
Sebenar nya meskipun cinta itu tak berbalas, namun apa salah nya jika hati tetap berharap. Namun semua penantian yang tak kunjung mendapatkan kepastian akan membuat hati merasa sakit, tapi entah apa yang harus di lakukan untuk menutup luka yang membekas ini.
Saat jam istieahat tiba, Oca mengajak Echi untuk melakukan ritual wajib di toilet terlebih dahulu, yaitu buang air kecil untuk kemudian ke kantin menikmati santap siang yang di jajakan oleh ibu kantin. Setelah pesanan mereka datang, mereka menikmatinya dengan khidmat. Sudah beberapa hari ini mereka tampak renggang karena tampak tak seceria hari hari sebelum nya. Kalau hari hari sebelumnya mereka selalu berisik dengan cerita dan obrolan yang melantur kemana mana, tapi kali ini mereka tak banyak bicara. Seperti sedang menjaga jarak.
Hening
Hening
dan Hening
"Eh, lo berdua tumben pada senyap gini, biasa nya juga pada nyap nyap." Tiba tiba Riyadi menepuk pundak kedua anak perempuan yang sedang asyik menikmati makanan mereka yang sudah hampir habis.
Echi yang terlonjak kaget mendapat perlakuan Riyadi pun langsung menepis tangan pria tersebut dan kemudian menyambar segelas es cincau lalu meminum nya hingga hampir habis.
"Iya nih, aku juga gak tau tiba tiba nih anak kayak lagi pengiritan aja dia. Jarang mau jawab kalo di ajak ngobrol. Bete aku sama dia tuh" tunjuk Echi ke arah Oca.
"Aku juga lagi males ngomong sama dia." Jawab Oca ketus sambil mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah
"Eh jangan pada marahan gitu dong,, pada baikan napa. Ada di tengah lo bedua dengan muka di tekuk kaya gini berasa jadi orang ketiga gue." sambung Riyadi sambil beranjak namun tetap melihat ke arah dua anak perempuan tersebut yang di sambut dengan lemparan sendok dan sebungkus kerupuk dari ke dua nya.
__ADS_1
"Nah gitu dong, pada kompak.." Riyadi berusaha menangkap kerupuk dan menghindar dari sendok yang melayang hampir mengenai wajah nya. Kressek, krruuk, klontrang.. kira kira gitu lah bunyi dari suara bungkus kerupuk yang di tangkap Riyadi hingga remuk dalam genggaman tangan nya karena dengan kecepatan kedua tangan nya tersebut ternyata berhasil menangkap dan meremmukkan kerupuk tersebut. Sedangkan sendok yang melayang hampir mengenai wajah nya mendarat di piring kosong di meja sebelah tempat duduk mereka. Dan ternyata piring tersebut adalah milik Yudis. Sontak ia pun terkejut lalu berdiri.
"Woy,, siapa yang lempar nih sendok sih. Untung kena piring, kalo sempat kena gue, gak bakal gue kasih ampun." teriaknya penuh amarah.
"Eh, emang mau lo apain tuh orang? jawab Echi.
Yudis lalu menoleh dengan tatapan yang tak ramah "mau gue ajarin tuh anak, biar tau adab sopan santun. Bila perlu gue patahin tangan nya, karena udah kurang kerjaan pake lempar sendok ke arah orang sembarangan."
"Eh, kalo yang lempar anak cewek, mau lo apain? Kan kasian kalo tangan nya di patahin." Jawab Echi lagi dengan tatapan mengiba.
"Oh, jadi lu yang ngelempar ni sendok. Apa maksudnya, lu punya dendam apa ma gue."
"Eh, tunggu dulu, es gue belum abis tau." ucap Echi sambil melepaskan tangan Oca namun ia urungkan karena mendapat tatapan mematikan dari sahabat nya.
"Entar sepulang sekolah baru aku ceritain deh." bisik Oca kemudian.
Di depan gerbang sekolah terdapat sebuah bangku panjang, dan di sinilah Oca dan Echi sekarang. Bukan nya segera pulang ke rumah, mereka malah duduk santai menikmati hembusan angin di tengah panas nya udara siang itu.
"Echi, maafin aku yah." ucap Oca memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu gak punya salah ma aku. Gak perlu minta maaf. Tapi kalo mau cerita aku siap jadi pendengar. Apa sih yang terjadi setelah rencana yamg aku usulkan kemarin? Tanya Echi dengan wajah serius.
"Gak ada apa apa kok. Pas kamu pergi, dia malah nanyain pendapat aku tentang anak kelas dua yang suara ngaji nya bagus itu. Jadi sebbel kan akunya, jadi nya surat itu aku buang di tong sampah" jelas Oca sambil mengingat obrolan nya dengan Yudis saat itu.
"Hah, kenapa kamu baru bilang sekarang? Maafin aku ya, aku gak tau karna kamu juga kalo di tanya malah senyum senyum, bukan nya jawab sih."
"Ya habis aku tuh malu tau. Udah cape nulis buat ungkapin isi hati, malah dia nya ngobrolin orang lain."
"Ya udah deh, kamu tenang aja masih ada aku. Terus kenapa kamu malah kayak ngehindarin dan marah sama aku. Ya, tapi aku minta maaf banget aku gak tau kalo usul aku ternyata gagal pake total lagi. Pasti kamu kessel banget ya." ucap Echi lirih penuh penyesalan
"Bukan gitu, tapi aku marah karena gak suka liat kalian 7kayak nya mesra banget pas olahraga. Kamu bisa ketawa puas banget godain dia."
"Hahaha, ternyata kamu cemburu ya? Maaf kalo aku gak peka. Tapi aku beneran gak ada niat apa apa, sumpah. Tau gitu ngapa gak ikutan aja main bola?" Tanya Echi.
"Males aku, ntar baju aku kotor lagi. Mumpung gak ada gurunya mendingan ngerumpi sama anak anak, gak cape, gak kotor, gak keringetan juga, jadi gak bau deh."
"Tapi jadi marah marah gak jelas. Dasar nasib sama sama ngejomblo aja masih pake di cemburuin" ejek Echi.
Oca hanya mengerlingkan matanya sambil berdiri ke arah parkiran sepeda "pulang yuk, dah sepi nih" ajaknya kepada Echi yang di jawab dengan anggukan kemudian mereka pun mulai mengayuh sepeda nya masing masing dan berlalu
__ADS_1