Butiran Debu

Butiran Debu
Bimbang


__ADS_3

Namun saat di tengah aksi mereka, Echi terdiam mematung setelah melihat seorang gadis berambut lurus dg mata nya yg sipit tampak berjala maju mundur di tempat nya seperti sedang kebingungan. Sontak Echi pun segera menghampiri nya.


"Hei, ada apa ini? kenapa kamu gak ikutan pesta coret coret hmm?"


"Lanjutkan saja pesta kalian, nanti aku menyusul." ucap gadis tersebut murung.


"Ly, ada apa? Ayolah jangan anggap aku orang asing." Desak Echi yg bingung melihat tingkah sahabat nya.


"Bagaimana aku bisa bersenang senang, bahkan hasil kelulusan ku saja belum tahu Chi." desah nya.


"Ya ampun. Kemana kak Sam? Apa dia belum juga datang?" tanya Echi, karena menurut Zang Lian, kakak nya Sam lah yang akan datang ke sekolah untuk mengambil surat hasil kelulusan nya.


"Entah apalah yg membuat nya mungkin melupakan hal sepenting ini." Lirih Zang Lian.


"Hmm,, baiklah kalau begitu. Tunggulah di sini ya. Biar aku selesaikan dulu ke ruang guru." ucap Echi memberi inisiatif berharap bisa menenangkan sahabat nya.


Echi memang selalu peduli dengan orang orang sekitar nya. Ia akan menolong siapa pun yang di lihat nya dalam kesusahan selagi ia bisa membantu. Rasa terabaikan dalam keluarga nya membuat ia menjadi berjiwa penolong, dan selalu menampakkan keceriaan nya untuk menutupi kebenaran bahwa ia punya rasa kepercayaan diri yang rendah.


Ternyata Echi menghampiri kakak nya untuk ia ajak ke ruang guru untuk meminta surat keterangan kelulusan milik Zang Lian.


Setelah memberikan keterangan dan sedikit berdebat dengan guru wali kelas yang memegang surat keterangan kelulusan milik sahabat nya, akhir nya Echi dan kakak nya berhasil meyakinkan guru tersebut dan mendapatkan nya.


Echi berlari dengan penuh semangat sambil menggenggam sebuah amplop putih di tangan nya. Tubuh nya terasa seringan kapas. Tak di hiraukan nya semua mata yang memandang ke arah nya dengan tatapan sinia yang seolah mengatai nya 'aneh, kekanak kanakan'.


Setelah mendapati sahabt nya, Echi pun segera menyerahkan amplop tersebut. Bukan nya segera membuka amplop nya, Zang malah memeluk erat tubuh Echi sambil menangis.

__ADS_1


"Aku takut untuk mengetahui nya Chi, kau tau selama kelas satu dan kelas dua kita selalu bersama. Aku sangat tergantung pada mu. Aku tidak bisa mengerti dengan penjelasan guru, tapi kamu bisa menjelaskan dengan cara dan bahasa mu, sampai aku bisa paham tentang semua pelajaran yang tidak bisa ku mengerti. Dan setelah kelas tiga, kita harus beda kelas. Banyak pelajaran yang gak aku pahami. Banyak jawaban ku di ujian yg aku buat asal. Aku takut gak lulus Chi..." Zang terisak dalam pelukan Echi yang terus mendengarkan keluh kesah yang merupakan kekhawatiran nya.


Echi mengelus punggung Zang Lian yg bergetar karena tangis nya dan berusaha menenangkan nya.


"Tapi aku yakin, kalo kamu bisa Ly, aku yakin."


"Bisakah kau saja yang membukakan nya untuk ku?" Tanya Zang Lian


"Ya, dengan senang hati. Apa pun selagi aku bisa." senyuman mengembang di wajah Echi yg meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Di bukanya amplop itu dengan perlahan. Matanya fokus pada selembar kertas, dan kemudian dia berteriak sambil menggenggam tangan Zang Lian.


