
Hari hari terus berlalu. Kami sudah di sibukkan dengan kegiatan les untuk menghadapi ujian nasional. Ya, pada masa ini hasil ujian nasional secara murni sangat menentukan kelulusan bagi para siswa.
Nilai harian yang di peroleh untuk mengisi rapot sama sekali tidak ada pengaruh nya dalam penentuan kelulusan.
Hal ini berdampak pada hasil kelulusan para siswa. Tak jarang siswa berprestasi sekali pun dinyatakan tidak lulus karena sistem penilaian kelulusan yang tak efisien sehingga tidak diketahui pasti entah bagaimana bisa hal itu terjadi. Karena begitu lah ada nya. Sistem penilaian kelulusan yang membingungkan memang.
Siswa pintat bahkan berprestasi sekalipun bisa saja dinyatakan tidak lulus. Sedangkan siswa yang belajar nya malas malasan, keseharian nya urakan, banyak tang di nyatakan lulus. Aneh memang. Tapi begitulah fakta yang terjadi.
Hal ini pastinya membuat siswa menjadi tertekan akan hasil ujian nantinya, tak terkecuali bagi Echi yang memang sering berada di peringkat 5 besar setiap pada pembagian rapot, baik itu pada semester ganjil maupun semester genap saat kenaikan kelas.
Serentetean ujian praktek, ujian sekolah, serta ujian nasional telah mereka jalani setelah beberapa kali menjalani kegiatan try out.
Saat ini mereka memang belum mendapatkan hasil kelulusan, tapi mereka sedang melangsungkan kegiatan pelepasan para siswa kelas tiga atau yang biasa di sebut perpisahan.
Salah satu guru pembimbing kelas tiga menyatakan bahwa kata pelepasan terdengar lebih pada artian untuk melepas para siswa agar melanjutkan pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Sedangkan kata perpisahan di anggap lebih mengarah pada artian bahwa kita akan berpisah pada jenjang pendidikan skolah menengah pertama. Toh pada dasarnya niatan kita bukanlah untuk berpisah, tapi untuk melepaskan diri dari predikat siswa SMP.
Kenapa kegiatan ini di laksanakan sebelum kami menerima hasil kelulusan? Pikirku penuh tanya.
Ternyata salah satu alasan nya ialah karena saat ini lah waktu nya yang tepat karena semua guru dapat mengikuti kegiatan ini. Saat ini para dewan guru sedang di sibukkan dengan kegiatan pelatihan pelaksanaan kurikulum terbaru. Sehingga secara otomatis beberapa guru harus menyiapkan diri untuk melakukan pelatihan tersebut.
Kupandangi semua wajah guru dan rekan rekan sekelas ku. Tampak wajah wajah bahagia di sana.
Akupun bergabung dengan anak perempuan di kelas ku yang sedang asyik mengobrol tentang masa depan. Sekolah mana yang menjadi pilihan tempat tujuan kami menimba ilmu nantinya sedang menjadi perbincangan. Masing masing mereka menceritakan keunggulan sekolah tujuan mereka.
Aku hanya diam menyimak obrolan mereka. Jujur saja aku saat ini belum dapat memutuskan akan lanjut di sekolah mana dan akan mengambil jurusan apa.
"Echi, kamu mau lanjut ke sekolah man?" tiba tiba aku di tanya oleh Oca yang membuyarkan lamunan ku
__ADS_1
"Entah lah" jawab ku bingung. Karena aku sama sekali tak punya pandangan.
"Kenapa gak daftar bareng kita aja?" saran Oca.
"Aku masih bingung untuk mengambil jurusan apa nanti nya." jawab ku jujur.
"Ya kita ambil jurusan IPS aja. Biar nanti bisa sekelas lagi." ucap Oca penuh harap.
"Tapi aku gak yakin, soal nya kakak aku bilang kalo udah daftarin aku di sekolah SMK gitu." Jawab Echi pelan
"Yang mau sekolah kan kamu, ngapain juga malah bingung dan maunya di atur atur gitu." ucap Oca kemudian.
