
drrtt.... drrrttt... drrrtt
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika handphon milik Geraldi bergetar. Echi sempat melirik sebentar pada hp yang terus bergetar tanda panggilan masuk yang terus menggelepar minta segera di angkat. Tertera nama Sezi di layar yg menyala menampilkan foto seorang gadis cantik.
"Siapa ya? Kok aku ngerasa gak pernah lihat wajahnya?" Echi bergumam sambil memandangi foto yang tampil di layar hp kemudian beralih pada pintu kamarnya sambil menimbang akan mengangkat panggilan itu atau menunggu sang suami masuk kembali ke dalam kamar setelah sebelumnya mengatakan bahwa dirinya sedang haus.
"Halo." Tak ada sahutan dari seberang setelah Echi menggeser layar ponsel ke warna hijau.
"Loh, ternyata udah keburu mati ya, panggilan nya." Echi bergumam sendiri saat mendapati layar ponsel di genggaman nya sudah mati dalam keadaan terkunci.
Penasaran dengan sang penelpon, Echi membuka aplikasi berbalas pesan di ponsel suaminya yang tak pernah menggunakan kode sandi hingga ia bisa mengekslpor isi hp tersebut dengan mudahnya.
*Hai sayang
Masih ingat aku?
Aku rindu sama kamu. Kamu di mana?
__ADS_1
Bisa kita ketemuan gak?
Kamu gak kangen sama aku ya. Padahal aku kangen banget ke kamu
Sayang,, ini aku Sezi. Bales dong, chat aku. Atau kamu masih marah ya, karena aku pergi ke Singapor nya gak bilang dulu ke kamu*
Sesak. Itulah yang di rasakan oleh Echi saat membaca rentetan pesan dari gadis yg mengaku bernama Sezi yang terindikasi punya hubungan khusus di masa lalu dengan sang suami. Memang tak ada balasan yang di kirimkan oleh Geraldi, namun pada pemberitahuan terakhir ada pemberitahuan bahwa mereka melakukan panggilan telepon.
"Lebih baik aku tanyakan langsung saja, agar lebih jelas daripada aku lelah dengan pemikiran ku sendiri." Echi mencoba berpikiran positif sambil menggenggam hp hingga terlelap dengan posisi setengah terbaring di mana kaki nya masih menjuntai ke lantai sedangkan tubuhnya berbaring di kasur.
Setelah minum beberapa teguk air dingin di dapur, Geraldi tak langsung masuk ke kamar nya. Ia malah pergi ke ruang tengah dan menyalakan televisi karena dirasa matanya belum megantuk. Setelah bosan memindah siaran televisi ia merasa tak ada satupun yang cocok untuk dilihat akhirnya Geraldi mematikan televisi dan beranjak ke kamarnya.
"Eughmmm", Echi hanya melenguh sambil membuka sedikit matanya dan mendapati sang suami sedang mengangkat tubuhnya agar posisi tidurnya lebih nyaman, kemudian memejamkan matanya kembali. Rasa lelah yang menghantam pikirannya setelah menemui sesuatu pada ponsel sang suami membuat ia tak mampu membuat dirinya tersadar dari rasa kantuk. Bahkan Echi tak menyadari raut wajah Geraldi yang seketika berubah setelah mendapati ponselnya berada di genggaman Echi dg masih menampilkan pesan pesan yang di kirim oleh seseorang yang sangat berarti di masa lalunya. Segera ia mengambil ponsel tersebut lalu mengotak atiknya sebentar sebelum kemudian meletakkannya di sebuah meja yang terletak di pojok kamar dekat ranjang.
Echi mengerjapkan matanya dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ia bergegas turun dari tempat tidur untuk menuntaskan rasa tak nyaman karena ingin buang air kecil untuk kemudian di lanjutkan beraktivitas di dapur seperti biasa. Namun ada perasaan tak nyaman yang mengganggu pikirannya hingga tidak fokus saat memasak. Pasalnya saat bangun dan ingin melihat jam pada ponsel, Echi mendapati ponsel Geraldi sudah terpasang pola sehingga tidak bisa sembarangan untuk membuka ponselnya.
