Butiran Debu

Butiran Debu
ketahuan


__ADS_3

Geraldi yang mengetahui kondisi kekasih nya dari sang ibu, segera menemui nya.


"Kenapa tidak bilang kalau kau sedang sakit sampai separah ini? Tubuh mu sampai terlihat begitu kurus." ucap Geraldi penuh dengan kekhawatiran.


Sesaat setelah tiba di rumah Echi, ibunya menyuruh Geraldi untuk menghampiri anak gadis nya yang sudah seminggu ini tampak tak berdaya karena sakit.


Ia meminta Geraldi untuk membawa anak nya berobat. Setelah mendapati Echi tak jua sembuh. Padahal ia sudah membawa sang anak untuk berobat ke dokter sebelum nya.


"Aku tidak ingin membuat mu khawatir. Aku tahu saat ini kau sedang sibuk dengan pekerjaan mu." Jawab Echi dengan suara yg terdengar begitu lemah.


"Berapa lama sudah kau berbaring seperti ini? Tanya Geraldi sambil menatap ke arah pintu. Dan setelah ia tak mendapati keberadaan orang lain sealin mereka berdua, ia arahkan tangan kanan nya ke perut Echi dan membelai nya dengan lembut.


"Apa kau tidak merasa kehadiran nya? Lihat lah badan mu yang tampak semakin kurus ini namun perut mu tampak lebih berisi dari sebelumnya." ucapnya lagi masih dengan mengusap perut Echi yang memang nampak sedikit buncit dari seharusnya. Mengingat tubuh wanita itu tampak begitu kurus. Harusnya perutnya tampak rata.

__ADS_1


"Kenapa? Aku memang kurus dan perut ku memang begini. Padahal aku sering shit up agar perut ku tampak rata. Pasti akan terlihat keren, apalagi kalau tampak lekukan kotak kotak di perut yang rata. Nyatanya aku memang di takdirkan untuk jadi wanita yang biasa saja. Tidak ada hal keren dan menarik dari tubuh ku ini." ucap Echi dengan raut wajah yang semakin murung mengingat keadaan fisik nya jika di banding dengan dua saudara perempuan nya. Dia memang terlihat yg paling jelek, hingga sering di katai oleh ke dua saudara nya itu.


"Aku kemari tidak untuk melihat kau bersedih seperti itu. Kau belum jawab pertanyaan ku. Sudah berapa hari kau terbaring lemas seperti ini?" Geraldi mengulang pertanyaan nya kembali.


"Hmmm" Echi hanya bisa bergumam tanpa berani menatap apa lagi menjawab pertanyaan kekasih nya. Ia tak ingin membuat kekasih nya itu marah jika mengetahui keadaan nya.


"Apa?" Geraldi meninggikan suara nya karena perasaan khawatir yang berlebih. Ia tahu betul seperti apa Echi yang selalu enggan untuk menyusahkan orang di sekitarnya. Echi terlalu sering memendam penderitaan nya sendiri. Sebelum akhirnya ia akan berbagi semua penderitaan itu pada Geraldi.


"Maaf. Sudah seminggu ini aku lemas dan tak berdaya. Aku bukan nya gak mau ngasih tahu. Aku cuma gak mau nyusahin kamu. Aku tau kalo kamu ada banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan." Echi berucap sambil menitikkan air mata. Menumpahkan segala perasaan bersalah bercampur dengan perasaan haus akan perhatian. Karena nyatanya ia dan sang ibu mupun dengan saudara nya tidaklah begitu akrab hingga Echi tidak berani atau lebih tepatnya enggan untuk sekedar curhat.


"Turunkan. Kepala ku tambah pusing. Lebih baik tuntun saja. Aku ingin berjalan." Echi berusaha turun dari gendongan dan memilih berjalan meski di papah oleh Geraldi.


Setibanya di klinik, Echi di periksa oleh dokter dengan teliti. Padahal sudah tiga kali ia sendiri pergi ke klinik namun di tangani oleh perawat. Karena dokter di klinik tersebut menangani pasien lain yang ke adaan nya lebih darurat. Hal ini membuat Echi cemaa akan hasil pemeriksaan nya.

__ADS_1


"Maaf ya, saya akan tekan bagian ini." Dokter tersebut menekan bagian ulu hati Echi dengan perlahan.


"Apa yang anda rasakan?" Tanya dokter tersebut masih dengan menekan di bagian ulu hati Echi.


"Auch, sakit dokter." Echi memberi respon yang membuat dokter terperanjat.


"Apa anda masih gadis. Ehm, maksud nya belum menikah?" Pertanyaan dari dokter tersebut membuat Echi bingung namun seketika ia mengangguk sebagai jawaban.


"Tolong kali ini jawab dengan jujur. Apa anda sudah pernah berhubungan badan, dengan kekasih anda mungkin?" Kali ini pertanyaan dokter pria tersebut membuat Echi termenung seketika.


"Tolong di jawab dengan jujur. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan ini saya harap anda bisa bekerja sama. Karena saya lihat dari daftar riwayat pasien, anda sudah ke tiga kalinya dengan ini datang ke klinik untuk berobat. Kalau memang berobat di sini tidak ada kemajuan juga, sebaiknya anda ke rumah sakit saja, meski memang jarak tempuhnya jauh." Dokter pria dengan usia kisaran tiga puluh tahunan itu masih menunggu jawaban Echi yang tampak kebingungan.


"Iya dokter. Saya memang sudah pernah bergaul dengan pacar saya." Echi terbata bahkan hampir menitikkan air mata saat mengucapkan pengakuan nya yang membuat dokter tersebut tampak marah dan segera menyuruhnya untuk di periksa oleh bidan di ruangan ibu dan anak.

__ADS_1


Setelah di cek urin dan hasilnya positif hamil, Echi kembali ke ruangan dokter yang pertama memeriksanya di dampingi oleh Geraldi. Sepasang kekasih itu menjadi sasaran amarah sang dokter akan kesalahan mereka yg telah melakukan perbuatan asusila.


Dan ternyata kemarahan dokter tersebut di dengar oleh perawat dan petugas klinik hingga kabar kehamilan Echi yang di luar nikah begitu cepat tersebar.


__ADS_2