Butiran Debu

Butiran Debu
Berlomba dengan waktu


__ADS_3

Pagi menyapa dengan tetesan embun yang menyejukkan bumi. Kicau burung bernyanyi dengan riangnya. Menyambut sang mentari pagi yang mulai menampakkan sinarnya menerangi bumi.


Meski pagi tampak sunyi, berbeda halnya dengan Echi yang saat ini tengah sibuk menyiapkan bahan dan peralatan yang akan di gunakan untuk pelaksanaan lomba PKK seperti yang telah di ceritakan nya pada Geraldi beberapa hari lalu.


Semangatnya tampak terlihat dengan jelas dari raut wajahnya yang sangat antusias. Pasalnya kali ini ia benar benar menjadi orang penting yang menggagas ide dan akan melaksanakan langkah langkah sesuai apa yang telah kelompok mereka rencanakan. Bukan berharap untuk menang. Tapi ia merasa bahagia karena kekompakan yang terjalin antar anggota satu dan yang lain. Ia merasa di hargai dengan turut serta melancarkan acara yang berlangsung.


Jam tujuh pagi para peserta sudah berada di stan masing masing untuk membuat jajanan pasar sesuai dengan bahan dasar kelompok masing masing.


Bara api sudah memerah di depan stan kelompok mawar berduri yang salah satu anggota nya terdapat Echi di sana. Ya, emak emak Pkk di kelompok Echi merupakan kumpulan emak emak yang gaul, narsis dan sangat terbuka hingga sikapnya menyerupai kumpulan anak remaja labil nan kocak. Nama mawar berduri memanglah cocok untuk mereka sandang.


"Semuanya sudah siap kan ini?" ucap bunda Shanti yang merupakan ketua kelompok mawar berduri.


"Iya bunda. Tinggal proses bakar lemang nya aja, nunggu sampe benar benar mateng." jawab Echi semangat membayangkan hasil kegiatan mereka hari ini.

__ADS_1


"Untuk buah buahan nya dari hasil kebun kelompok kita apa ya? Kan pisang yang kemaren udah kita siapain di beli sama mbah Atmo buat di pake selametan anak nya." bisik bunda Shanti di telinga Echi.


"Tadi buk Mona bawa jeruk. Kayaknya itu dapet dari agen sih bunda. Menurut bunda gimana? Apa kita bolehin aja buk Mona pajang buah jeruknya?" tanya Echi meminta ijin dari sang ketua kelompok.


"Ya udah lah gak papa. Toh lagian kan cuma sebagai pendukung aja sih. Biar menuh menuhin barang jualan kita." ucap bunda Shanti sambil melihat meja stan yang memang masih ada banyak ruang. Karena hanya terdapat beberapa tas rajut sebagai bahan kerjinan tangan, seperangkat es kelapa muda sebagai minuman, dan sebuah wadah kosong yang natinya akan di isi dengan lemang hasil masakan mereka.


Sementara di stan stan lain tampak ibu ibu yang juga masih sibuk membungkusi jajanan yang telah di tentukan oleh kelompok mereka. Ada pula yang sudah mencicipi jajanan yang baru saja di angkat dari panci. Tampak asap mengepul saat daun pisang sebagai pembungkus makanan itu di buka.


Setelah melewati beberapa proses, akhirnya dewan juri memulai pengambilan nilai. Seorang juri yang di datangkan dari luar kota datang terlambat karena sempat nyasar dan hal itu menyebabkan penilaian oleh tim juri terlambat dua jam dari waktu yang di tentukan.


"Ini. Kelompok ini harus di diskualifikasi." ucap juri yang bertubuh ramping dengan tinggi sekitar 178 cm. Terdapat kaca mata bulat tebal bertengger di hidungnya. Rambutnya berwarna coklat dengan panjang sebahu. Ia mengenakan kemeja lengan pendek biru dan rok span selutut. Penampilan nya yang di sertai raut wajah masam membuat ia terkesan menyeramkan. Bahkan bisa di bilang sebagai juri yang paling horor di antara ke lima juri lainnya.


"Maaf buk. Bisa di jelaskan salah nya di mana hingga kelompok kami di dikualifikasi?" Tanya Echi dengan sopan pada juri yang bernama 'Nurma'. Itulah nama yang tersemat pada kemeja wanita di hadapan nya.

__ADS_1


Tak ada respon dari orang yang di tanya. Echi melanjutkan kalimatnya. "Setidaknya kami bisa melakukan pembelaan jika ibu mau mendengarkan penjelasan kelompok kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sebelum presentasi malah sudah di diskualifikasi. Tolong pertimbangkan kerja keras dan usaha kami bu." Kali ini nada suara Echu bergetar menahan kesal dan emosi pada orang yang di ajak bicara. Namun Nurma malah berlalu pergi menuju stan di sebelah dan kemudian melempar sebuah jeruk yang berukuran kecil kecil dari meja stan sebelah itu.


Dengan sigap Echi menangkap jeruk itu. Jeruk? Jadi Echu mentimpulkan bahwa jeruk dagangan milik buk Mona pastilah penyebabnya.


Lekas Echi berlari menanjaki jalan ke arah rumahnya. Napasnya memburu dengan perasaan kalut. Harusnya ia tahu kejadian nya akan seperti ini. Namun ia tak enak pada si ibu yang sudah membawa jeruk dagangannya itu bila tak di pajang di meja. Bukankah memang harus ada buah buahan hasil tani kelompok.


Tiba di halaman rumah, Echi masih terus berlari ke kebun belakang. Ada tujuh pohon jeruk di sana. Lekas ia memanjat salah satu pohon jeruk yang rindang itu. Di patahkan nya setangkai jeruk yang terdapat tiga butir buahnya yang masih hijau kekuningan. Mungkin ini sudah hampir matang, pikirnya . Jika di bandingkan, ukuran jeruk ini sama dengan ukuran jeruk yang ada di stan.


Melihat Geraldi di ujung jalan, Echi melambaikan tangan nya. "Ayo cepat antar aku ke stan. Nanti aku jelaskan cerita nya." ucap Echi dengan tersengal dan napas yang masih memburu. Lekas mereka melaju ke tempat yang di maksud.


Echi berlari ke arah dewan juri. Di angkat nya tinggi tiga butir jeruk dalam satu tangkai yang ia ambil tadi. "Ini buktuinya. Jeruk tanaman ayah saya besar besar seperti ini. Wajar jika yang kami jual jeruknya besar besar dan manis. Juri bisa mencicipi jeruk yang ada dengan jeruk yang saya bawa ini. Jika memang tidak sesuai, boleh dikualifikasi kelompok kami." ucap Echi menantang untuk membela kelompok nya.


"Maaf. Kami tidak punya banyak waktu." ucap Nurma dengan wajah sinisnya.

__ADS_1


"Anda sama sekali tidak bisa menghargai orang lain. Bagaimana mungkin anda bisa menjadi juri yang baik." ucap Echi pelan dengan wajah kesal.


__ADS_2