
Meskipun sang anak tak pernah menceritakan perihal pribadinya, namun perasaan sang ibu sangat peka dengan apa yang terlihat di sekeliling anaknya.
Sore itu Echi sedang mencuci piring yang tampak menumpuk. Ibu menghampiri untuk membantu anak gadisnya yang satu itu. "Kasihan kamu nak, gak punya banyak teman. Teman teman masa kecil kamu pada merantau di kota lain untuk kerja dan kuliah. Harusnya kamu itu ngikutin jejak adik kamu Cantika yang selalu ceria. Jadi di senangi banyak orang dan punya banyak teman." Ibu mulai mengajak anak nya mengobrol sambil membilas peralatan makan yang sudah di sabuni oleh Echi.
"Buat apa bu banyak teman? Biar bisa keluyuran terus kayak anak cantik itu?" tanya Echi ketus tanda tak suka di bandingkan dengan adiknya.
"Setidaknya dia menikmati masa mudanya. Bukannya malah berdiam diri terus di rumah. Sesekali kamu itu harus keluar. Biar tau seberapa indahnya warna warni dan suasana di luar." jawab sang ibu
"Aku nyaman sama semua ini. Aku malas harus keluar dari zona nyaman apalagi kalo ampe harus di bandingin sama Cantika. Malas." Ucapan Echi membuat sang ibu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Tapi kalo di lihat lihat kayak nya kamu lagi di dekatin sama tiga cowok nih. Ibu sering merhatikan kalo lagi di kafe." Sontak ucapan sang ibu menarik perhatian Echi untuk mengetahui sejauh mana ibunya memperhatikan kisah cintanya.
"Maksud ibu gimana? Echi gak ngerti deh."
"Ibu sering merhatiin kalo antara Aji, Anto dan Geraldi itu sering liatin kamu sampe gak kedip gitu. Kayaknya mereka suka sama kamu deh."
"Ah, ibu jangan ngaco deh."
"Ia, ibu tahu kalo dari tatapan mata mereka itu kayaknya ada hati sama kamu. Ibu juga dulu pernah muda. Ibu bisa liat mana tatapan yang mendamba, dan mana tatapan yang biasa biasa saja. Kalo kamu harus milih, kira kira kamu mau pilih siapa?"
__ADS_1
"Emangnya pemilu apa pake acara pemilihan segala. Lagian Echi gak mau nanti jadinya ngarep bu. Echi gak mau terjebak sama perasaan Echi sendiri kalo nantinya mencintai tapi tidak bisa memiliki."
"Ibu yakin mereka itu orang baik. Anto sama Aji itu teman kamu waktu kalian masih Tk. Ibu tahu seperti apa sifat mereka. Sedangkan Geraldi, meski ibu gak kenal banget sama dia, ibu tahu dia itu anak baik. Dia anaknya ramah, sopan sama orang tua, dan ringan tangan. Ibu sering liat dia bantuin bawa sayuran hasil panen emak Atun ke warungnya buk Mar. Katanya kasian liat emak dorong gerobak sayur sendirian."
"Tapi Echi heran sama Geraldi, dia emangnya gak kerja. Tiap hari Echi liat dia keluyuran terus."
"Emangnya kamu gak tau kalo Geraldi itu lagi ada proyek untuk menjadikan desa kita ini sebagai tempat wisata edukasi. Dia membantu warga yang bertani bagaimana cara bercocok tanam yang baik agar bisa meningkatkan hasil produksi sayuran petani. Dia juga lagi menggarap lahan desa menjadi kebun yang ditanami banyak pohon buah buahan. Kalo udah panen nanti kebun buah buahan itu di buka untuk lahan wisata. Kita bisa manen buah buahan deh sambil keliling keliling d kebun itu. Ibu jadi semakin yakin kalo Geraldi itu adalah anak yang baik, rajin, tekun bekerja, terus bertanggung jawab lagi." ucap ibu panjang lebar dan Echi hanya diam dalam lamunannya. Ia takut kalo sang ibu sampai tahu akan hubungan barunya dengan Geraldi sebagai kekasih.
"Jadi kamu maunya sama siapa? Jangan terlalu memberi harapan sama mereka semua kalo gak mau sampai terluka. Sebaiknya kamu lekas punya pacar. Cantika aja yang belum lama di sini udah punya pacar. Padahal kamu juga banyak yang naksir." ibu segera beralih pada peralatan masak setelah selesai mencuci piring.
__ADS_1
Setelah menanggapi omongan ibunya dengan singkat, Echi masih terus teringat akan perkataan ibunya tentang Geraldi. Ia akhirnya bertekad untuk tetap menjalani hubungannya dengan Geraldi. Karena pendapat baik tentang Geraldi yang di sampaikan sang ibu seakan memberi restu untuk hubungan mereka.