Butiran Debu

Butiran Debu
meluap


__ADS_3

'Apa karena saking kesal nya sampai sampai suara nya saja masih terdengar jelas di telinga ku' gumam Echi sambil memejamkan mata nya dengan kaki yang terus melangkah maju menyusuri jalanan dengan pemandangan toko yang berderet di sisi kiri kanan nya.


"Ah sial. Kenapa ada genangan air di sini sih. Jadi kotor kan kaki ku." teriak Echi karena terkejut dan kesal saat mendapati kakinya yang basah.


"Hahha, sampai begitu nya. Pasti karena tak tahan akan pesona ku kan. Mendengar suara ku saja sudah membuat hilang kendali." ucap Leon bahagia mendapati ekspresi Echi yang menurut nya sangat menggemas kan itu.


"Eh ternyata emang dia. Bukan halusinasi." refleks Echi berkata demikian.


"Begitu mengagumi ku ya, sampai tak bisa lepas dari ingatan mu seperti nya." ucap Leon sambil tebar pesona


"Jangan halangi jalan gue. Gue mau pulang." hardik Echi sambil mendorong tubuh Leon dari hadapan nya yang entah dari mana datang nya.


"Ups, jangan galak galak dong. Jadi bikin makin gemesh tau." rayu Leon lagi.


"Eh dasar pria mabok lu ya. Repot ngeladenin orang mabok mah. Jadi ikutan keliyengan." ucap Echi sambil menahan amarah.


"Gak usah ikutan pusing juga kali. Mending kita cari makan yuk. Laper nih. Jangan khawatir, di traktir kok. Kamu bebas mau milih makan apa aja. Aku yang bayar." tawar Leon


"Gak minat." jawab Echi singkat sambil berjalan berusaha melepaskan diri dari Leon

__ADS_1


"Ayolah, gak usah sok jual mahal deh. Aku tau kamu juga pasti laper kan. Karena menghadapi pesona aku juga butuh banyak energi." Leon kembali meluncurkan gombalan nya.


Karena berjalan terburu buru dan terus berusaha menghindari Leon, Echi tak menyadari bahwa jalanan di depan nya sedikit berlubang hingga akhir nya jempol kaki nya menabrak batu membuat ia memekik kesakitan.


"Sialan! Jauh jauh lu sana! Argh, jadi berdarah gini kan. Sssh.." Echi meringis sambil memperhatikan kuku pada jempol kaki nya yang berdarah dan membiru karena terbentur pada batu. Lalu berlari lari kecil meski kakinya sedikit pincang.


"kenapa juga sih hari ini harus melayani orang mabok di toko. Permintaan nya macem macem lah, banyak nawar pula dia. Aneh. Orang laki laki kok beli perabotan dapur." Echi mengomel di sepanjang jalan meluap kan emosi yang mengganjal di hati nya.


"Ini lagi kaki. Pake acara nabrak batu segala. Aduh, bakal sanggup gak besok gue kerja." Echi kembali melamun merasakan nyeri yang sudah mulai merambat.


"Heh, ngatain gue mabok. Tapi dia yang meracau terus dari tadi." ucap Leon


"Mau apa emang kalo ketemu gue lagi?" tanya Leon


"Kalo lu ke toko lagi, gue bakal keluar dari toko. Mending jadi pengangguran aja gue." jawab Echi asal.


"Segitu bencinya sama gue ya. Awas aja ntar bisa jadi cinta tau. Benci itu singkatan dari 'beneran cinta' loh" goda Leon yang tak mendapat reaksi apa pun dari Echi.


Seketika Echi pun telah berlalu meninggalkan Leon yang masih berdiri di tempat nya.

__ADS_1


"Ternyata emosi nya sedang meluap saat ini. Kita lihat saja apa yang bisa dia lakukan kalo aku sedang ingin berkunjung lagi ke tempat nya bekerja." gumam Leon sambil tersenyum manis membayangkan wajah kesal Echi.


Sementara di tempat lain Echi masih merasakan emosi yang meluap seakan memenuhi dada nya.


Terasa sangat sesak. Entah apa sebenar nya yang sedang melanda hati nya saat ini. Ia juga tak tahu pasti.


Bisa saja ekspresi nya pada Leon hanyalah sebagai pelampiasan ungkapan luapan emosi semata.


Karena yang sebenar nya ia sedang rindu masa masa berkumpul dengan keluarga nya.


Tentu menjadi hal yang berat bagi nya. Meski pun saat mereka bersama Echi sering merasa di abaikan, tapi ia rindu saat kebersamaan itu.


Mungkin ia pernah berpikir untuk sendiri. Dan kini hal itu pun terjadi dimana ayah, ibu dan adik laki laki yang selalu di asuh nya sekarang pergi ke kota z demi untuk mengais rejeki. Bahkan orang tua nya sudah pergi saat Echi sedang duduk di bangku kelas tiga SMK. Sedang kakak dan adik nya berada di desa tempat kakak nya mengabdi sebagai guru.


Echi terkadang tinggal di tempat nenek nya, terkadang juga tinggal di rumah bibik nya. Sedang di saat dia sekarang sudah bekerja pun ia masih tinggal berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Dari rumah bibi nya, bahkan ke rumah nenek nya untuk menghibur hati nya dari kerinduan bahkan rasa jenuh dan lelah setelah seharian bekerja di toko.


Ia jarang menceritakan kesedihan dan keluh kesah nya kepada saudara sepupu maupun bibik atau bahkan nenek nya. Ia selalu memperlihat kan bahwa diri nya baik baik saja. Ia lebih senang menjadi pendengar dan memberikan saran untuk orang orang terdekat nya dari pada harus meluap kan isi hati nya sendiri.


"Ah, terasa semakin sesak saja kalau harus meladeni tingkah Leon tadi. Semua perasaan sedih dan rindu masa masa bersama keluarga membuat aku tak bisa mengontrol emosi terhadap Leon. Bisa ku pasti kan aku akan pergi bila memang dia terus berniat mengganggu ku." gumam Echi kepada diri nya sendiri

__ADS_1


__ADS_2