
Tidak. Ini salah. Cinta tak harus begini. Kalau memang cinta, seharusnya ciuman penuh hasrat ini di lakukan setelah menikah.
Sah. Adalah kata yang di ucapkan saksi nikah. Yang artinya seorang wanita dan laki laki yang sudah mengikrarkan janji suci pernikahan sudah halal untuk saling bersentuhan. Bahkan melakukan hal yang lebih intim lagi dari sekedar berpegangan tangan.
Tapi apa ini? Mereka sudah berciuman. Bahkan saling menikmati hasrat yang kian menuntut untuk melakukan yang lebih dan lebih lagi.
Seketika akal sehat Echi seakan menolak pertautan bibir mereka yang saling menyesap dan mereguk kenikmatan satu sama lainnya. Tubuhnya menegang. Bersama dengan rasa sesal yang menyelimuti hati nya. Seakan apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang membawanya pada dosa besar.
Geraldi yang menyadari perubahan pada Echi pun menghentikan ciuman panas mereka. Di lekatkan nya wajah Echi pada dada bidangnya. Direngkuhnya erat tubuh wanitanya hingga dapat merasakan irama alunan jantung yang sedari tadi kencang seperti genderang yang bertalu talu.
"Maaf." Kata yang lolos dari mulutnya saat menyadari bahwa Echi tidak menyukai kegiatan mereka tadi. Meski kenyataan nya wanita itu juga menikmatinya.
__ADS_1
"Aku juga bersalah. Seharusnya kita tidak seperti ini bang. Ini salah. Seharusnya"
"Menikahlah dengan ku." Geraldi lekas memotong ucapan Echi.
"Aku bahkan baru berusia sembilan belas tahun. Aku belum dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga." sanggah Echi tak ingin memberikan harapan atas kepastian pada pria yang mendekapnya itu.
"Aku hanya ingin menjaga mu. Dengan menikah, semua jadi halal untuk kita lakukan. Termaauk apa yang barusan kita lakukan tadi. Bahkan untuk bersetubuh sekalipun sayang." Geraldi dengan nakal nya menggoda Echi. Di bisikkan nya dengan lembut ke telinga wanita nya hal yang tabu untuk mereka bicarakan. Jarak mereka yang begitu dekat membuat hembusan nafas Geraldi menerpa telinga Echi.
Melihat reaksi Echi seketika membuat hasrat lelaki seorang Geraldi jadi terpancing. Ia suka melihat reaksi wanitanya yang sangat menggoda.
Ia tak tahan untuk tidak menyentuh tubuh wanita nya itu. Di berikan nya sentuhan - sentuhan lembut pada daerah sensitif Echi. Saat tangan nya menyentuh leher, sontak Echi setengah menjerit dengan suara desahan nya yang seakan menikmati sensasi tersendiri.
__ADS_1
Tak ingin membuang kesempatan yang ada. Geraldi mengecupi leher jenjang itu. Di berikan nya gigitan - gigitan kecil di sana. Membuat Echi semakin menjadi.
"Ssssttt... Ba ng, to long hen ti kan. Plisss bang. Ucap Echi terbata dengan tubuh nya yang bergerak - gerak menahan rasa yang bergejolak.
Merasa Geraldi tak merespon ucapan nya, Echi mendorong tubuh kekar itu agar menjauh. Tapi karena memang tenaga nya tak cukup kuat, alhasil tak terjadi perubahan apa pun.
"Ya udah. Gini aja ya. Biar anget." Geraldi memeluk erat tubuh Echi dari belakang sebelum wanitanya itu beranjak pergi menjauhi nya. Di letakkan dagunya pada bahu Echi. Menciumi aroma dari tubuh wanita dalam dekapan nya.
Alih - alih melepaskan diri, Echi malah menyentuh tangan kekar yang melingkari perutnya. Semakin di eratkan nya tangan yang melingkari perut nya itu. Merasakan kenyamanan dalam dekapan Geraldi.
Hening, tak ada kata apa pun. Hanya deru napas mereka yang terdengar saling beradu. Namun dingin mya malam yang merayap. Ditambah suasana hati yang kacau, membuat Echi membalas setiap gerakan Geraldi yang berakhir setelah keringat saling bercucuran membanjiri tubuh polos mereka.
__ADS_1