
Malam itu hujan turun tak terlalu deras. Namun cukup untuk membasahi tanah bumi yang kering. Rasa dingin menusuk - nusuk hingga ke dalam tulang. Membuat sebagian orang lebih memilih menikmati waktu di dalam rumah yang menyediakan kehangatan.
Alhasil kafe Echi jadi sepi pengunjung. Namun ia tetap membuka kafe nya, harap - harap ada satu atau dua pengunjung yang mau mampir ke kafenya. Ia harus tetap optimis untuk menjemput rupiah.
Menunggu memanglah hal yang membosankan. Apalagi tidak ada teman ngobrol. Echi pun sedang tidak berkomunikasi dengan Geraldi. Karena posisi kekasihnya yang sedang menyelesaikan urusan pekerjaan di luar kota. Membuat ia enggan untuk memulai obrolan entah itu melalui sambungan telepon atau sekedar mengirim pesan. Ia takut mengganggu. Itu lah alasan nya. Padahal sebenarnya ia sudah tak sabar untuk menceritakan perihal acara puncak dari kegiatan Adiwiyata kemarin. Saat kelompoknya di nyatakan didiskualifikasi.
Jenuh menunggu, Echi lebih memilih memainkan handphone nya. Ia buka buka artikel online di sana. Membaca baca berita yang di suguhkan. Dan fokusnya terhenti saat mendapati berita tentang salah satu juri di acara lomba masak makanan tradisional ibu ibu PKK kemarin.
"Mifdathul Nurma Aldia model cantik yang sukses dalam karir dan sukses menjadi duta lingkungan hidup"
Terpampang dengan jelas foto model cantik itu. Ya, tidak salah lagi. Itu adalah Nurma. Juri yang menyatakan bahwa kelompoknya di diskualifikasi. Tapi kenapa kemarin ia tampil dengan kaca mata bulat tebal yang bertengger di wajahnya?
"Ternyata, dia istrinya mas Riyan." Gumam Echi setelah membaca artikel tersebut.
Adriyan Setiawan adalah seorang pengusaha properti. Lelaki itu dulu pernah menyatakan cinta pada Echi. Dan mereka menjalani hubungan kasih secara diam diam. Karena Echi adalah gadis pemalu yang tak ingin hubungan kasihnya di ketahui orang lain. Dan itu dimanfaatkan oleh Adriyan untuk menjadikan nya sebagai selingkuhan. Dan Echi tak pernah mengetahui hal itu. Kebenaran nya terungkap setelah Nurma mendatangi rumah Echi dan melontarkan caci maki kepada gadis malang yg tak tahu bahwa dirinya di jadikan selingkuhan.
"Harusnya dari awal aku sudah bisa mengenali wanita ini." ucap Echi frustasi.
__ADS_1
Dalam artikel tersebut, Nurma sempat menyatakan "wanita itu harus memiliki pendidikan tinggi. Supaya bisa mendapatkan impian nya. Baik itu dalam menggapai cita cita maupun cinta. Jangan jadi pelakor yang bisanya hanya merebut lelaki milik orang lain. Seperti hubungan saya yang kandas dengan Geraldi. Namun saya akhirnya bisa mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik lagi.
"Ternyata dia juga mantan kekasih nya bang Geraldi. Pantas saja ia sangat membenci ku. Apa dia berpikir kalau aku merebut dua lelaki yang ia cinta?" Echi di buat bingung dengan pikirannya sendiri saat mengetahui kenyataan tersebut.
Saat sedang dalam pemikiran nya yang berterbangan, Echi di kejutkan dengan suara handphone nya yang berdering.
Nama Geraldi tertera di layar hp nya. Namun ia abaikan. Kepercayaan dirinya runtuh kembali setelah membaca artikel tadi.
"Tidak cantik. Tapi kamu itu menarik. Kamu kelihatan polos dan lugu. Sikap kamu **yang tampil apa adanya i**tu bisa bikin lelaki manapun mudah jatuh hati."
