
Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Echi. Pasalnya hari ini Geraldi menunaikan ucapan nya untuk datang melamar Echi secara resmi kepada orang tua nya. Namun Echi takut kalau niat baik kekasih nya itu akan di tolak oleh keluarga nya.
Dengan di balut baju gamis putih, Echi duduk gelisah di tepi ranjang sambil meremas kedua jemari tangan nya. Tampak keringat mengembun di kening nya yang di poles make up tipis. Bibir pucatnya yang di poles lipstik dengan warna peach tampak beberapa kali terkatup rapat.
Terdengar samar dari dalam kamar bahwa orang tua Echi atau lebih tepat nya sang ibu menerima lamaran ini.
Echi sedikit lega meski ia kecewa karena sang Ayah tak ada di tengah tengah mereka saat acara sakral ini berlangsung. Sang ayah yang memang di luar kota berdalih bahwa kerjaan nya saat ini sedang tak dapat di tinggal.
Tak apa. Echi tahu bahwa ayah kecewa dengan keadaan nya saat ini. Orang tua mana yang tak kecewa bila anak yang di besarkan dengan kasih sayang, bahkan sang ayah rela kerja jauh dari keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup nya, malah mendapat balasan yang begitu menyakitkan dengam kabar kehamilan anak gadisnya?
"Kak, di suruh keluar sama ibu" suara halus Cantika menyentak Echi dari lamunan nya akan perasaan sang Ayah saat ini.
"Iya." Dengan di tuntun sang adik, Echi berjalan keluar menemui rombongan calon suami dan calon mertuanya.
__ADS_1
Echi dan Geraldi duduk berhadapan di sofa dengan meja kaca sebagai penghalangnya.
"Kamu kelihatan lebih segar. Dan... cantik" ucap Geraldi sambil menatap lamat wajah kekasihnya yang tampak tersipu oleh ucapan nya.
"Ia. Alhamdulillah udah mulai lebih baik dari saat periksa kemarin." jawab Echi canggung sambil menatap satu persatu wajah yang ada di ruang tamu tersebut.
"Habis ini selama seminggu kedepan aku akan pulang ke Jakarta untuk ngurus dokumen untuk syarat nikah. Kamu baik baik selama gak ada aku ya. Jangan banyak pikiran. Pikirin kesehatan kamu sama anak kita aja. Aku janji akan datang lebih cepat untuk pernikahan kita nanti."
Setelah berbincang bincang dan menikmati hidangan yang di siapkan oleh ibu nya Echi akhirnya rombongan Geraldi pulang.
Beberapa hari ini Echi mencoba menahan diri untuk tidak menghubungi kekasihnya. Karena ia tahu Geraldi pasti sedang sibuk untuk mengurus acara pernikahan mereka yang akan segera berlangsung mengingat waktu satu minggu adalah masa yang singkat untuk mengurusi keperluan pernikahan.
Saat sedang melamun membayangkan nasib dirinya, tiba tiba saja ponsel Echi berdering. Segera ia meraih ponsel dan menjawan panggilan tersebut dengan penuh semangat mengira kekasihnya yang memelpon untuk bertukar kabar.
__ADS_1
Namun sayang, bukan nya penyemangat yang ia dengar, melainkan cacian dan kata - kata kasar yang ia dengar dari sang kakak yang sedang terhubung melalui sambungan telpon saat ini.
Ya, yang menelpon saat ini adalah Fira, kakaknya Echi. Sebagai anak tertua ia memyampaikan kekecewaan nya atas tindakan Echi yang terlalu bebas hingga memberikan keperawanan nya pada sang kekasih. Ia menyebut Echi sebagai aib keluarga, ia mengatai Echi sebagai wanita hina yang kotor dan pembuat maksiat yang tak layak untuk di akui sebagai adik oleh nya.
Sementara Echi hanya terdiam dan sesekali berdehem ketika sang kakak memanggilnya.
Sesaat setelah sambungan terputus, Echi merasa sangat terpukul. Ingin ia mati saja untuk mengakhiri jalan hidup nya. Ia tak sanggup menjadi aib keluarga.
Echi pergi ke arah dapur dan meneguk air minum berharap dapat menenangkan hatinya. Namun pikiran nya masih teringat akan perkataan tajam sang kakak.
Echi berjalan ke arah gudang dan mendapati sebotol insektisida ukuran satu liter. Di pandangi nya dengan nanar botol tersebut.
"Satu liter mungkin akan cukup untuk mengantarkan aku terlelap untuk selama nya" begitu batin Echi dengan pikiran sesatnya untuk segera menakhiri hidup.
__ADS_1