
Hari ini langit membentang dengan warna biru nya yang cerah. Angin berhembus perlahan, membuat rasa nyaman saat menerpa kulit.
Seorang lelaki tampak sedang duduk termenung di sebuah kafe sambil memainkan sedotan dengan mengaduk aduk minuman nya.
Raut wajah nya tampak sangat kacau. Muka yang memerah, rambut yang acak acakan, tampak sangat frustasi dari guratan di wajah nya.
Leon. Entah apa yang di pikirkan lelaki ini sedari tadi. Sorot mata nya tampak kosong dan sendu.
Suasana sore yang cerah nyatanya tak jua mampu mencerah kan hati seorang Geraldi Leon yang sedang murung.
Pikiran nya berputar putar mengingat momen pada satu minggu sebelum nya.
Flash back on Leon Pov
Siang itu aku dan kawan kawan ku di beri tugas untuk belanja barang perlengkapan untuk kelangsungan acara yang sudah menjadi tradisi keluarga besar dari jaman eyang ku. Entah dari mana ide itu muncul, namun kami harus menggunakan barang serba baru mulai dari peralatan masak nya. Entah di kemanakan peralatan masak yang digunakan pada acara acara sebelum nya aku pun tak tahu.
Kami menuruti saja perintah tetua dan berangkat ke pasar menggunakan kapal kelotok karena memang tempat kami berada pada jalur sungai dan dirasa moda transportasi umum ini akan sangat membantu. Mengingat barang belanjaan kami nanti tentu nya akan sangat banyak. Sehingga akan sulit jika kami menggunakan motor.
Setibanya di dermaga, tanpa rasa gengsi kami berlima pun turun dari kapal kelotok dan menyusuri jalanan yang tampak toko berderet berhadap hadapan di sisi jalan.
__ADS_1
Aku pun mengusulkan untuk memasuki toko yang tampak menjual berbagai peralatan rumah tangga. Aku yakin akan mudah mencari barang keperluan kami di toko ini. Dan teman teman ku setuju dengan mengekori langkah ku.
Sebelum nya, di rumah tadi kami di suguhi minuman berupa tuak oleh para tetua. Dan untuk menghargai tradisi yang sudah turun menurun, kami pun meneguk sedikit minuman dengan aroma alkohol tersebut. Alhasil, setiap orang yang berpapasan dengan kami mengira bahwa kami sedang mabuk. Sehingga mereka akan menyingkir karena tak mau berurusan dengan kami yaitu orang mabuk.
Saat masuk ke toko pun tampak raut wajah tidak senang dari pengunjung lain maupun dari pekerja di toko tersebut. Mungkin mereka takut bahwa kami akan membuat onar.
Tapi ada satu hal yang menarik perhatian ku. Saat seorang wanita pelayan toko itu masuk dengan memasang wajah cengengesan, ia langsung menuruti perintah dari wanita di balik meja kasir agar menuntun kami untuk menemukan barang yanh kami perlukan.
Ia dengan sabar dan telaten menjelaskan keunggulan kualitas barang dengan perbedaan harga barang yang terdapat di sana.
Sesekali aku mengusilinnya dengan meminta di carikan barang yang lain, tapi aneh nya semua barang yag aku pilih dari handuk kecil, gayung, baskom, teko, ember kecil, spatula, ternyata memiliki harga sama, yaitu lima belas ribu. Sampai sampai aku menjuluki nya 'gadis lima belas ribu'.
Namun semua perbuatan iseng ku tampak tak di respon oleh nya. Ia masih tetap sabar meladeni permintaan ku yang semakin ku buat aneh aneh hanya untuk melihat reaksi marah nya.
Hingga tanpa ku sadari saat melakukan pembayaran, ternyata uang kes yang ada pada dompet ku ternyata tidak cukup untuk membayar belanjaan ku. Aku pun terpaksa menarik uang tunai di Atm dengan rasa malu.
Aku malu kalau kalau mereka pikir aku hanya pria iseng yang mengambil belanjaan seenak nya dan tak sanggup untuk membayar. Dan setelah ku lunasi ke bagian kasir, kami pun bergegas keluar dan mencari kafe untuk memesan minuman atau beberapa cemilan sembari menunggu kapal klotok yang kami tumpangi bergerak pulang.
Namun saat setelah keluar dari kafe, aku melihat pelayan toko itu lagi. Ia berjalan sendirian, mungkin sudah hendak pulang ke rumah nya mengingat hari sudah petang.
__ADS_1
Ketika gadis itu menyadari kehadiran ku, ia tampak kehilangan kendali atas diri nya hingga ia berjalan pada genangan air yang kemudian mengotori kaki nya. Aku semakin gencar menggoda gadis di hadapan ku ini. Reaksi nya jauh berbeda dengan saat kami berinteraksi di toko tadi. Ia tampak sangat emosi, namun saat berusaha menghindari ku kaki nya malah menabrak batu.
Ku lihat jempol kaki nya membiru, dan tampak darah kental membalut kuku kaki nya tersebut. Perasaan bersalah menyelimuti hati ku. Saat hendak menolong nya, ia segera menepis tangan ku dan mengeluarkan kata kata kebencian nya terhadap ku.
"Tau gak sih lu itu nyebelin. Gue harap gak bakal ketemu sama lu lagi. Kalo pun ketemu..." ucapan Echi menggantung.
"Mau apa emang kalo ketemu gue lagi?" tanya Leon
"Kalo lu ke toko lagi, gue bakal keluar dari toko. Mending jadi pengangguran aja gue." jawab Echi asal.
Flash back off
"Ternyata dia beneran orang yang suka tepat janji. Bahkan dia benar benar pergi setelah melihat aku menemani nenek ke toko nya kemarin. Segitu benci kah dia pada ku? Sampai benar benar berhenti kerja di toko dan pergi menjauh?" batin Leon dalam lamunan nya.
Ia sangat menyesali pertemuan nya dengan Echi yang membawa kesan kurang baik. Ingin rasanya ia bertemu dan meminta maaf kepada Echi. Agar tidak ada lagi perasaan bersalah yang penuh penyesalan yang mengganjal dalam hati.
Dalam pikiran nya Echi pergi karena benar benar telah terusik oleh kehadiran nya. Seumur hidup nya Leon tak pernah ada orang yang pergi menjauh akibat benci akan diri nya .Sehingga hal ini benar benar terasa menjadi beban yang mengganjal di hati nya.
"Arghh, harus kah aku mencari di mana keberadaan gadis itu? Meminta maaf pada nya. Untuk menebus perasaan bersalah kepada diri nya. Kalau seandai nya aku tidak iseng terhadap diri nya waktu itu, mungkin aku tidak akan merasa bersalah seperti ini. Mungkin ia merasa sangat marah dan tertekan karena menghadapi sikap ku yang selalu usil dan membuat nya emosi. Hingga memilih untuk pergi jauh. Sejauh jauh mungkin hanya untuk menghindari bertemu dengan ku lagi."
__ADS_1
Terdengar sahutan dari belakang tubuh Leon
"Sudah lah, jangan terlalu di pikirkan. Kalau pun berjodoh, kalian pasti akan di pertemukan" ucap orang tersebut yang ternyata ia adalah Ario, teman Leon