Terngiang ucapan Adriyan saat mereka baru pertama kali bertemu. Entah mengapa ia menjadi merasa sebagai seorang wanita b*doh yang mudah di permainkan mengingat kata kata bahwa dirinya sangat polos dan lugu.
Pasalnya, saat bersama Adriyan dulu ia di perlakukan dengan sangat manis. Ia di janjikan untuk ikut serta dalam acara liburan keluarga yang memang keluarga mereka sudah lama saling mengenal. Bahkan sebelum mereka lahir pun kedua orang tua Echi sudah mengenal orang tua Adriyan selaku sahabat.
"Kenapa sih orang yang jadi pacar aku itu harus bekas dia." Tanpa sadar Echi megucapkan kalimat yang meluncur begitu saja dari bibirnya. Meskipun tidak terlalu kencang, namun suara nya bisa di dengar oleh orang lain. Itupun kalau memang ada orang lain di dalam kafe nya saat ini.
Deggg deggg deggg
__ADS_1
Echi berubah pias saat mendengar suara bass yang ia sangat paham siapa pemilik suara itu. Apa dia mendengar ucapan ku barusan? Echi ingin sekali merutuki keb*dohan nya yang telah mengucapkan kekesalan hatinya. Tiba tiba saja rasa kesal, kecewa, amarah, dan juga kesedihannya hilang. Menguap tak berbekas dari hati dan pikiran nya.
"Hem. Dari tadi aku kirim pesan dan nelponin kenapa gak di angkat sih? Padahal kelihatan nya lagi gak sibuk." Ucap Geraldi dengan tatapan menyelidik ke arah Echi.
"Eh, emmm. Anu. Itu aku lagi gak fokus tadi." ucap Echi gugup.
"Emang lagi mikirin apa sih? Merhatiin hp segitunya. Tapi sms dan panggilan telpon pacar sendiri malah di abaikan." Geraldi memasang wajah sedih dan memanyunkan bibirnya.
"Ih, jelek banget sih kamu bang, kalo mukanya di tekuk gitu. Kayak cewek lagi ngambek aja." Echo terkikik geli dengan tingkah pacarnya yang jauh dari kata maco itu. Namun Geraldi hanya diam saja tak menanggapi perkataan Echi.
"Maaf deh, aku tadi lagi ngelamun. Jadinya gak sadar sama sms dan telpon dari abang. Padahal emang iya kalo hp nya lagi di genggam. Tapi beneran deh aku gak ada niat ngehindar dari abang kok. Aku cuma lagi error aja tadi." Echi berusaha terus menjelaskan agar Geraldi tak marah lagi. Namun pria itu tetap diam tak bergeming dari posisi dan ekspresi nya semula.
"Diem terus gini nanti malah kesambet baru tau rasa." Echi yang mulai kesal pun memilihasuk ke ruang peristirahatan nya fan menggelar kasur lantai kemudian merebahkan dirinya.
Merasa tidak tenang mengingat sikap Geraldi, akhirnya ia bangun dan berjalan ke arah Geraldi yang masih duduk dengan ekspresi sedih dan bibir manyun nya. Echi yang merasa kesal dan gemas pun menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Geraldi.
"Mau apa sih? Jawab coba. Biar aku tau abang maunya apa. Kan tadi aku udah jelasin kalo otak aku tadi lagi ngeheng sampai..."
__ADS_1
"Cium" satu kata dari mulut Geraldi menghentikan ucapan Echi.
Menyadari sorot mata Geraldi yang tampak penuh hasrat, membuat Echi berusaha memundurkan wajahnya. Namun belum sempat Echi menjauh, ia sudah mendapati bibir Geraldi menempel pada bibirnya. Echi memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut perpaduan dua bibir mereka. Jangan tanya bagaimana suara jantungnya yang mulai berdegup dengan sangat kencang. Masih sambil mengecup lembut bibir Echi, Geraldi meraih tangannya dan meletakkan di belakang tengkuk nya. Echi hanya menurut tanpa perlawanan.