Butiran Debu

Butiran Debu
gadis lima belas ribu


__ADS_3

Echi pun bergegas menuju warung makan tempat pertemuan nya dengan Darti dan Meta kemarin untuk segera mengisi perut nya yang sudah sangat lapar di jam dua siang ini. Sungguh makan siang yang terlambat.


Setibanya kembali di toko Echi masih berlanjut dengan set gelas yang sedari pagi di tangani nya.


Hingga akhir nya stok di gudang telah habis terjual barulah ia bisa sedikit lebih santai dan bisa menikmati menghirup napas dengan tenang.


Benar benar luar biasa. Pikir nya dalam hati. Lima ratus box set gelas bisa habis terjual dalam waktu kurang dari satu minggu. Dan pelanggan yang memesan pun membeludak. Hanya tinggal menunggu barang datang, mereka akan langsung mengambil nya.


Itu artinya kesibukan seperti hari ini akan terulang lagi. Batin Echi dalam hati.


Lamunan Echi segera buyar setelah mendengar pintu toko berderik tanda sudah di tutup.


Ah, akhirnya toko tutup juga. Echi pun pulang dengan semua rasa lelah dan bahagia. Bahkan baju yang di kenakan nya saja masih basah oleh keringat nya saat bekerja tadi. Ia lelah karena melayani banyak nya pelanggan toko yang datang. Namun ia turut bahagia karena produk yang di jual nya ludes di beli para pelanggan.


***


Hari ini adalah hari jumat. Kalau karyawan kantoran biasa nya akan istirahat lebih awal karena menghormati karyawan muslim yang akan melaksanakan solat jumat.


Namun berbeda dengan kami para karyawan toko di pasar induk. Bisa istirahat makan siang tepat waktu saja sudah untung untungan.


Apalagi aku di sini karyawan baru. Mana berani aku keluar toko sebelum boss yang menyuruh aku untuk istirahat.


Padahal sekarang sudah jam dua belas lewat delapan belas menit. Ku lirik lirik boss ku masih tampak sibuk dengan urusan toko.


Aku hanya bisa pasrah untuk mlaksanakan perintah boss yang menyuruh ku mengumpulkan barang pesanan.


Ku ambil daftar barang dan ku kumpulkan semua nya secepat mungkin berharap bisa lekas istirahat. Aku sudah lapar. Aku mau makan. Aku butuh mengisi ulang energi ku karena sudah merasa lemas sedari tadi menahan lapar.


Akhir nya setelah mengemas semua barang yang tertera pada daftar belanjaan yang ku pegang, bu boss pun menyerahkan selembar uang pecahan dua puluh ribu. Seperti biasa nya, itu menandakan bahwa aku bebas untuk mengambil jam makan siang ku.

__ADS_1


Ku langkahkan kaki ku secepat mungkin untuk segera mengambil sepiring penuh nasi, sesendok penuh sambal tempe dan tak lupa sayur santan daun ubi berlabuh di piring ku.


"Teh hangat nya seperti biasa ya bu." ucap ku kepada pemilik warung makan sembari berjalan menuju tempat duduk.


"Eh ada Echi rupanya. Tumben lo makan siang nya lebih awal dari biasa nya." Ucap Meta


"Gue kira lo gak bakal betah kerja sama boss kompeni kayak gitu." Sahut Darti


"Iya nih. Biasa nya sayur sama lauk udah pada habis dia baru nongol." celetuk bu Imah si pemilik warung makan


"Kasian banget lo. Makan aja sampe tinggal sisaan." lanjut Darti sambil menatap Echi


"Kalo gue sih pasti gak bakal betah deh. Gue salut sama lo. karena setau gue sebelum lo udah ada anak cowo yang gaya nya sok maco banget dia. Tapi kerja baru dua jam aja udah langsung lari dia, gak kuat di omel omelin bu boss lo. Dan sampe sekarang gue gak pernah liat muka dia di sekitar sini. Trauma kayak nya tuh anak" jelas Darti


