
"Ekkhhem. Emang nya anak anak muda di desa sini kalo malem pada ngumpul di kafe ini dan pulang jam sembilanan ya." tanya Geraldi memecah keheningan.
"Gak juga." Echi fokus menatap layar ponsel nya
"Sekarang pada ke mana sih mereka?" tanya Geraldi lagi.
"Gak tau." lagi lagi Echi masih menatap ponsel nya membuat Geraldi geram karena di cuekin.
Akhirnya Geraldi pun memilih untuk memainkan game di hpnya. Ia tak ingin melanjutkan obrolan dengan Echi karena takut terbawa emosi dengan jawaban Echi yang terkesan cuek. Bisa bisa Echi menjauhinya kalau sampai Geraldi mengucapkan kata - kata kasar atau mungkin membentaknya.
Akhirnya suasana di antara mereka kembali hening. Mereka hanyut dalam pikiran masing - masing. Hingga kemudian Echi membuka suara.
"Ke mana sih si Aji? Kok malah ninggalin orang asing di sini. Mana orang nya gak asyik lagi." Echi bersuara dengan pelan berharap mendapat respon dari Geraldi yang tampak masih asyik dengan hp di tangannya.
"Eh, Geri. Hubungin kek tuh si Aji. Biar jemput elu." Echi meninggikan suaranya sehingga Geraldi menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Nama gue Geraldi. Kenalin" ucap nya seraya mengulurkan tangan ke arah Echi
"Gak perlu kenalan juga kali. Gue dah tau nama lu Geraldi." jawab Echi sambil merotasikan matanya jengah
"Tapi tadi lu manggil gue dg sebutan Geri." Geraldi mempertegas maksudnya sambil tetap mengulurkan tangan tanda perkenalan
"Suka - suka gue. Lagian lo ngesellin. Mending lo telpon si Aji deh. Suruh cepetan jemput lo. Gue mau tutup." Echi bicara tanpa berbasa basi lagi.
"Gak punya nomernya gue." Geraldi bicara jujur karena memang ia tak menyimpan nomer ponsel Aji. Ucapan Geraldi pun sontak membuat Echi membulatkan matanya.
"Lo aja deh, tolong hubungin temennya Aji kek, biar jemput gue di sini." Geraldi dengan santainya memberikan saran.
"Dasar lo. Sebbel gue, tau gini dari awal udah gue tolak lo buat masuk. Mending besok gue kasih tulisan di depan kafe 'ORANG ASING DI LARANG BERKUNJUNG'." Echi memasang wajah frustasi mendapati jawaban dari Geraldi.
Tak lama kemudian Echi memainkan handphonenya dan menempelkan ke telinganya. Geraldi hanya diam dan pura - pura tak melihat ke arah Echi.
__ADS_1
"Hallo. Assalam mu alaikum. Bunda Syantik, aku minta nomer Aji dong..." Echi seketika merubah suaranya menjadi sangat manja saat melakukan panggilan telepon.
"Mau ngapain minta nomer anak dingin itu? Mau kamu godain ya?" goda suara dari seberang yang ternyata adalah mama Aji.
"Gak lah bunda. Aku gak tertarik sama anak bunda, terlalu dingin. Ntar hati aku beku lagi sama dia." jawab Echi yang membuat tawa Shanti, mamanya Aji terdengar dalam sambungan telpon itu.
"Ah, bunda Syantik malah ketawa sih. Cepetan dong bunda sebutin aja nomernya, biar aku catat. Ada hal mendesak nih, aku butuh banget nomernya Aji. Gak bakal aku godain kok bunda, dianya juga pasti gak bakalan mudah untuk di goda. Syukur - syukur nanti pas aku telpon dia mau langsung angkat." Echi mulai merengek karena pastinya Shanti selaku mamanya Aji akan salah paham dan nantinya akan terus - terusan di goda saat mereka ada kesempatan bertemu.
Akhirnya setelah puas membuat Echi menjadi salah tingkah, mamanya Aji pun memberikan nomer putranya kepada Echi. Begitu sambungan telpon terputus, Echi menyuruh Geraldi untuk menghubunginya.
"Udah gue hubungin berkali - kali tapi gak di angkat nih. Coba lo aja yang telponin deh." Geraldi menuruti perintah Echi, namun yang terdengar hanya suara operator.
"Kan, mana pulsa gue kritis lagi. Lo sih, pake acara di tinggalin sama temen temen lo segala lagi. Jadi nyusahin gue aja. Eh iya, kan tadi lo bertiga sih. Coba telpon temen lo yang satunya. Pasti lo punya lah, nomer dia. Buruan telpon." Echi tiba - tiba teringat akan Ario yang tadi masuk bersama Aji dan Geraldi.
"Gak aktif nomer nya. Nih gue loudspeaker deh." Geraldi mangacungkan hpnya ke arah Echi yang memang terdengar suara operataor yang menyatakan bahwa nomor yang di tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
__ADS_1
Akhirnya Echi pun menelpon nomer Aji setelah ia puas mengomel pada Geraldi karena tak kunjung ada yang membawanya keluar dari kafe. Sedang untuk mengusir Geraldi, rasanya ia tak tega mengingat bahwa Geraldi adalah orang asing yang berkunjung ke desanya. Gerldi yang sedari tadi mendapat omelan dari Echi menanggapinya dengan tersenyum manis, seolah sedang mendengarkan kultum.