
"Gue malu liatnya. Cewek itu harusnya punya harga diri, bukan nya kayak gitu. Lagian Cantika belom tau betul kayak apa si Altaro udah maen jadian aja. Malu gue liat dia agresif gitu." curhat Echi.
"Bagus gitu kali dari pada nyimpen perasaan diem diem. Ntar cowok nya keburu jadian sama orang lain kalo pasangan nya gak agresif gitu. Jaman sekarang gak bisa kalo cuma kasih kode tanda suka doang, belom ada kepastian." Jawab Aji
"Apa gue harus agresif gitu juga, biar Aji tahu perasaan gue ke dia?" gumam Echi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Ah, mana mungkin butiran debu bisa di samain dengan remahan roti khong guan..
Secara butiran debu itu menempel di luar toples, sedangkan remahan roti khong guan itu tersimpan rapat di dalam toples.. Bahkan remahan roti khong guan akan jadi rebutan saat rotinya sudah habis, sedangkan butiran debu pasti akan langsung di bersihkan seketika setelah menempel di kaleng roti khong guan.. Kalau aku bersikap agresif, yang ada aku bakalan mempermalukan diri ku sendiri. Siapalah yang mau jadi kekasih dari seorang gadis jelek menyedihkan seperti aku ini. Aku cukup tahu diri akan siapa diri ku, makanya para cowok yg datang dan mendekat hanya memberikan harapan palsu. Aku selalu di 'php'in. Aku dan Cantika emang bagaikan butiran debu dan remahan roti khong guan. Gak bakal ada yg nolak pesonanya Cantika,, sedangkan aku selalu di tolak saat jatuh cinta. Echi berputar putar dalam lamunannya saat ini sehingga ia tidak fokus dalam melayani pesanan pengunjung kafe saat ini.
Meski setelah ia berada di bangku SMK tak pernah lagi di banding bandingkan dan di bully oleh orang tuanya, tetapi perlakuan itu terlalu membekas di ingatan Echi sehingga ia selalu tidak percaya diri dan merasa takut untuk bergaul dengan orang orang di lingkungannya. Ia merasa dirinya tak pantas untuk memiliki teman, karena parasnya yang jelek, tidaklah cantik seperti adiknya Cantika.
__ADS_1
Aji yang menyadari kegalauan Echi berusaha menghiburnya. Ia tak tahan melihat Echi yang menjadi lebih pendiam bahkan tampak menghindari suasana kafe yang sedang ramai.
Setelah memberikan pesanan pada pengunjung kafe, Echi masuk ke dalam untuk mencari kesibukan lain agar bisa mengalihkan fokusnya pada pekerjaan.
Merasa tak ada lagi yang bisa ia kerjakan di dalam kafe, Echi memilih duduk di bangku taman dengan berjalan mengendap dari pintu belakang kafe dan membiarkan Cantika yang membuatkan pesanan pengunjung kafe.
"Haaaah, ternyata aku perlu istirahat sejenak. Rasanya aku lelah sekali." Echi berucap dengan pelan sambil mencium aroma mawar berwarna pink di tangan nya, menghirupnya dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Hujan nya gak jadi langit yg tadinya gelap ternyata sekarang jadi sangat cerah dengan sinaran bulan dan banyak bintang bertaburan." ucap Aji lagi sambil memperhatikan wajah Echi membuat yg di perhatikan jadi salah tingkah.
"Ngapain tiba tiba ke sini?" tanya Echi heran terhadap Aji.
__ADS_1
"Mau mandi cahaya bulan. Katanya kalo mandi cahaya bulan bisa bikin tambah mempesona lho." ucap Aji dengan semangat.
"Hahah, jaman sekarang masih percaya aja sama mitos begituan." Echi tergelak saat mendengar penjelasan yang dirasa tak masuk akal.
"Gak percaya. Padahal bunda yg bilang kayak gitu." ucap Aji sambil tersenyum senang melihat Echi bisa tertawa.
"Kalo bunda Syantik emang udah cantik dari lahir kali." sahut Echi.
"Bunda Santi ya, bukan bunda Syantik. Jangan suka ngubah nama orang deh." Aji mulai sewot kalo masalah nama bunda di ubah ubah oleh Echi.
"Suka suka gue, ngapa lo jadi sewot." ucap Echi
__ADS_1
"Tapi gue gak suka." Aji mulai menasang wajah dinginnya. Kemudian hening, tak ada percakapan lagi antara mereka yang malah asyik menatap cerahnya langit malam dengan cahaya rembulan yang dihiasi bintang bintang