
"Halo, abaang... Lagi di mana sekarang?" Echi menghubungi Geraldi via telepon di siang hari yang begitu terik saat ini.
"Assalam mu alaikum." Terdengar sahutan dari seberang.
"Wa alaikum salam. Hehehe maaf lupa salam." Jawab Echi sambil nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya dengan raut wajah konyol.
"Di biasakan mengucap salam dulu kalo nelpon tu. Jangan langsung nyerocos gitu." sahut Geraldi memberikan petuah kepada kekasihnya itu.
"Iya, iya maaf tadi lupa salam. Ayang lagi sibuk gak sekarang? Lagi di mana bang?" Echi melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Ada apa? Tumben pake panggil ayang segala."
"Pengen ketemu kalo bisa. Sekarang."
"Ada yang kangen rupanya."
"Iya, aku kangen sama abang yang gantengnya bikin jadi keingetan terus."
"Ya udah, dateng aja ke rumah."
"Emang abang gak kerja?"
"Inikan lagi jam istirahat sayang, jadi lagi di rumah sekarang."
"Ooo ya udah aku langsung ke sana ya."
Tuuuut. Terdengar suara panggilan terputus. Geraldi langsung menggelengkan kepalanya mendapati perlakuan Echi. Pasalnya di awal menelpon tadi tidak mengucapkan salam dan di ingatkan oleh Geraldi. Namun ternyata kekasihnya itu memang harus di ingatkan untuk terbiasa mengucapkan kalimat "assalam mu alaikum". Kalimat salam yang biasa di ucapkan untuk sesama muslim.
__ADS_1
Masih dengan pikirannya yang menerawang, Geraldi mendengar suara ketukan di pintu. Ah, sepertinya Echi sudah tiba di sana.
Tok Tok Tok (kira kira gitu ya suara pintunya di ketuk)
Geraldi segera berjalan ke arah pintu dan menarik gagang pintu untuk membukanya. Di tariknya gagang pintu secara perlahan sambil mengucapkan salam "assalam mu alaikum."
"Eh, assalam mu alaikum." ucap gadis di hadapannya sambil nyelonong masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Sambil mengikuti Echi, mata Geraldi langsung melotot mendengar kata yang keluar dari mulut Echi. "Kamu itu ya, kebiasaan banget gak ngucapin salam terlebih dulu. Aku udah ngucapin salam bukannya di jawab malah ikut ikutan ngucap salam juga. Menjawab salam itu wajib hukumnya." Geraldi langsung memberikan petuah agar kekasihnya itu bersikap lebih sopan lagi.
"Iya, aku tahu. Biasanya juga aku ngucap salam kok. Tadi aku jawabnya salah karena harusnya aku yang ucapin salam, eh abang malah buka pintunya sambil ngucapin salam. Kan otak aku lodingnya gak secepat itu buat ganti ngucapin salamnya." Jawab Echi membela dirinya.
"Tadi di telpon juga gak ngucap salam tuh. Kalo sesama muslim mustinya kamu ucapin salam. Kecuali kalo sama non muslim. Bilang selamat siang aja ucapan salamnya." Lagi, Geraldi masih memberikan pengajaran pada kekasihnya.
"Iya, aku tau bang. Gak usah di ceramahin juga kali. Sama orang lain biasanya aku gak gitu loh. Tapi kalo sama abang akunya beda. Suka jadi se enaknya gitu. Bikin abang jadi illfeel gitu akunya." ucap Echi jujur apa adanya. Yang memang entah mengapa jika bersama kekasihnya itu Echi jadi melupakan pelajaran etika yang selalu di perlihatkannya pada orang lain. Seolah dirinya itu sengaja untuk membuat Geraldi illfeel. Sesuai misinya sedari awal agar hubungan mereka cepat berakhir jika sang kekasih melihat sikapnya yang suka nyeleneh.
"Ih, abang jangan merajuk gitu dong. Aku kan pengen liat muka gentengnya, jangan di tekuk gitu. Kan aku lagi mau kangen kangenan." Echi berbicara dengan nada manjanya berusaha merayu Geraldi agar menampakkan senyumnya.
"Abang udah makan siang belum? Aku laper, kita makan yuk." merasa kalimatnya tadi tak di respon, Echi memilih menyeret tangan Geraldi ke arah dapur untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan dari pada terus berdebat.
Echi meletakkan makanan yang tadi di bawanya untuk mereka makan siang ke dalam wadah dan ia susun di atas meja makan. Di sendokkannya nasi, lauk dan sayur kemudian ia berikan kepada Geraldi. Baru kemudian ia mengisi piring kosong dengan nasi, lauk, dan sayur yang sama untuk disantap olehnya. Mereka makan dengan khidmat sampai merasakan perut mereka yang tadinya lapar kini sudah kenyang. Namun Geraldi masih belum merubah raut wajahnya. Ekspresi wajah datar yang tampak masam itu masih sama.
