
Seminggu setelah mengetahui bahwa Echi sedang mengandung akibat dari perbuatan nya tempo lalu, Geraldi berusaha merampungkan beberapa pekerjaan nya agar cepat selesai dari waktu yang di targetkan nya. Rencana awal diri nya ingin melamar Echi pada penghujung bulan Desember secara resmi kepada orang tua nya tampaknya harus di percepat menjadi di awal bulan. Ia tak ingin kabar kehamilan Echi tersebar dan membebani mental Echi nantinya. Ia tak ingin Echi sampai stres dan berbuat hal - hal buruk yang tidak di inginkan. Biarlah sekarang ia menghabiskan siang dan malam waktunya untuk bekerja keras demi bisa bersama dengan wanitanya.
Di sisi lain, Desa Pelangi sudah geger akan kabar bahwa gadis desa yang dikenal tampak kalem, polos, sopan, dan tidak neko - neko ternyata malah sedang hamil padahal ia belum menikah.
Gadis yang menjadi pembicaraan warga tak menyadari bahwa ia sedang menjadi trending topik di kalangan emak emak penggosip bahkan oleh tetangga nya.
__ADS_1
Sampai pada waktu sang ibu pulang setelah dari mengantar kue pesanan pelanggan di pagi yang tampak tenang. Langit biru dari pancaran matahari pagi dengan kehangatan yang lembut ternyata tak se tenang suasana hati sang ibu. Langkahnya bergetar, dan perasaan hampa, kecewa, tampak jelas di sorot matanya.
"Assalam mu alaikum." ibu meraih gagang pintu dan masuk ke dalam rumah, dengan langkah tergesa ia ingin segera menemui putrinya yang belakangan ini sering sakit sakit an.
Terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Dan di sinilah sekarang sang ibu menitikkan air mata. Meski hanya setetes air mata yang terjatuh, namun hatinya sangat pilu. Banyak luka dan tanya di dalam hatinya yang membuat tetesan air mata tertahan untuk tak membanjiri wajahnya. Dada wanita paruh baya itu terasa sangat sesak, hingga rasanya setiap kali menarik napas, ia tak mampu menghirup oksigen yang kenyataan nya masih memenuhi rongga paru paru nya.
__ADS_1
"Maaf bu. Maaf..."
Hanya kata maaf yang terus terucap dari bibir pucat Echi yang tampak bergetar. Banyak kata berjejalan di kepalanya namun tak sanggup ia ungkap.
"Apa salah ibu nak? Kenapa kau melakukan ini pada ibu? Ibu percaya kalau anak ibu adalah anak baik. Anak ibu adalah anak yang berbakti. Berbakti pada ibu dan agamanya. Tapi ke mana semua ajaran agama yang kau dapat? Setiap menghadiri pengajian pasti ada kajian agama yang kau dapat. Tapi ke mana semua itu? Kenyataan nya teori agama itu tak kau praktekkan dengan baik. Padahal yang ibu tau, kau bukan wanita bebas yang suka keluyuran tiap malam dengan laki - laki. Tapi kenapa ini bisa terjadi?" Sang ibu tampak sangat menyesal. Terpukul akan kadaan.
__ADS_1
"Bukan mau ku seperti ini bu. Ibu juga tau, aku tiap hari berusaha melakukan tugas ku terhadap agama ku. Aku laksanakan sholat lima waktu, aku berusaha selalu membaca Al-Qur'an, bahkan aku berpuasa tiap senin dan kamis. Aku juga selalu berdoa, meminta di dekatkan dengan kebaikan dan orang orang yang baik. Bahkan sebelum bisa sedekat ini sama Geraldi aku selalu berdoa dalam sujud ku, kalau memang ia baik untuk ku maka dekatkan lah kami, namun bila ia buruk buat ku, maka jauhkan lah kami. Tapi kenapa Allah malah membuat aku terjerat dengan cinta nya dan bahkan saat ini aku malah mengandung anak nya? Apa ini adil buat ku? Apa begini cara Allah mengabulkan doa doa ku bu? Aku kotor bu. Aku pendosa. Ampuni aku bu... Maaf... Ampuni aku...." Dengan air mata yang mengalir deras di wajah nya, Echi berucap dengan penuh penyesalan bahkan suaranya bergetar, menunjukka betapa ia juga sangat merasa bersalah.
Setelah beberapa saat hening, akhirnya sang ibu menghampiri putrinya dan di dekapnya dengan erat, mencoba memberikan kekuatan di hati mereka yang rapuh