Butiran Debu

Butiran Debu
pengumuman kelulusan


__ADS_3

Matahari pagi bersinar dengan cerahnya. Seorang gadis yang baru turun dari angkutan umum pun tampak berdiri mematung memandangi gedung sekolah yang ada di hadapan nya.


Setelah dirasa puas memandangi sekolah tempat ia menimba ilmu, gadis tersebut mulai melangkahkan kaki nya di halaman sekolah dengan langkah berat.


"Baru kemarin rasanya aku berdiri di sini dengan membawa map berisikan persyaratan pendaftaran siswa baru, tapi sekarang aku sudah akan meninggalkan sekolah ini." gumamnya lirih.


Tampak guratan kesedihan di wajah nya. Bukan karna dia takut tidak dinyatakan lulus, tapi ia sedih untuk berpisah dengan guru guru yang sudah membimbingnya dengan sabar. Ia sedih harus meninggalkan teman teman yang selalu mewarnai hari hari nya.


Ia mulai melangkah lagi menuju lobi sekolah. terdapat papan tulis putih di pojokan nya. Dan di situlah daftar siswa yang diterima di umumkan. Masih teringat jelas olehnya, bahwa ia berada di urutan ke dua puluh satu, dari hampir seribu siswa yang mendaftar. Sedangkan yang di terima hanya seratus siswa untuk jurusan Akuntansi.


Saat ini Echi mengenakan pakaian putih abu abu. Setelah dinyatakan lulus pada sekolah menengah pertama dengan menduduki peringkat ke dua di sekolah nya, Echi di daftarkan di SMK kejuruan Bisnis dan Manajemen di jurusan Akuntansi.


Echi harus rela berpisah dengan sahabat SMP nya Oca yang melanjutkan di SMA yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Dan hubungan persahabatan mereka merenggang karena komunikasi yang tak lancar dan mereka disibukkan dengan kegiatan sekolah masing masing.


Echi masih mengenang di saat pertama masuk sekolah ia terpaksa menuruti perintah Yudis yang menyuruh nya melakukan tugas Yudis laksana seorang asisten. Entah itu harus memfoto copy berkas berkas Yudis yang kurang lengkap, membawakan tas sekolah milik Yudis, bahkan mencarikan bahan untuk pelaksanaan kegiatan masa orientasi siswa.


Segitu bucin nya ia terhadap lelaki tersebut hingga mau menuruti semua perintah nya asalkan bisa berangkat dan pulang sekolah bersama.


Tapi untung nya mereka beda jurusan, sehingga setelah masa orientasi siswa selesai, Yudis yang hanya memanfaatkan Echi pun mulai menjauh, Dan lebih memilih bergaul dengan teman sekelas nya. Hal itu membuat Echi sadar bahwa mencintai orang yang tidak mencintai nya akan menyakitkan bagi nya.


Echi berjalan menyusuri lorong sekolah sambil terus mengingat ingat kenangan yang terukir di setiap sudut sekolah nya. Ia berhenti di depan kelas nya.


Di tatap nya satu persatu wajah wajah sahabat yang telah mendampingi nya di masa putih abu abu.

__ADS_1


Echi tampak ingin menghambur dan memeluk teman teman nya, namun ia urungkan niat nya tersebut. Ada air mata yang tertahan di pelupuk mata nya. Ia takut pelukan nya mendapat penolakan dari teman teman nya. Ia memang selalu merasa rendah diri meski pun selalu menampakkan keceriaan di wajah nya.


Namun ketika langkah nya semakin dekat, tubuh nya di tarik oleh seorang pria bertubuh gempal hingga tubuh mereka saling bertabrakan.


Dan disini lah Echi sekarang. Tubuhnya di dekap erat oleh pria yang di beri nama panggilan "kanjeng mami" tersebut. Kemudian teman teman yang lain yang kebanyakan adalah kaum perempuan pun turut berhambur mendekap nya, sehingga tubuh nya terhimpit di tengah tengah drama berpelukan tersebut.


"Echi, kita tu udah nungguin kamu tau." ucap 'kanjeng mami'


"Rasain kamu, jadi kegencet kan kalo acara teletubies nya udah di mulai. BERPELUKAN." ucap anak gadis bermata sipit yang tingginya sepantar dengan Echi yang tak lain adalah Zang Lian. Sahabat yang selalu meminta bantuan Echi dalam urusan percintaan nya.


