
Hari ini adalah hari ke empat Echi bekerja. Ia terlambat bangun tadi pagi dan melewatkan solat subuh nya. Karena saat ia bangun dari tidur nyenyak nya ia sudah mendapati matahari telah memancarkan sinar nya.
Jam menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit saat ia bangun. Ia segera mandi dan setelah selesai mengenakan pakaian nya, ia pun bergegas menuju dapur. Di lihat nya masih ada sisa nasi kemaren sore yang masih layak untuk di makan.
Segera ia menghidupkan kompor dan memasak telor ceplok untuk ia sarapan. Buru buru ia menghabiskan sarapan nya. Karena ia sudah pasti akan terlambat tiba di toko.
Echi berjalan menyusuri gang rumah nya menuju jalan raya untuk kemudian berdiri di halte. Lama ia menunggu angkutan umum di sana.
Biasa nya, kalau sudah lewat dari jam tujuh, angkutan umum sudah mulai jarang yang lewat.
Saat ini sudah hampir jam delapan. Setengah jam sudah Echi menunggu angkutan umum yang lewat dan ia bisa bernapas lega ketika melihat ada sebuah mobil angkutan umum berwarna kuning melaju ke arah nya.
Ketika ia berusaha menghentikan mobil angkutan tersebut, alih alih brerheti, mobil angkutan tersebut malah menambah laju kecepatan nya.
Ternyata supir mobil angkutan tersebut sedang balapan dengan mobil angkutan umum yang sama melaju dengan kencang nya.
Arti nya, dua buah mobil angkutan kota sudah berlalu melewati nya begitu saja, padahal mobil tersebut tampak kosong, mungkin hanya ada dua atau tiga orang di dalam nya.
Echi merasa sangat kesal di buat nya.
"Kalo emang kejar setoran, gak pake kebut kebutan juga kalee. Jadi supir angkot aja gaya nya selangit. Harus nya tuh banyak banyakan bawa penumpang. Bukan nya ugal ugalan di jalanan. Sebbel banget deh liat nya. Kalo kayak gini, udah pasti telat pake banget nih aku nyampe ke toko nya" Teriak Echi melimpahkan segala kekesalan di hati nya
Pada akhir nya jam sudah menunjuk pukul sembilan lewat tiga puluh menit saat Echi tiba di toko.
__ADS_1
Tuan pemilik toko tampak sedang repot melayani pelanggan saat ia masuk ke dalam toko. Ia tampak tersenyum canggung karena takut akan mendapat omelan dari pak boss.
Tapi alih alih di marahi, ternyata ia malah di surih ke loteng tempat penyimpanan kitchen set untuk mengambil koleksi gelas cantik di sana.
Tak butuh waktu lama, Echi sudah membawa satu box yang berisikan enam buah gelas cantik dengan setu buah teko yang warna dan bentuk nya senada dengan gelas.
"Wah, benar benar cantik gelas dan teko nya" celetuk Echi saat membuka dan memperlihatkan barang dagangan nya tersebut.
"Tapi saya gak suka sama warna nya. Terlalu biasa" kawab si pembeli ketus.
Kalo di lihat dari tampilan nya, perempuan yang tampak berumur kisaran empat puluh tahunan ini kayak ibu ibu sosialita yang lagi berburu barang cantik versi kalangan menengah ke bawah. Begitu pikir Echi.
"Ada warna lain kok nyonya. Anda bisa lihat brosur nya. Silahkan pilih sesuai selera anda." jawab Echi sambil menyodorkan brosur yang berisikan pilihan set gelas yang di bawa nya tadi.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya nyonya. Biar saya ambilkan dulu." Ucap Echi sambil bergegas menaiki anak tangga dan meraih box set gelas yang berwarn gold.
"Ini, silahkan di periksa terlebih dahulu." ucap Echi saat menyodorkan box set gelas untuk di periksa. Karena apabila terdapat cacat seperti gelas dalam keadaan retak atau pecah, otomatis tidak akan di jual kepada konsumen dan akan langsung di kembalikan ke pabrik sebagai produk gagal. Makanya, kalau beli barang harus di teliti di tempat membeli. Karena pemilik toko tidak akan mau menerima apabila pelanggan mengeluhkan barang yang di belinya ternyata rusak apabila di periksanya setelah tiba di rumah si pembeli.
"Emh, tapi kok rasa nya cantik kan yang tadi ya, gelas nya. Bisa kamu bawakan yang warna ruby tadi ke sini? biar bisa saya bandingkan." ucap pelanggan tadi dan Echi hanya mengangguk lemah
"Mendingan aku bawa semua warna aja." gumam Echi dan di raih nya tiga buah box set gelas dengan tiga warna berbeda.
"Ini bu set gelas nya, bisa di buka semua dan bandingkan. Pilih warna apa yang ibu mau biar kita kemas." ucap Echi sambil membuka semua box tersebut yang membuat suasana toko terasa sangat sempit dengan keberadaan box box tersebut.
__ADS_1
Dari meja kasir tampak bu boss menatap Echi dengan pandangan yang tidak suka atas tindakan Echi tersebut.
Namun saat belum sempat Echi mendapat teguran dari bu boss nya, si pelanggan tadi mengucapkan warna pilihan nya.
"Yang warna ruby itu aja deh. Bungkus dua ya." ucap nya sambil tersenyum manis ke arah Echi.
"Baik nyonya." jawab Echi sambil mengemasi lagi barang dagangan nya dan membungkus dua box pesanan pelanggan nya
Aku lelah. Dari tadi turun naik tangga cuma buat bolak balik ngambil box set gelas ini yang kaya nya lagi di buru banget sama emak emak sosialita kelas menengah ke bawah. Belum lagi tadi pake di kerjain sama ibu tadi. Di kasih warna rubby bilang nya gak suka, minta yang gold. Giliran yg gold udah ada, malah minta yang rubby lagi. Di kiranya bolak balik turun naik tangga itu gak cape apa. Udah mau copot aja rasa nya ni dengkul. batin Echi dalam lamunan nya.
"Chi, box set gelas nya bawa ke bawah aja satu warna satu ya. Dan itu kan ada dua model jadi bawa aja dua dua nya. Biar pelanggan enak milih nya nanti." ucap bu boss memberi inisiatif setelah melihat wajah lesu Echi karena kelelahan
"Baik bu boss." ucap Echi sambil tersenyum.
"Bukan nya dari tadi kek nyuruh nya. Kan gak pake bolak balik di kerjain pelanggan jadi nya." gumam nya pelan berharap tidak terdengar oleh boss nya.
Setelah membawa semua box yg di minta, Echi kemudian menyusun nya sesuai arahan bu boss.
"Chi, ini uang makan kamu. Kamu bisa cari makan dulu." ucap bu boss dari meja kasir sambil menyodorkan selembar uang pecahan dua puluh ribu ke arah Echi dan di sambut dengan senyuman sumringah oleh nya.
"Terima kasih bu boss." ucap Echi.
Echi pun bergegas menuju warung makan tempat pertemuan nya dengan Darti dan Meta kemarin untuk segera mengisi perut nya yang sudah sangat lapar di jam dua siang ini. Sungguh makan siang yang terlambat.
__ADS_1