Butiran Debu

Butiran Debu
terima saja


__ADS_3

Menunggu tanpa kepastian adalah hal yang sangat melelahkan. Sangat menguras perasaan dan pikiran. Menyisakan rasa sesak seakan memenuhi dada hingga bernapas pun sulit rasanya.


Setelah menutup kafe dan memastikan telah menguncinya dengan rapat Echi sekarang berjalan pulang ke rumahnya. Tampak seorang pria mengekor di belakang Echi dengan langkah yang semakin cepat.


"Echi, tunggu." Geraldi meraih tangan Echi dan berjalan beriringan.


"Kamu sengaja mau menghindar ya?" Tanyanya setelah tiba di depan pintu. Jarak rumah Echi yang hanya berada di belakang kafe membuat mereka tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana.


"Maksudnya menghindari apa?" Kening Echi berkerut menandakan ia tak mengerti ke mana arah pertanyaan Geraldi.


"Jadi kamu lupa. Kan tadi siang lewat sms katanya kamu mau ngomong secara langsung jawabannya."


"Hahh,, tapi aku gak ngerasa balas sma dari kamu. Dari pagi tadi aku sibuk bantu ibu bikin kue sampe sore. Banyak yang pesan kue buat acara keluarga. Terus selesai bikin kue aku langsung ke kafe. Jadi aku belum ngecek Hp sama sekali. Dan gak ngerasa balas sma kamu juga." Jelas Echi panjang lebar saat merasa bingung dengan apa yang dikatakan Geraldi tadi.


"Oke. Aku ngerti sekarang kenapa kamu jadi bingung." Geraldi meraih tangan Echi dengan lembut membuat gadis itu semakin bingung. Tampak dari keningnya yang semakin berkerut.

__ADS_1


Saat Echi hendak menarik tangannya, Geraldi pun berucap "Echi, maukah kau jadi pacar ku?" hingga membuat Echi bingung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Aku gak akan memaksa kamu buat jawab sekarang. Tapi aku harap kamu mau menerima cinta ku, dan jadi kekasih ku." ucapan Geraldi barusan membawa Echi kembali pada kesadarannya.


"Baiklah aku mau." Ucap Echi pelan dengan penuh keraguan. Ia memang tidak memiliki perasaan apa pun pada seorang pria yang ada di hadapannya saat ini. Tapi ia tak ingin membuat Geraldi kecewa. Biarlah ia memberinya kesempatan untuk menjadi kekasihnya. Tak ada salahnya ia mencoba menjalin hubungan dengan pria ini. Daripada ia terus mengharapkan cintanya pada pria lain yang tak kunjung terwujud.


"Mau apa? " tanya Geraldi dengan senyum menggoda.


"Isshh,, harus diperjelas ya? Baiklah, aku mau jadi pacar kamu. Aku akan berusaha nerima cinta kamu." ucap Echi dengan bibir manyun.


"Nah, begini kan lebih baik. Jadi gak keliatan kalo kamu nerima aku karena terpaksa." sambungnya sambil menatap lekat wajah gadis di hadapannya.


Emang iya. Aku emang terpaksa nerima kamu. Supaya perasaan aku ke Aji bisa teralihkan. Maaf, bukan maksud aku menjadikan kamu sebagai pelampiasan. Aku juga pengen punya pacar. Aku ingin menunjukkan bahwa aku juga layak untuk di cinta. Bukan sekadar di beri harapan. Yang bisa di dekati saat mulai merasa nyaman, dan di tinggalkan saat mengharapkan kepastian.


"Udah malam. Sebaiknya aku lekas masuk sebelum kepergok bapak bapak yang lagi ronda. Ntar kita di sangka berbuat mesum malahan." Echi segera beranjak dari duduknya di ikuti Geraldi hingga posisi mereka berdiri sambil saling berhadapan.

__ADS_1


Geraldi mendekatkan wajahnya hingga membuat Echi seketika memejamkan matanya.


"Heh, kamu ngapain malah merem gitu" terdengar Geraldi terkekeh pelan sambil mengusap lembut puncak kepala Echi.


"Enggak. Aku gak ngapa ngapain kok." Echi mulai salah tingkah mendapati tatapan hangat dari Geraldi dengan jarak wajah mereka yang begitu dekatnya.


"Jangan jangan kamu mikirnya aku bakal nyium kamu ya." goda Geraldi lagi hingga Echi jadi semakin salah tingkah karena tebakan kekasihnya itu benar adanya.


"Mana ada. Orang mata aku tuh perih, aku udah ngantuk." jawab Echi mencoba menghindar.


"Aku tadi cuma mau nyelipin bunga ini di telinga kamu." Geraldi menjelaskan sembari menyelipkan bunga mawar berwarna merah muda di telinga Echi.


Cup. Geraldi yang masih memiringkan wajah nya begitu dekat dengan wajah Echi seketika mengecup lembut bibir Echi.


"Kan kamu masangin bunga nya cuma buat modus doang." ucap Echi pura pura kesal untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang mulai bergemuruh.

__ADS_1


"Udah malam. Katanya mata kamu udah perih. Sana gih masuk." Geraldi menuntun Echi meraih gagang pintu dan menyuruhnya lekas masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat. Karena malam masih terlalu panjang untuk mereka habiskan berdua. Echi hanya menurut saja. Lekas ia menutup pintu rumah dan bersiap menuju alam mimpi.


__ADS_2