
"Oh ya. Kalo gitu biar ku juluki kau 'gadis lima belas ribu'." ucap nya sambil terkekeh dan hanya di balas dengan anggukan kecil oleh Echi.
"Ada lagi yang kau ingin kan Leon?" tanya Echi kemudian
"Hmmm,,, entah lah."
"Kalau begitu silakan membayar ke bagian kasir di sebelah sana." ucap Echi sambil mengulurkan tangan nya ke arah kasir.
"Tapi seperti nya aku belum selesai." jawab Leon cepat.
"Baiklah. Katakan apa lagi yang ingin kau cari?." tanya Echi dengan ketus karena sedikit kesal dirasa nya Leon sengaja mengulur waktu nya
"Tunjukkan di mana letak perlengkapan perawatan harian nya." ucap Leon sambil mengedarkan pandangan nya ke segala arah
"Maksud nya?" Echi mengernyitkan dahi tanda tak mengerti
"Perlengkapan seperti sabun mandi, pasta gigi, bahkan lotion untuk perawatan tubuh atau bedak bayi sekali pun." jawab Leon dengan tersenyum jahil.
"Mari ikuti aku. Di ujung sana, barang yang kau perlukan silakan kau cari saja di rak itu. Semua nya tersusun rapi di sana. Selamat mencari." ucap Echi sambil mengulurkan tangan nya mempersilakan.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Leon.
"Apa untuk pipis pun aku harus ijin dulu dengan mu?" sahut Echi berbohong.
Setelah dirasa apa yang di cari telah ia temukan, Leon pun mengumpulkan barang barang nya untuk segera di bayar.
Namun ia merasa belum cukup puas mengerjai Echi. Ia senang melihat ekspresi menggemaskan saat Echi kesal dengan diri nya. Seakan ada amarah yang di tahan oleh Echi.
Di lihat nya gadis itu sedang memegang selembar kertas sambil memasukkan barang barang ke sebuah kerdus besar sambil sesekali mulut nya komat kamit.
Mengingat ekspresi marah yang tertahan pada wajah Echi seakan terintimidasi membuat Leon kembali ingin mengerjai nya.
"Akhir nya, selesai. Untung aku sudah hapal letak barang barang ini di gudang. Aku tidak perlu berputar putar lagi seperti kemarin." Ucap nya sambil tersenyum puas setelah menyelesaikan pesanan pelanggan yang siap untuk di antar ke tempat tujuan oleh rekan nya
__ADS_1
"Oh, rupa nya di sini ya letak toilet itu." ucap Leon dengan nada menyindir.
'Kenapa dia masih saja mau mengganggh ku.' Dasar pria mabuk.
Batin Echi yang muak dengan sikap Leon di tambah aroma alkohol yang menyeruak dari tubuh nya.
"Ayo bungkus dulu barang barang ku. Kau sudah membuat ku terlambat."
"Bukankah kau bisa langsung saja ke kasir Leon?" sanggah Echi
"Tapi tampak nya akan lama. Toko ini tampak sedang banyak pengunjung." tunjuk Leon ke arah toko yang memang sedang ramai.
"Biar bagian kasir yang menghitung. Kau bungkus saja barang barang yang sudah di hitung nya. Biar cepat selesai." ucap Leon lagi
"Baiklah tuan raja. Mungkin begini ada nya kata pepatah bahwa pembeli itu adalah raja." sahut Echi sangat pelan berharap suara nya tak terdengar.
"Ya itu benar. Anak pintar." sahut Leon tersenyum kemenangan
Setelah di hitung ternyata barang belanjaan yang di beli oleh Leon membuat ia sangat terkejut.
"Yang benar saja. Apa kalian mau mengerjai ku?" ucap nya spontan karena terkejut.
"Maaf tuan. Tapi ini benar adanya." Ucap bu boss menegaskan kepada Leon
"Apa kalkulator ini tidak rusak?" tanya Leon lagi
"Maaf tuan. Anda bisa menghitung nya sendiri. Hitung lah seluruh item ini dan anda kalikan lima belas ribu. Hasil nya memang lima ratus empat puluh ribu." jawab bu boss menjelaskan
Leon terbelalak dan tak habis pikir. Bagaimana bisa niat nya ingin menjahili Echi akan berakhir begini?
Memang barang yang di beli per item nya terbilang murah. Hanya seharga lima belas ribu saja. Tapi siapa sangka jika lima belas ribu itu di kalikan sampai tiga puluh enam item akan menghasilkan angka sampai lima ratus empat puluh ribu rupiah.
Makanya, jika belanja kita harus membuat daftar barang yang di perlukan sebelum nya. Agar kita tidak kalap saat mengambil barang yang kita anggap murah. Namun ketika di jumlahkan nantinya menjadi tidak sesuai dengan dugaan kita.
__ADS_1
"Apa saya bisa menggunakan kartu kredit saja untuk membayar semua ini?" tanya Leon menunjuk belanjaan nya. Karena uang tunai di dompet nya hanya lima ratus ribu. Sedangkan tak mungkin ia harus mengembalikan beberapa item untuk mengurangi jumlah yang harus di bayar nya. Bisa hilang harga diri nya jika melakukan hal itu.
"Maaf. Di toko kami hanya melayani pembayaran secara tunai. Mungkin anda bisa mencairkan uang dari kartu ATM di mesin ATM di seberang jalan itu." ucap Echi sembari menunjuk mesin ATM yg di maksud.
"Baik lah. Tunggu sebentar ya." jawab Leon sambil melangkah.
Tak lama setelah nya Leon menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Tolong sekalian pilihkan wajan sesuai jumlah uang tunai yang tersisa."
"Maaf. Bisa di jelaskan ukuran wajan nya?" tanya Echi meminta kejelasan.
"ukuran nya yang agak besar. Tapi jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil." sahut Leon menjelaskan.
Echi menghampiri Leon sambil menunjukkan wajan di tangan nya yang di setujui melalui anggukan kepala oleh Leon.
Setelah nya Echi menyerahkan sisa uang kembalian milik Leon beserta barang belanjaan nya.
Akhir nya transaksi jual beli antar Echi dan Leon pun telah selesai tanpa banyak drama lagi.
Karena hari memang sudah sore, bu boss pun memerintahkan kami untuk menutup toko setelah kepergian pria mabuk and the gank tersebut.
Echi melaksanakan perintah bu boss dengan senang hati. Dia bergegas menyusun barang barang dagangan toko yang terpajang di depan toko.
Di kaitkan nya tas tas yang menggantung pada dinding bagian dalam toko. Di rapikan nya satu persatu baskom, ember, pot pot bunga, dan masih banyak barang lain nya kemudian ia tumpuk dari ukuran paling besar berada di tumpukan dasar. Dan terus mengecil hingga ukuran pot bunga paling kecil pun berada di puncak susunan nya.
Setelah menggantungi tas, sapu, pengepel, dan menyusun serta merapikan barang barang ke dalam toko, ia menutup pintu toko dan menggembok nya.
"Aku pulang." ucap Echi pada diri nya sendiri.
Tapi entah mengapa perasaan nya tak enak setelah menyadari seakan suara pria menyebalkan bernama Leon tadi masih terua memenuhi pendengaran telinga nya.
'Apa karena saking kesal nya sampai sampai suara nya saja masih terdengar jelas di telinga ku' gumam Echi sambil memejamkan mata nya dengan kaki yang terus melangkah.
__ADS_1