
Suasana pasar malam sangatlah ramai. Banyak pasangan muda mudi yang sedang kasmaran berjalan sambil bergandengan tangan. Bahkan ada yang sampai merangkul pinggang pasangan nya sambil berjalan, takut pasangannya lepas mungkin.
Echi jadi kikuk sendiri. Pasalnya Aji bukanlah kekasihnya. Meskipun ia telah jatuh cinta pada pria yg berjalan beriringan dengannya itu. Namun kenyataannya Aji adalah kekasih orang lain. Yang kebetulan malam ini mengajaknya berjalan membelah keramaian di pasar malam ini.
"Aji, anak anak lain pada kemana? Kok udah pada gak keliatan sih?" Echi sedikit berteriak agar suaranya bisa terdengar di tengah kerumunan orang orang yang pastinya sangat hingar.
Mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang ia kenal Ajipun mencondongkan badannya saat hendak menjawab pertanyaan Echi. "Itu, sepertinya mereka masuk ke stan penjual mie ayam. Kamu mau gabung sama mereka atau kita nyari tempat lain?" tawar Aji yang melihat tak terdapat bangku kosong karena sudah di penuhi oleh penikmat mie ayam.
"Ke sana aja dulu deh. Sebenarnya aku mau nyari Cantika. Bisa bisanya dia ninggalin aku sendirian, padahal dia yg maksa aku buat kr sini." Echi mulai mengomel menumpahkan kekesalannya pada sang adik.
Mereka pun berjalan ke stan mie ayam untuk mencari Cantika. Namun yang di cari ternyata tidak ada di sana. Echi tampak semakin kesal. Namun sesaat kemudian hp di saku celananya begetar. Ada pesan masuk dari Cantika. Yang mengatakan bahwa dirinya sedang menuju tempat bianglala. Saat hendak mengajak Aji menemui adiknya, tiba tiba saja ada seseorang yang merangkul bahunya dan mengatakan "Senang bisa bertemu dengan mu di sini, mungkin kita jodoh." Jarak mereka yang begitu dekat membuat hembusan napas pria tersebut menerpa leher Echi.
__ADS_1
Echi bergidik ngeri di buatnya. Refleks ia menghempaskan tangan pria yg sudah begitu kurang ajar padanya. Namun pria tersebut malah berusaha meraih pinggang nya. Echi dengan sigap langsung beralih merapatkan tubuhnya ke sisi kiri Aji sehingga pria tersebut menghentikan aksinya.
"Jangan mau seenaknya main rangkul rangkul aja." Echi yang merasa risih langsung melontarkan perasaannya. Namun bukannya kata maaf yg ia dapat. Pria di depannya itu malah tersenyum senang.
"Jangan sok akrab. Gue gak kenal sama lo." Echi mendorong tubuh Aji pelan sambil mengangguk dan sorot matanya seolah mengatakan ayo jalan.
Baru melangkahkan kakinya, tangan Echi kemudian di raih oleh pria asing itu lagi. "Kenalin, aku Jaka. Udah beberapa hari ini aku selalu merhatiin kamu. Aku rasa aku udah jatuh cinta ke kamu." ucapnya sambil tersenyum.
"Maaf aku gak ada urusan sama kamu." Echi melepaskan tangan pria yg memgaku namanya Jaka tersebut dan berjalan mendahului Aji ke arah tempat bianglala.
Di tempat pembelian karcis bianglala tampak Cantika, Taro, Indah, Ipul, Neti, dan Banyu. Ketiga pasang kekasih itu sedang menunggu Echi dan juga Aji. Melihat Echi yang berjalan dengan wajah murungnya. Mereka malah mengatakan bahwa Echi seperti pasangan yg sedang bertengkar. Ada juga yg mengatakan bahwa Aji ketahuan selingkuh. Padahal jelas jelas Echi dan Aji bukanlah pasangan kekasih seperti mereka.
__ADS_1
"Mendingan kita naik bianglala aja yok, mumpung belum rame yang naik." Aji lekas mengajak teman temannya itu untuk menaiki wahana yang sedang berputar di hadapan mereka. Teman temannya seketika berhenti membicarakan dia dan Echi.
"Cinta, perut aku sakit nih. Kayaknya isinya harus di setor dulu deh. Aku ke toilet aja dulu ya." ucap Taro sembari memegangi perutnya.
"Yang, kamu jangan bohong deh. Tadikan aku udah nganterin kamu ke toilet yang di deket parkiran. Lama lo aku nungguin nya. Kamu bilang tadi kamu BAB, makanya lama di toiletnya." Cantika yang panggilan kesayangan nya Cinta itu mengomel pada kekasihnya karena merasa bahwa Taro sedang berbohong agar mereka batal naik bianglala.
"Jangan bilang kalo Sayang ku ini takut naik bianglala." sambung Cantika dengan tatapan curiganya.
"Ya enggaklah Cinta, masa iya seorang Altaro takut sama bianglala. Gak ada apapun yang aku takutin di dunia ini selain kehilangan kamu." Taro membela dirinya dengan mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
"Ya udah, ayo cepetan naik." Cantika menyeret kekasih nya yang gemetaran karena sebenarnya Taro takut untuk menaiki bianglala.
__ADS_1
Ternyata sensasi naik wahana yang berputar sedikit cepat pada ketinggian dan menghempas ke titik terendahnya itu membuat seorang Altaro menjerit histeris dengan tubuh gemetaran. Jantungnya serasa mau loncat, katanya. Di wahana yang sama pula tampak wajah pucat Aji. Echi yang melihatnya pun tersenyum miring.
Setelah dari bianglala, mereka pun menuju rumah hantu. Aji yang tadinya mau menikmati jagung bakar dan kacang rebus di wahana bianglala akhirnya memakannya sambil berjalan. Tak lupa ia memberikan satu jagung bakar kepada Echi. Sehingga teman temannya yang lain saling pandang dengan tatapan yang seolah olah ciiee ciiee,, cuwiwwit...