
Hari - hari berikutnya Echi sering berbalas pesan lewat aplikai whatsapp dengan Aji dan juga Geraldi. Hanya bedanya jika dengan Aji pesannya selalu penuh canda dan perhatian, namun dengan Geraldi pesan Echi terkesan cuek.
Geraldi, Aji dan Ario sekarang tak terlalu sibuk bekerja hingga tiap akhir pekan mereka akan ke desa Pelangi untuk menghabiskan hari libur mereka. Mereka memilih berlibur ke desa Pelangi karena selain warganya yang ramah, di desa Pelangi suasananya juga terasa nyaman. Mereka bisa berbaur dengan baik terhadap muda mudi di desa Pelangi.
Geraldi dan Echi tak pernah terlihat akur saat mereka bersama. Entah apa penyebabnya yang membuat Echi seakan berusaha untuk menghindari seorang Geraldi Leon. Bahkan pesan whatsapp dari Grraldi pun hanya di balas Echi sekenanya saja.
Misalnya saat Geraldi sedang berbasa basi menanyai kegiatan apa yang Echi sedang lakukan, jawabannya pasti akan selalu di luar dugaan. Seperti saat ini. Geraldi dan Echi sedang berbalas pesan.
"Hai. Lagi ngapain sih, kayak nya lagi sibuk banget?" dari Geraldi
"Hai juga. Lagi balas pesan dari lo." dari Echi
"Ternyata sekarang membalas pesan dari gue jadi kesibukan baru lo rupanya." balas Geraldi berusaha membuat pesan itu tetap berbalas.
"Gak juga. Males sih sebenarny mau ngetik, tapi takut ntar malah di telpon lagi." Jawab Echi dengan niat supaya Geraldi menjadi kesal.
__ADS_1
"Gak papa kali kalo gue telpon, kan malah asyik, bisa langsung ngobrol denger suaranya." balas Geraldi mencoba menebar gombalannya.
"Males." jawab Echi mencoba mengakhiri perckapan via pesan tersebut.
"Ya udah, jangan males - malesan dong. Eh udah jam makan siang gini, lo udah makan belom?" Tanya Geraldi lagi.
"Udah." Jawab Echi singkat.
Geraldi pun hanya tersenyum memandangi balsan pesannya dari Echi. Ia tak melanjutkan percakapan via pesan whatsapp tersebut. Bukan karena ia menyerah dengan balasan pesan Echi yang terkesan cuek. Tapi ia lebih memilih untuk membuat Echi nyaman berkomunikasi dengan dirinya.
Sedangkan di lain sisi, Echi selalu berbunga bunga saat mendapat pesan via whatsapp dari orang yang terkenal dengan sikap dinginnya. Dan gelar dingin itu sepertinya salah jika melihat pesan - pesan yang tampak sangat perhatian dan humoris terhadap Echi.
"Hai, lagi apa? Jangan bilang lagi mikirin aku ya, ntar aku jadi ge'er lagi." Aji memulai percakapan.
"Hai juga, maaf gak sempet mau mikirin lo. Lagi masak nih." Balas Echi yang memang sedang sibuk dengan peralatan dapur, bawang dan bumbu - bumbu lain nya.
__ADS_1
"Maaf ya udah ganggu." Balasan pesan dari Aji membuat Echi berharap kalau obrolan mereka tak segera berakhir.
"Gak ganggu kok. Emang kamu sendiri lagi apa?" Tanya Echi sambil menunggu balasan pesan dari Aji sehingga ia tak fokus dalam memasak.
"Kalo masakan nya gosong jangan salahin gue lho ya.. Emang lagi masak apa sih? Gue lagi ngebayangin bantuin lo masak nih." Balasan pesan dari Aji jelas membuat Echi jadi merasa berbunga - bunga.
"Mulai berani gombalin sekarang ya. Gak mempan gombalannya. Kalo mau nasi gorengnya harus bayar! Jaman sekarang mana ada yang gratisan." Balas Echi sembari tersenyum.
"Jangan pelit gitu dong. Ntar gue ngences nih ngebayangin nasi goreng." Balasan dari Aji langsung membuat Echi tertawa, untungnya saat ini ia sedang sendirian hingga tak ada yang melihatnya.
"Udah sarapan dulu sana. Gue mau sarapan juga nih." Balas Echi
Cekrek
Echi mengambil gambar sepiring nasi goreng lalu dikirimkannya ke Aji dengan caption 'nih nasi goreng nya. Selamat menikmati'. Ia sengaja melakukannya karena ia tahu saat ini Aji sedang tidak ada di desa Pelangi. Aji sedang bekerja di perusahaan yang sekarang di tangani oleh Geraldi dan Ario.
__ADS_1
"Oke gue sarapan juga nih. Sekarang gak apa dapet gambarnya, tapi lain kali harus ngasih gue makanannya. Ntar gue bakalan mampir ke kafe buat nagih makan masakan lo." Balasan Ajipun mengakhiri percakapan mereka pagi hari itu. Echi bingung harus mengiyakan atau tidak, karena ia takut kalau sewaktu - waktu Aji menagihnya jika Echi mengiyakan perkataan Aji.
Sungguh perlakuan yang sangat berbeda yang ditunjukkan Echi terhadap Aji dan Geraldi. Entah siapakah yang nantinya akan menjadi kekasih Echi. Karena cinta tak selamanya harus memiliki. Sedangkan benci bisa saja berubah menjadi 'ben' eran 'ci' nta. Biarkan waktu yang menunjukkan mereka akan kepada siapa cinta itu berlabuh.