"Aku kira dia akan bicara, dan menjelaskan tentang pesan itu, saat tahu aku membaca pesan nya. tapi kenapa dia malah membuat seolah aku tidak boleh membuka ponselnya?" semakin sedih hati wanita muda yang sedang mengalami masa kehamilan di trimester awal. Namun ia berusaha menghibur hatinya, dengan mendoktrin bahwa kesedihannya dipengaruhi oleh perubahan hormon yang dialami pada ibu hamil.
__ADS_1
Namun ternyata, keadaan rumah tangga yang baru berjalan satu bulan tersebut tak kunjung membaik dan hanya menambah kesedihan di hati Echi saat Geraldi minta ijin untuk pergi ke kota dengan alasan ingin menangani bisnisnya yang sedang ada kendala dan harus segera ditangani olehnya langsung.
Setelah satu minggu kepergian Geraldi, sesuai janjinya seharusnya ia bisa segera pulang menemui Echi. Namun masalah pada bisnisnya masih harus menyita waktunya untuk lebih lama tinggal di kota.
"Yang, aku belum bisa pulang. Aku gak tahu sampe berapa lama di sini. Mungkin bisa sampai satub bulanan, atau bahkan lebih."
Begitulah bunyi panggilan telepon yang di terima Echi. Padahal sebelumnya ia sangat antusias ketika pertama kali menerima panggilan dari sang suami dan menceritakan perkembangan bayi mereka yang sudah bergerak aktif di dalam perutnya dan selalu merespon dengan gerakan saat di ajak berbicara.
"Ya udah, gak apa. Semoga aja semua masalahnya bisa teratasi dengan cepat dan bisnis abang makin sukses. Maaf kalo adek gak bisa bantu banyak buat usaha abang. Adek hanya bisa memberikan dukungan dan mendoakan kelancaran atas usaha yang sudah di bangun dengan susah payah. " sekuat tenaga Echi menahan rasa sesak di dadanya saat mendengar ucapan sang suami. Bahkan Echi berucap sambil sesekali menggigiti bibirnya agar tak keluar suara isak tangisnya.
Hening sesaat, karena Geraldi tahu istrinya pasti sedih karena dia ingkar janji dan belum bisa segera pulang. Meski mereka rutin berkirim pesan bahkan mendengar suara satu sama lain melalui sambungan telepon, namun tak bisa membunuh rasa rindu karena terpisahkan oleh jarak.
"Ya sudah, abang matikan dulu panggilan teleponnya ya, nanti baru abang telpon lagi. Inget, jaga dedek bayinya baik - baik. Bilangin juga ke dedek bayinya, jangan nakal, jangan telat makan dan jangan sedih. love you."
"Siap boss,, dedek bayi nya aman di dalam perut bundanya. Love you too" Suara Echi di buat seceria mungkin padahal dalam hati dan pikiran nya terbayang tentang berbagai kemungkinan yang terjadi.
Bagaimana kalau sebenarnya Geraldi hanya sedang mengulur waktu demi untuk bisa bertemu dengan wanita yang bernama Sezi? Karena sebelum keberangkatan sang suami, Echi sempat membuka ponsel dan membaca pesan mesra sang suami yang menyatakan bahwa Sezi semakin terlihat dewasa dan cantik dg aset kembarnya yang semakin wah, di lihat dari gambar yg di kirim oleh Sezi, dan Sezi mengatakan bahwa dirinya masih sangt mencintai Geraldi dan mereka mengenang semua kisah masa lalu mereka yang sangat manis.
__ADS_1
Jika ada pertanyaan bagaimana Echi bisa membuka ponsel Geraldi? Jawaban nya adalah karena saat mereka masih pacaran dulu Geraldi pernah menjelaskan bahwa dia sangat menyukai suatu pola, dan akan selalu dia gunakan untuk memprivasi ponselnya. Namun sepertinya Geraldi lupa bahwa ia sudah membocorkan rahasianya kepada sang istri hingga tak menyadari bahwa istrinya bisa membuka ponsel meski sudah di buat sangat privasi.
Ya, begitulah kehidupan rumah tangga, selalu ada saja cobaan dan godaan untuk menguji kekuatan cinta pada pasangan hidup yang telah di pilih untuk mengarungi bahtera rumah tangga.