"Wah, gitu ya. Tapi menurut gue si boss pada baik tuh ke gue." bela Echi


"Baik apa an. Kalo emang boss lo baik, jam makan siang lo gak bakal sampe molor ke jam dua kan." sanggah Meta


"Wah parah lo. Boss lo gak ngomel gitu jam segitu lo baru nyampe." selidik Meta


"Gak. Gue bilang angkotnya penuh ama anak sekolahan. Jadi gue dapet angkot nya siangan." jelas Echi


"Dan boss lo gak nyanggah atau nyalahin lo gitu?" tanya Darti lagi


"Enggak sih. Padahal aslinya gue emang kesiangan. Cape banget gue, makanya gak bisa bangun awal. Nih ya, baju gue tuh tiap hari sampe basah gara gara keringetan turun naik loteng ngambilin barang. Kaki gue dengkul nya berasa mau copot. Apalagi ni betis, rasanya kayak yang kenceng banget tau gak." ucap Echi lirih mengingat nasib dirinya sebagai karyawan toko


"Eh, kita cabut duluan ya. Udah dari tadi soal nya. Ntar kita kena omel boss ni kalo kelamaan" ucap Meta sambil beranjak di ikuti Darti yang menuju pemilik warung untuk membayar makanan mereka.


Usai membayar makanan nya, Echi melaksanakan solat zuhur terlebih dahulu di musola yang terdapat di dekat bangunan toko tempat ia bekerja.

__ADS_1


Dirasa waktu nya masih panjang, ia berinisiatif untuk berzikir terlebih dahulu sebelum memanjatkan bacaan doa sesudah solat.


Empat puluh menit sudah Echi keluar dari toko pada jam istirahat nya siang ini. Dan ketika ia masuk ke dalam toko, tampak banyak pelanggan.


Bau alkohol menyeruak dari setiap pelanggan pria yang berjumlah lima orang tersebut. Bu boss langsung mengarahkan Echi untuk meladeni mereka. Echi pun mengangguk patuh.


Di hampiri nya seorang pria dengan perawakan tubuh tegap, tingginya sekitar seratus delapan puluh senti meter, dengan rambut ikal dan kulit nya tampak lebih gelap.


"Ada yang bisa saya bantu tuan" sapa nya ramah.


"Saya mau cari spatula." jawab pria itu


"Di sebelah sini tuan, silahkan anda pilih. Mau yang mana? Echi menunjuk ke sederet spatula dengan berbagai model dan harga yang berbeda tentunya.


"Yang ini berapa harga nya?" tanya pria itu sambil menunjuk ke arah salah satu spatula


"Yang ini harga nya tiga puluh lima ribu tuan. Karena bahan nya lebih tebal dan gagang nya ada di lapisi bahan atum sehingga tidak mudah panas." jawab Echi


"Kalo yang ini?"


"Yang itu harga nya lima belas ribu tuan."


"Leon. Panggil saja aku Leon." Ucap pria itu sambil mengulurkan tangan


"Baiklah tuan Leon." ucap Echi sambil menangkupkan tangan nya di depan dada menanggapi uluran tangan Leon


"Leon saja. Jangan pakai tuan. Aku bukan majikan mu" ucap nya sambil tersenyum hambar menarik tangan nya yang terulur.


"Agak sedikit aneh rasa nya. Sedari tadi barang yang ku pilih kenapa harga nya lima belas ribu semua? Apa kau mau mempermainkan ku?" tanya Leon dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Tidak. Memang harga nya lima belas ribu untuk ember kecil ini, baskom, ceret plastik, handuk kecil, spatula. Harga satu barang itu memang lima belas ribu." jelas Echi


"Oh ya. Kalo gitu biar ku juluki kau 'gadis lima belas ribu'." ucap nya sambil terkekeh


__ADS_2