
Setelah naik wahana bianglala, rombongan remaja itu pun masuk ke rumah hantu. Suasana yang gelap ditambah alunan musik yang terdengar khas musik horor pun membuat keberanian mereka menciut. Mereka berjalan sambil merangkul erat tangan pasangan masing masing. Hanya Aji dan Echi yang tampak canggung. Aji berjalan mendahului Echi, sementara Echi berpegangan pada ujung baju yang dikenakan Aji.
"Kalo mau pegangan, mending gandeng tangan aku aja. Daripada narik narik ujung baju aku gini. Berasa lagi nuntun anak kecil jadinya." Bisik Aji di telinga Echi karena tak ingin terdengar oleh teman temannya yang lain.
"Gue sebenarnya gak takut, karena gue tahu hantunya pasti bohongan. Cuma boneka pajangan atau mungkin orang yg pake kostum kemudian muncul tiba tiba biar kita pada kaget. Tapi gue takut kesandung, karena di sini gelap banget. Kan gak lucu kalo tiba tiba gue jatoh terus kalian pada lari ninggalin gue di sini. Bisa bisa badan gue ke injek sama orang orang yg di belakang kita lagi. Bakalan remuk gue." ucap Echi membela diri.
"Ya udah sih. Tinggal genggam tangan gue gini aja repot amat sih." Aji meraih tangan Echi dan menautkan jari mereka.
"Jangan di lepas. Bahaya." sambungnya lagi. Tanpa ia sadari perubahan ekspresi pada Echi yang menahan gejolak debaran dalam hatinya.
"Andai aja dia perhatian gini karena dia suka sama gue. Gak bakalan gue tolak kalo dia sampe nembak gue. Batin Echi saat merasa perlakuan hangat Aji padanya.
Lorong demi lorong mereka lalui. Tak jarang mereka terjebak pada lorong rumah hantu yang buntu. Hingga pada akhirnya mereka semua dapat menemukan pintu keluar. Tampak Cantika sudah berkeringat. Indah dan Neti pun suaranya mulai serak karena terlalu kencang berteriak saat melihat hantu yang tiba tiba muncul di hadapan mereka. Sepertinya selain karena takut mereka berteriak juga karena kaget. Entah karena jantung mereka yg masih berdetak kencang, atau karena merasa nyaman, mereka masih belum melepas tangan pasangan mereka yang di rangkul dengan eratnya.
"Ehhm,, bisa lepasin aja gak tangan nya?" Tanya Echi menyadarkan Aji bahwa tangan mereka masih saling bertautan.
__ADS_1
"Udah sih gak apa. Daripada ntar lo lepas dan nyasar di tengah kerumunan orang orang. Bakalan susah ntar gue nyariin." jawab Aji sambil tersenyum jail.
"Alah. Modus aja lo nya kan." cibir Echi.
"Kalo lo sampe lepas, terus ilang di telen kerumunan orang orang, bakal gue tinggalin lo. Males banget gue kalo harus nyariin lo." ancam Aji sehingga membuat Echi memciut memdengarnya. Padahal Aji tidaklah srius dengan ucapannya.
"Tapi gue takut. Ntar kalo kita ketemu ama cewe lo gimana. Ntar dikiranya gue mau ngerebut lo dari dia lagi. Padahal kan kita gak ada hubungan apa apa. Takut aja kalo sampe di labrak sama cewe lo. Terus, kalo gara gara gue hubungan kalian jadi gak baik baik aja. Gue kan ngerasa bersalah banget jadi nya." cerocos Echi yang membayangkan akan bertemu dengan kekasih nya Aji
"Udah sih nyantai aja. Gue yang cowo nya aja nyantai, ngapa lo jadi panik gitu?". Ucap Aji dengan santainya.
"Dasar lo ya. Jadi cowok gak peka banget. Kok bisa sih cewek lo nerima lo jadi pacarnya?" cerocos Echi.
Mereka berkeliling di area pasar malam hingga akhirnya Echi bingung sendiri saat terpisah dari rombongan. Padahal belum lama tadi mereka masih berjalan beriringan.
"Jadi kita mau kemana ini? Dari tadi cuma muter muter doang. Capek tau." Keluh Aji dengan peluh yang membasahi baju kaos nya setelah sekian lama mengitari area pasar malam tanpa tujuan bersama Echi.
__ADS_1
"Pulang aja yok. Capek juga gue." jawab Echi yang membuat Aji jadi bengong.
"Malah bengong kayak orang **** gitu sih." sambung Echi membuat Aji tersadar kembali.
"Cinderella aja pulang nya jam 12 malem neng, nah ini baru jam setengah sebelas. Masih lama kali." Aji melihatkan jam yang melinfkar di tangan kirinya pada Echi.
"Gue bukan cinderella. Kenalin deh, gue Echi. Kali lo lupa." Echi menjabat tangan Aji yg lagi lagi membuat nya terbengong dg perlakuan gadis satu ini.
"Mendingan kita cari makan dulu yok. Muterin pasar malem juga butuh energi tau. Gue gak mau ntar pas pulang di omelin ayah lo gara gara lo jadi ringan." ledek Aji yg memdapat pelotoan dari Echi.
"Lo sukanya mi ayam apa bakso?" tawar Aji namun Echi hanya menggeleng saja.
"Di tanya malah geleng geleng. Guna nya mulut itu untuk ngomong, bukannya di rapetin kayak gini." Aji menyentuh bibir Echi sehingga Echi refleks memukul tangan pria itu dengan kencang hingga menimbulkan bekas kemerahan di sana.
"Galak amat sih neng. Udah ah, kita ngebakso aja. Enakan bakso pedes dari pada sentuhan tangan lo yg pedesnya sampe bikin terasa kebas ni." sindir Aji sambil menarik tangan Echi untuk mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Saat menuju tukang bakso, mereka melewati penjual sate dan mata Echi terarah pada tusukan sate yg sedang di bakar di atas bara api. Membuat Aji sadar bahwa Echi menggeleng saat di tawari ingin bakso atau mie ayam. Mungkin karena ia tidak menyukai ke duanya. Karena Echi menyukai yang lain yaitu sate.
Setelah memesan semangkuk bakso, Aji meninggalkan Echi sendiri. Echi yang bingung hanya bisa berdiam diri di bangku yang telah di sediakan sambil menunggu kedatangan Aji dan semangkok baksonya. Echi sempat tertegun saat kedatangan Aji ternyata membawa sesuatu di tangan nya. Saat di buka, ternyata bungkusan itu isinya seporsi sate ayam dengan aromanya yg menggoda. Akhirnya mereka makan dengan sangat lahapnya. Karena memang mengelilingi area pasar malam seluas itu ternyata memang membuat energi mereka terkuras, menyisakan rasa lapar yg kini telah terbayar dengan seporsi makanan kesukaan mereka masing masing