"Tapi aku yakin kok, kalo kakak aku pasti milih yang terbaik buat aku." Ucapku mantap
"Terus kamu mau ambil jurisan apa?" Tanya oca sambil terus menatap ku.
Selang beberapa saat kemudian acara pun di mulai. Setelah kepala sekolah memberikan kata sambutan. Dan guru pembimbing kelas tiga menyampaikan beberapa kalimat wejangan.
Kami semua siswa kelas tiga pun dipersilakan untuk naik ke panggung memberikan penampilan paduan suara dengan menyanyikan lagu Hymne guru ala ala paduan suara di pertunjukkan opera yang membuat suasana menjadi hening dan penuh haru karena saking menghayati setiap lirik pada lagu.
Setelah pertunjukan kami selesai, anak kelas satu dan dua ternyata juga menampilkan pertunjukan dari kelas masing masing. Ada yang membuat pertunjukan drama, dance, stand up komedy, bahkan menyanyi dan membacakan puisi.
Hingga terakhir di tutup dengan pertunjukan kami lagi. Yaitu pertunjukan tari tradisional. Kami terdiri dari enam permpuan dan empat laik laki.
Pada saat latihan awal nya aku berperan sebagai penari perempuan. Dengan formasi dua penari permpuan di sisi kiri dan kanan yang mengapit empat pasang penari permpuan dan laki laki yang posisi nya di tengah.
Dari awal latihan, aku yang dengan tingkat kepercayaan diri rendah tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinku dengan luwes seperti teman teman perempuan ku yang melenggak lenggok dengan gemulai.
__ADS_1
Hingga akhir nya aku di minta untuk menjadi penari lelaki. Karena memang gerakkan ku yang kaku sehingga lebih cocok menjadi penari lelaki katanya.
Dan di sinilah aku. Mengenakan baju kemeja, celana hitam panjang, dengan kain sarung yang sebatas lutut melilit di pinggang ku.
Sanggulan rambutku dengan poni menjuntai di kening ku dan rambut yang menjuntai di kedua sisi telingaku di sulap dengan penutup kepala. Hingga tampilan ku yang tadi nya tampak sangat anggun di saat membawakan lagu hymne guru, menjadi sangat sangat berubah.
Lipstik yang tampak cerah dengan warnaerah muda yang mengkilap di bibirku di hapus dan digantikan dengan memakai lip tint dengan warna senada warna bibirku yang agak gelap sehingga terlihat lebih natural.
Sebelum naik ke panggung aku memandangi diri ku di cermin cukup lama. Aku benar benar seperti seorang anak laki laki, pikirku.
Kami pun naik ke panggung dengan formasi perempuan terlebih dahulu diselingi anak lelaki hingga terakhir disusul oleh ku.
Tampak penonton tercengang melihat penampilan ku. Hingga akhirnya terlontar kata kata yang membuat ku hampir menyesal mengikuti saran untuk menjadi penari laki laki.
"Echi,, ternyata kamu itu bisa jadi anak cowok juga ya"
"Pantes aja Echi ngejomblo terus, ternyata dia masih bingung antara jadi cewek atau jadi cowok"
"Echi lebih cocok jadi anak cowok, lebih cool"
"bang Echi, aku pada mu."
Begitulah kiranya teriakan histeris yang ku dengar dari bawah panggung hingga membuat nyali ku menciut. Namun aku tetap profesional untuk menyelesaikan tugas ku dan melakukan gerakan demi gerakan hingga selesai.
Jam pun sudah menunjukan pukul dua belas lewat lima belas menit kemudian acara di lanjutkan pada jamuan makan makan.
Tak banyak obrolan saat kami makan, karena perut yang memang sudah terasa lapar dan lelah setelah menuntaskan acara demi acara yang telah berlangsung. Kamipun akhirnya pulang ke rumah masing masing setelah acara di bubarkan.
__ADS_1