Geraldi mengendarai motor bebek milik ayah Aji.
Geraldi sempat terdiam saat menatap siapa yang ada di kafe tersebut.
"Echi." gumam Geraldi pelan hingga tak terdengar dalam suasana kafe yang ramai pada malam minggu.
"Mau pesen apa?" Aji membuyarkan fokus Geraldi yang tertuju pada Echi dan ia pun memilih untuk memesan kopi hitam saja untuk menghangatkan dirinya karena suhu dingin yang melanda akibat lebatnya hujan yang mengguyur desa pada waktu isya tadi.
"Gue pesen kopi creamy latte aja. Kalo ngafe minumnya kopi item ntar brasa kayak bapak bapak aja gue." Ario meledek Geraldi sambil merangkulkan tangan ke pundak teman nya itu. Sementara Aji menuju ke arah Echi untuk memesan minuman nya
__ADS_1
Setelah mendaptkan pesanan nya, mereka asyik berkenalan dan mengobrol satu sama lain.
Aji yang punya hobi main gitar pun mulai memetikkan jemari nya pada senar gitar dan terdengarlah irama yang merdu.
Tampak beberapa muda mudi menikmati lantunan gitar sambil ikut bernyanyi mengiringi irama dentingan sang gitaris.
Geraldi akhirnya memilih untuk duduk di kursi pojok dekat pintu masuk kafe. Bukannya ia tak ingin bergabung dengan teman barunya, hanya saja saat ini ia sedang memikirkan cara untuk bisa berbicara dengan Echi.
Melihat Echi yang sedang sibuk melayani pengunjung kafe, Geraldi hanya bisa pasrah dan memilih untuk memainkan ponsel nya. Ia buka akun media sosialnya, namun tak ada yang menarik. Ia pun berakhir dengan bermain game di ponselnya.
Merasa ada yang tidak nyaman pada dirinya, Geraldi pun pergi ke toilet untuk buang air kecil. Namun setelah ia keluar dari toilet, ia tak menemukan keberadaan Aji dan Ario di kafe tersebut. Geraldi pun bertanya pada beberapa pengunjung lain nya yang ada di sana dan mendapat jawaban bahwa ia sudah di tinggal oleh ke dua temannya tersebut.
"Eh, emang dasar kambing tu anak dua ya. Seenak nya aja ninggalin gue." Teriakan Geraldi pun memecah suasana di dalam kafe
"Sial, pasti tadi si Ario ngambilnya pas merangkul pundak gue. Emang bakat nyopet tu anak. Arghhh, lagian pada ke mana sih" geram Geraldi sambil melangkah masuk ke dalam kafe yang sudah tak tampak satu pun lagi pengunjung di sana.
"Eh, kok udah gak ada orang sih?" Geraldi heran saat menyadari keadaan kafe yang sudah kosong.
"Baru juga jam sembilan lewat dikit, masa udah pada balik sih mereka semua? Terus gue gimana dong. Masa harus pulang jalan kaki ke rumah Aji. Deket sih. Tapikan jalan nya nanjak. Awas aja mereka kalo sampe gak pada nongol." Geraldi terus bergumam dan tanpa ia sadari Echi sedari tadi berkemas sambil memperhatikan nya
"Eh, ada siapa itu chi." Kehadiran sang Ibu yang tiba tiba membuat Echi terkejut.
__ADS_1
"Ibu. Bikin kaget aja sih. Gak tau siapa." jawab Echi sambil mengelap meja kafe nya
"Kok gitu jawab nya. Di tanya dong, dia itu siapa. Samperin sana. Ajak ngobrol, kasihan dia sendirian. Mana kopinya juga udah abis lagi tu." Tunjuk ibu dengan memperhatikan Geraldi yang duduk di pojokan.
"Males ah bu. Masih ada kerjaan lain aku nya." jawab Echi sambil merapikan kursi yang berantakan
"Ih, kok kamu gak sopan gitu sama pengunjung kafe sendiri. Nanti pengunjung kafe jadi kapok dateng ke sini kalo kamu ngelayanin nya judes gitu." Ibu mulai ceramah
"Ibu tumben masuk kafe. Mau apa?" Echi mengalihkan pembicaraan dengan ibu nya
"Ini tadi ibu kepengen ngemil. Sekalian nyicipin kue chese cake yang kamu bikin tadi sore. Lagian kamu gak nyisain buat cemilan di rumah malah di bawa ke sini semua. Ibu juga kan pengen. Masih ada gak." Ibu mulai teralihkan perhatian nya.
"Ada. Tadi Echi taroh di meja depan biar yang masuk langsung pada liat ada kue chese cake di sana. Masih sisa lima lagi. Ibu bawa aja semua ke dalem. Besok Echi bikin lagi. Kayak nya pada suka." Echi menyerahkan kue pada sang ibu berharap ibu lekas masuk kembali ke dalam rumah.
Namun sang ibu malah duduk di kursi yang menghadap ke arah geraldi dan mengobrol. berdua sedang Echi hanya memperhatikan pembicaraan mereka.
"Maafin anak ibu ini ya. Padahal ibu selalu mengajari Echi untuk bersikap sopan pada siapa saja. Tapi sepertinya dia perlu di kasih contoh gimana caranya untuk sekedar mengobrol dengan kamu, Geraldi. Ya sudah ibu masuk dulu mau istirahat. Kalian ngobrollah dulu sambil nunggu teman mu di sini." ucap Ibu kepada Geraldi dan di angguki oleh pria muda itu.
"Ekkhhem. Emang nya anak anak muda di desa sini kalo malem pada ngumpul di kafe ini dan pulang jam sembilanan ya." tanya Geraldi memecah keheningan.
"Gak juga." Echi fokus menatap layar ponsel nya
__ADS_1
"Sekarang pada ke mana sih mereka?" tanya Geraldi lagi.
"Gak tau." lagi lagi Echi masih menatap ponsel nya membuat Geraldi geram karena di cuekin