"Kau Lulus!" teriak nya


"Kan sudah ku bilang, kalau kau pasti lulus." sambung nya dengan suara kencang.


Senyum manis tampak di wajah kedua sahabat itu. Mereka lalu menerobos masuk ke dalam sekumpulan teman teman nya yang lain yang sedang asyik dengan aksi coret coret seragam putih abu abu mereka. Tak lupa mereka saling bertukar tanda tangan, sebagai kenangan terakhir bahwa tanda tangan itu membuktikan sebagai simbol bahwa mereka adalah orang orang yg telah begitu berarti pada masa putih abu abu mereka.


"Hei, kau melupakan ku. Apa kau sudah mau pulang?" Tanya 'kanjeng mami' kepada Echi


"Ya. Energi ku sudah habis karena terlalu semangat dan bergembira bisa lulus bersama kalian semua, jadi sepertinya aku butuh istirahat." ucap Echi dengan senyum nya yang tak lepas dari wajah nya


"Kau yakin, tidak ingin bergabung untuk pesta makan makan dengan kami?" timpal Zang Lian terhadap Echi


"Ya, aku tidak ingin mengganggu pesta kalian. Aku tidak makan daging haram, kau ingat? Kita berbeda sayang." Jawab Echi mengingatkan


"Ya, setidak nya kami akan carikan makanan halal untuk mu. Seperti biasa nya." lanjut Zang Lian mencoba meyakinkan

__ADS_1


"Tidak usah repot repot. Aku hanya ingin istirahat. Jangan ganggu 'me time'." ucap Echi sambil mengerlingkan mata nya.


"Oke baiklah." Jawab 'kanjeng mami'


"Hmmm,, apa kau sudah tau kalo besok kita harus ke kota Jkt untuk mengurus pendaftaran kuliah?" lanjut nya


"Entah lah. Aku masih bimbang untuk itu. Bahkan orang tua ku pun belum mengetahui nya."Jawab Echi lirih


"Ya tuhan. Echi, bahkan hal sepenting ini belum kau beritahukan kepada orang tua mu?"


"Lalu bagaimana dengan beasiswa nya? Kau sudah terdaftar, dan kau layak untuk mendapat kan nya. Kau harus berjuang untuk mewujudkan impian mu." ucap Zang Lian menyemangati


"Aku takut. Aku takut gagal menggapai mimpi ku. Aku takut tidak bisa menghadapi kegiatan kuliah nanti. Belum lagi dengan suasana hiruk pikuk kota, yang nantinya aku akan asing dg semua itu." pasrah Echi


"Kau tidak percaya akan tuhan? Tuhan akan menolong mu kalau kau mau berserah diri pada nya. Kau harus yakin, tuhan akan selalu menolong mu. Mengabulkan doa doa mu. Mewujudkan semua impian mu. Yakinlah akan pertolongan Tuhan sayang." ucap pria lembut yg seketika menjadi tegas, yaitu 'kanjeng mami'


"Terima kasih untuk semangat dan dukungan kalian, aku yakin Tuhan punya jawaban atas segala kebimbangan ku."


Mendapati semua teman teman mereka sudah meluncur ke tempat yang sudah mereka sepakati sebelum nya, mereka pun berpisah.


Echi tampak masih diam mematung dengan semua kebimbangan di hati nya.


Entah apa yang akan ia hadapi setelah kelulusan nya, apakah ia akan mampu menghadapi dunia perkuliahan, atau ia akan berhenti dengan semua mimpi nya.


Echi melangkah dengan perlahan. Kelulusan ini bukan lah akhir dari segalanya. Ini justru awal dari perjalanan hidup nya.

__ADS_1


Banyak hal melayang dalam pikiran nya. Kalau pun ia melanjut kan untuk kuliah, apakah tidak akan membebani orang tua nya meski memang ia mendapat beasiswa, tapi bagaimana dengan biaya hidup nya? Makan, minum dan keperluan lain nya?


__ADS_2