Selesai mencuci piring kotor bekas mereka makan tadi, Echi menghampiri Geraldi yang tampak sibuk dengan setumpuk kertas di meja kerjanya yang terletak di sudut rumah tak jauh dari ruang tamu. Tak ada sekat yang jadi pemisahnya hingga gadis itu dapat dengan jelas melihat gerak gerik Geraldi.
"Abang, aku duduk sini ya. Aku mau minta pendapat abang nih." Echi berniat mendaratkan pantatnya untuk duduk di kursi yang terdaoat di depan meja kerja Geraldi.
"Jangan duduk di situ. Sini kamu, aku masih kesal sama sikap kamu tadi." ucap Geraldi sambil mengarahkan Echi untuk menghampiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Aku kan tadi udah minta maaf bang. Janji aku gak bakalan nyeleneh gitu lagi deh. Habisnya aku tu kayak jadi tambah o'on kalo udah sama abang, entah karena gerogi paling." ucap Echi sambil berjalan ke samping Geraldi.
Melihat kekasihnya sedekat itu, Geraldi langsung menarik tangan Echi hinggan ia kehilangan keseimbangan dan terduduk di pangkuan Geraldi. Kedua tangannya langsung ia lingkarkan di perut Echi hingga gadis itu tak bisa bangkit dari pangkuannya.
"Ih bang, lepasin ah. Apa apaan sih malah main pangku pangku kayak gini. Gak enak kalau ada yang liat bang." Echi mencoba melepaskan tangan Geraldi untuk segera berdiri namun usahanya sia sia karena tenaganya yang tak sebanding dengan eratnya cengkraman tangan Geraldi.
"Di rumah ini gak ada siapa siapa, cuma ada kita berdua. Lagian tadi di telpon bilangnya kangen sama abang yang paling ganteng ini." ucap Geraldi sambil menaruh kepalanya di pundak Echi, menghirup dalam aroma tubuh kekasihnya. Tubuh Geraldi yang tinggi membuat gadis dalam pangkuannya itu jadi sejajar dengannya jika di lihat dari belakang.
Echi yang merasakan hembusan napas Geraldi yang menerpa lehernya jadi menggeliat geli. "Jangan goyang goyang. Udah diem aja kalo gak mau membangunkan sesuatu di bawah ini."
"Tapi aku ngerasa gak nyaman bang, lepasin ah. Gak pantes juga kita ada di posisi kayak gini." Echi masih terus bergerak berusaha melepaskan dirinya. Namun seketika wajahnya jadi pias saat merasakan sesuatu yang seakan menusuk pantatnya di bawah sana.
"Biarkan dulu kayak gini. Aku masih pengen meluk. Lagian kamu juga gak pernah mau di ajak jalan dan selalu nolak kalo aku mau meluk apa lagi mau nyium bibir kamu." Geraldi semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku gak mau kalo kita sampai ngelewatin batasan bang." ucap Echi memberi alasan mengapa ia selalu menolak saat Geraldi mulai mendekatkan wajah untuk mencoba mencium bibirnya.
"Kita nikah aja kalau gitu." Geraldi mengucapkan kalimat yang membuat Echi jadi bingung, pasalnya sampai sejauh ini ia masih merasa belum jatuh cinta pada kekasihnya itu. Ia masih bertahan menjalin hubungan kasih karena merasa hanya Geraldi yang selalu mengerti dan membuat dirinya merasa nyaman saat emosinya sedang tak terkendali. Hanya pada Geraldi lah ia selalu berkeluh kesah tentang kegundahan hatinya selama ini.
Merasa kekasihnya hanya diam saja, Geraldi meregangkan pelukannya dan mengintip wajah Echi. "Kenapa kamu mau nikah sama aku bang?" pertanyaan itu lolos dari bibir Echi.
"Karena aku mencintaimu." jawab Geraldi
"Tapi aku kan gak cantik, gak seksi, gak pinter, gak kaya, dan suka ceroboh, cengeng lagi orangnya. Kok bisa abang cinta sama aku?" tanya Echi sambil merendahkan dirinya.
"Karena aku udah jatuh cinta sejak awal ketemu sama kamu. Kamu itu beda sama perempuan lain. Kamu itu unik dan langka." Geraldi menciumi rambut Echi yang masih berada di pangkuannya
*bersambung dulu, besok besok kalo dapet feel buat nulis baru di sambung lagi.
__ADS_1
Makasih buat yang udah bersedia baca cerita ini. Jempol dan komen mu adalah penyemangat ku.☺