
Perkara cinta itu memang rumit. Ia datang dan pergi sesukanya merasuki hati. Seperti hujan. Hujan bisa saja datang bersamaan dengan hadirnya awan mendung. Jatuh dengan begitu derasnya membasahi tanah bumi yang kering. Hujan juga bisa saja turun begitu derasnya bersama pancaran matahari yang bersinar dengan teriknya. Meskipun turun dengan suasana berbeda, hujan akan mereda dengan sendirinya. Begitu pula cinta. Cinta bisa hadir karena adanya kebersamaan. Hingga terbiasa bersama. Cinta juga bisa hadir hanya dengan sekali tatapan. Karena terpesona pada pandang pertama.
Rasanya seperti mimpi bagi Echi mengingat statusnya kini yang sudah resmi menjadi kekasih dari seorang Geraldi setelah ia menerima pernyataan cinta dari lelaki tersebut. Entah ini mimpi indah atau akan menjadi mimpi buruk baginya. Rasanya ia menyesal karena telah menyanggupi untuk bisa menerima cinta Geraldi. Karena pada kenyataan nya bayang bayang Aji masih melekat di ingatan nya. Bagaimana perlakuan Aji terhadapnya. Yang selalu mengajaknya tertawa dengan saling bertukar cerita, bernyanyi bersama, bahkan anak itu sering membuat teka teki konyol hingga mengundang gelak tawa di antara mereka. Echi juga ingat bagaiaman Aji memperhatikan nya dengan mengirimi pesan agar ia tidak lupa makan, bahkan Aji pernah memperhatikannya dengan membelikan seporsi sate kesukaannya padahal Aji sendiri menawari bakso atau mi ayam. Tapi Aji seolah begitu peka dan perhatiannya terhadap Echi hingga bisa mengetahui sendiri hal yang mungkin begitu sepele namun sangat berkesan bagi orang lain saat mendapat perhatian yang begitu besarnya.
"Ah, kenapa sih aku ini? Kenapa aku malah menerima Geraldi sih? Padahal tanpa di tanya pun, hati aku masih sangat mengharapkan Aji. Apa besok aku putusan aja ya si Geraldi. Tapi gimana caranya? Kita baru aja jadian." Echi meracau sendiri di dalam kamarnya.
Sedangkan di lain sisi tampak Geraldi sedang duduk di bangku taman sambil menatap indahnya pancaran rembulan malam bersama taburan bintang bintang yang tampak terbentang tinggi di langit malam. Setinggi hatinya yang sedang melambung dalam pancaran cintanya bersama Echi. "Aku merasa semakin gila saja di buatnya." gumamnya pelan saat terbayang wajah sendu Echi dalam pikirannya.
__ADS_1
Matahari pagi memancarkan sinarnya dengan penuh semangat. Tampak cahayanya menyelusup masuk ke dalam kamar seorang gadis yang masih enggan terbangun dari mimpinya. Seakan mimpinya lebih indah dari kenyataan hidup yang ia jalani. Nyatanya memang benar. Echi sedang memimpikan sedang bercengkrama seperti biasanya dengan Aji. Dan mimpi itu membuatnya betah untuk terus memejamkan matanya. Hingga terdengar suara hape nya berbunyi dan menyadarkan seorang Echi dari mimpi ke dunia nyata.
Alangkah sesak rasa hatinya ketika melihat nama yang tertera jelas di layar hape yang sedang di genggam nya. "Geraldi. Andai aku menolak untuk jadi kekasihnya, akankah Aji bisa aku miliki? " desah Echi dengan nyawa yang masih belum terkumpul semua saat bangun tidur.
Setelah mandi dan sarapan Echi memilih kembali ke kamarnya. Ia masih merasa gundah dan menyesali menerima begitu saja menjadi kekasih Geraldi. Ia tak mungkin menceritakan hal itu pada sang ibu untuk sekadar meminta pendapat. Hubungan anak dan ibu itu memang tampak baik baik saja, tapi Echi sama sekali tak pernah menceritakan perihal percintaan nya pada sang ibu atau saudara atau pun temannya. Malu. Malu adalah alasan bagi Echi untuk tidak menceritakan tentang perasaan dan hubungannya dengan lawan jenis. Lebih tepatnya ia tak ingin menjadi bahan gosip dan di goda saat bertemu lawan jenis yang di sukainya atau bahkan menyukai Echi. Ternyata perlakuan dalam keluarga nya membekas hingga sekarang pada Echi sehingga ia tak pernah ingin membagi ceritanya bahkan pada sang ibu sekalipun ia terkesan begitu tertutup.
Echi melancarkan apa yang sudah ia rencanakan. Setiap kali Geraldi ingin menemuinya ia tidak pernah merapikan penampilan nya terlebih dahulu. Dibiarkannya dirinya yang tampak acak acakan setelah terbangun dari tidur siang atau setelah membantu ibunya membuat kue saat menemui sang kekasih. Ia menceritakan betapa malasnya saat harus menyapu halaman dari daun kering dan sampah. Ia menceritakan kebiasaan buruknya, yang suka mengamuk bahkan seperti orang yang ingin menghancurkan rumah saat emosinya sedang tak terkontrol. Namun bukannya menjauh dan illfeel. Geraldi justru semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya terhadap Echi. Alih alih membencinya, Geraldi malah bertanya "apalagi yang belum aku tau tentang kamu? Cerita kan semuanya biar aku bisa semakin mengenali wanita yang aku cintai ini." Sambil di elusnya rambut Echi agar merasa nyaman untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Huffth, harusnya dia jadi illfeel kan, tapi kenapa malah jadi tambah perhatian goni sih?" gumam Echi dalam hati.
Echi menghela nafas dalam sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. Ditatapnya langit cerah yang berwarna biru itu. "Sebenarnya aku menyesal sudah mau menerima kamu jadi pacar aku. Karena aku sukanya sama cowok lain, tapi malah kamu yang lebih dulu membak aku. Karena aku kesel sama tuh cowok yang terkesan php in aku terus, akhirnya terpaksa aku nerima kamu. Dan sekarang aku nyesel banget sama keputusan aku." Ucap Echi sejujur jujurnya pada Geraldi tanpa berani menatap wajah pria di hadapannya tersebut.
"Jangan pernah mencoba minta putus dari aku. Jalani aja dulu hubungan kita ini. Biarkan mengalir apa adanya. Jangan memaksakan untuk membalas cinta ku yang begitu tulus. Biarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya hingga kamu nyaman nantinya sama semua ini. Dan kamu akan melupakan cinta yang pernah ada untuk orang yang gak pernah menyatakan cinta ke kamu."
Echi menyerah untuk membuat kekasihnya itu menjauh ternyata tak semudah apa yang ada di pikirannya. Ada perasaan bersalah di hati nya setelah mendengar jawaban dari Geraldi atas kejujuran hatinya yang memang mencintai orang lain dan masih berharap bisa bersama orang yang di cintainya itu. "Maaf ya." lirih Echi sambil menatap wajah datar kekasihnya yang tampak tak terusik dengan ungkapan yang pasti menyakitkan mengetahui sang kekasih malah mencintai orang lain meski ia tak menyebutkan dengan detail siapa orangnya yang di maksud.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." bisik Geraldi lembut di telinga Echi hingga gadis itu terkejut saat mendapati sang kekasih sudah begitu dekat dengan wajahnya seperti hendak menciumnya.