Butiran Debu

Butiran Debu
cinderella


__ADS_3

Echi dan Aji masih tampak bercengkrama setelah menghabiskan makanan nya. Echi bersyukur karena pria dingin yg terkenal cuek di sampingnya itu bisa bersikap manis dan sangat peka dengan dirinya. Namun hal itu juga membuat hatinya jadi gundah gulana di landa kegalauan. Pasalnya ia takut tak bisa meredam rasa nyaman di hatinya yang ia yakini sekarang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang pria yang telah memiliki kekasih.


Cinta itu tak pernah tau seperti apa perjalanan nya. Kapan cinta itu akan tumbuh, bersemi dalam hati seseorang. Akankah cinta yg tumbuh itu mekar dengan indahnya atau kah akan layu bersama waktu yang terus berlalu.


"Aji, gue gak enak nih. Dari tadi gak keliatan sih anak anak yg laen? Tega banget mereka ninggalin kita." ucap Echi yg mulai terinfat akan di manakah keberadaan teman teman yg lainnya.


"Nyantai aja kali. Gue gak bakalan ngapa ngapain lo kok." Aji tersenyum menatap gadis di hadapannya.


"Ya tapikan gue gak enak. Dikira jalan berdua ma pacar orang nantinya. Kalo temen nya cewek lo liat malah di omongin yg enggak enggak. Gue gak enak kalo gini."

__ADS_1


"Gak usah mikir yg aneh aneh deh. Yang penting ntar lo bisa pulang dengan selamat. Gitu aja udah mikirnya sekarang."


"Ya udah ayo kita pulang aja. Gue kirim pesan ke Cantika dulu biar dia gak nyariin nantinya." Echi meraih ponselnya dan mengetikkan pesan kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya menuju ke parkiran.


Sesampainya di depan rumah Echi, jam yang melingkar di pergelangan tangan Aji ia lirik dan sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit tengah malam.


"Makasih ya. Gue masuk dulu." ucap Echi sambil berjalan menuju rumahnya namun tiba tiba Aji memegang pergelangan tangannya hingga langkah Echi terhenti.


"Gak. Gue gak mau mampir ke rumah lo gue cuma mau mastiin kalo lo gak bakalan berubah, kayak di cerita cinderella." Aji memperhatikan Echu dari atas sampai ke bawah hingga membiatnya tidak nyaman.

__ADS_1


"Ya jelas berubah lah. Liat ni rambut gue udah lepek dan gak rapi lagi, baju gue udah bau keringet, terus muka gue juga udah kayak gorengan. Berminyak. Udah jelas kan. Sekarang mending lo pulang. Gue mau masuk, mau tidur udah ngantuk gue." ucap Echi panjang lebar hingga Aji hanya bisa memperhatikannya dengan ekspresi wajah yang datar sambil membenarkan ucapan Echi dalam hati, bahwa penampilan gadia itu memang sudah tak serapi saat mereka berangkat tadi.


"Maksud gue tuh, pakean lo gak bakalan berubah kayak di cerita cinderella kan. Terus sepatu lo gak bakal berubah jadi labu gitu." Aji terkekeh sambil memperhatikan Echi dari atas sampai ke bawah membuat Echi jadi memberengut. Aji yang gemas dengan gadis di hadapan nya lalu mengarahkan tangan nya dan mengacak puncak kepala Echi dengan lembut.


"Iya, iya gue liat kok. Kalo lo emang udah gak serapi waktu kita berangkat tadi. Ya udah, sana masuk. Cuci tangan, kaki ma muka lo dulu, baru tidur. Jangan lupa baca doa sebelum tidur biar bisa mimpiin gue." tambahnya sambil memberikan senyuman manis ke arah Echi. Tentu saja jantung Echi jadi berdegup sangat kencang di buatnya. Serasa mimpi bagi Echi mendapatkan perlakuan manis dari pria yg sekarang memenuhi pikirannya itu.


Malam berganti siang. Matahari bersinar sendu karena tertutup awan. Namun panasnya mentari langsung menyengat saat sang awan menghilang.


"Pesan minuman yang kayak biasanya dua ya." Echi menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat melihat Aji menggandeng tangan seorang gadis dengan mesra di hadapan nya. Ia yakin bahwa itu adalah kekasih dari pria di hadapan nya itu.

__ADS_1


Kenyataan nya, aku bukanlah cinderella yang di cari oleh sang pangeran setelah melewati malam bersamanya. Sedih Echi dalam hati.


__ADS_2