"Iya nih, lama banget sih kamu Chi. Hari ini terakhir kita bisa kumpul satu kelas gini tau" ucap anak perempuan yang turut mendekap Echi namun mempunyai mata yang lebih bulat dan kulit nya pun sawo matang.


"Ya udah lepas dulu dong ini pelukan nya. Susah napas nih" ucap Echi haru. Ada air mata haru yang di tumpahkan nya di dalam hati. Ia malu bila harus menangis di hadapan teman teman nya.


Dari hasil jepretan kamera hp mereka tampak perbedaan warna kulit yang sangat kontras. Echi dan ke empat teman nya berkulit gelap dan bermata lebih bulat karena mereka turunan pribumi.


Sedangkan 'kanjeng mami' dan yg lain nya adalah turunan tionghoa. Sehingga mata nya lebih sipit, dan warna kulit nya lebih putih. Tapi perbedaan itu tak di permasalahkan oleh mereka. Dan mereka menanggapi semua perbedaan itu sebagai tanda kuasa sang pencipta alam semesta.


Hal inilah yang membuat Echi selalu nyaman berada di sekolah karena merasa memiliki teman teman yg menghargai nya, berbanding terbalik dg sikap keluarga di rumah yg selalu membanding bandingkan dirinya. Sehingga sedikit di sedikit ia mulai percaya akan kemampuan yg ada pada dirinya. Ia berusaha untuk selalu percaya diri dan menunjukkan keceriaan nya.


Saat mereka sibuk berfoto foto untuk mengabadikan momen hari kelulusan, kepala sekolah pun memberi pengumuman bahwa para siswa di larang untuk melakukan pawai dan mencoret coret seragam putih abu abu seperti yg dilakukan oleh siswa siswa tahun lulusan sebelum sebelum nya.


Kepala sekolah pun meminta para wali murid untuk memasuki ruang kelas sesuai jurusan dari anak nya masing masing. pertanda bahwa penyerahan hasil kelulusan akan segera di mulai.

__ADS_1


Kulihat kakak ku sedang maju untuk mengambil hasil kelulusan ku yang terbungkus dalam amplop berwaran coklat.


Aku yang mengintip dari luar jendela kelas mendapat dukungan dari teman teman ku. Ada yg menggenggam tangan ku. Ada pula yg mengelus elus punggung, bahkan bahu dan pundak ku. Seolah olah mereka memberikan semangat agar aku siap menerima apa pun hasil nya.


Kulihat kakak ku keluar dan menyerahkan amplop yang telah di buka. karena kakak ku telah membaca nya saat sambil berjalan keluar setelah menjabat tangan guru pembimbing kelas kami.


Dengan tak sabar aku membuka lipatan kertas tersebut dan ku baca "LULUS".


"Yeay, aku lulus" teriak ku dengan penuh suka cita.


"Syukurlah. Itu artinya kita semua lulus genk... Selamat untuk diri kita." ucap gadis bermata sipit dengan pipi yg cubby sambil mengelurkan sesuatu dari dalam tas nya dan menyemprotkan ke baju Echi sehingga tampak tulisan "LULUS" di baju putih tersebut.


"Hah, apaan ini? Kan pak Kepsek udah larang buat gaak coret coret baju putih abu abu sih" Echi berteriak karena terkejut, tak menyangka kalau teman teman nya sudah menyiapkan pilok untuk aksi coret coret baju.


"Udah, diem aja. Sini aku tanda tanganin baju kamu. Tanda bahwa kita sama sama lulus. Aku mau jadi yg pertama tanda tangan di baju kamu" ucap 'kanjeng mami' mulai membubuhkan tanda tangan nya di dada Echi


Echi melotot mendapai perlakuan dari sahabat lelaki nya tersebut


"mau pertama tanda tangan tapi gak disini juga kali. Cari kesempatan kamu ya?"


Yang di pelototin hanya diam saja sambil meneruskan aksi nya. Echi merasa tidak nyaman dg posisinya saat ini. Karena pria tersebut membubuhkan tanda tangan di dada sebelah kiri nya, sehingga bila di lihat dari jauh tampak seperti seorang pria sedang memainkan buah dada seorang gadis.


"Nah selesai."

__ADS_1


Namun saat di tengah aksi mereka, Echi terdiam mematung setelah melihat seorang gadis berambut lurus dg mata nya yg sipit tampak berjala maju mundur di tempat nya seperti sedang kebingungan. Sontak Echi pun segera menghampiri nya.


__ADS_2