
"Mmm, nggak ngobrolin apa-apa kok, Tuan. Saya hanya sedang memberi tahu Neng Dara tentang semua tugas yang harus dia lakukan."
Dara bernafas lega saat mendengar penjelasan Adam, setidaknya supir tersebut masih mau memihak kepadanya, meskipun baru kenal beberapa jam.
"Yakin? Lagi nggak ngomongin saya?"
Ken menatap kedua pegawainya itu dengan penuh selidik, dia paling tidak suka dibicarakan dibelakang, apalagi sama pegawai sendiri.
"Benar, Tuan. Kami memang sedang membicarakan masalah pekerjaan yang harus saya lakukan, karena saya cukup bingung."Dara mencoba membantu Adam agar tidak semakin terpojok.
Ken menganggukan kepala, "Oke, sekarang kerjakan tugas pertama kamu. Saya tunggu di meja makan dalam dua puluh menit."
Dara terbengong, dia bingung tugas apa yang dimaksud oleh Ken itu. "Neng, kenapa malah masih berdiri? Ayo cepetan kerjakan." Tegur Adam yang ikut geregetan.
"Bentar, Mas. Maksudnya tugas pertama itu yang mana? Ini daftarnya banyak banget."
Adam menghela nafas, "Kan tadi saya pertama ajak Neng Dara kenalan sama Chef Mira. Lagian tadi juga Tuan bilangnya tunggu di meja makan, ya sudah pasti tugasnya adalah masak, Dara."
Saking bingungnya Dara sampai gagal fokus, "Oh, iya." Sahutnya seraya menepuk jidat, "Ya udah aku ke dapur dulu, Mas."
Dara segera berlari ke dapur untuk menyiapkan makan siang, dia baru sadar waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tandanya jam makan siang sebentar lagi.
Adam geleng-geleng kepala melihat Dara yang begitu tergesa-gesa, itulah mengapa Dara jadi sering ceroboh, karena dia suka menganggap suatu hal dengan santai.
Di dapur sudah tidak ada Chef Mira, padahal hanya ditinggal berkeliling rumah sebentar. Dara jadi bingung harus masak apa, karena dia sendiri tidak tau apa yang biasa Ken makan.
"Ah,masak sop aja deh yang cepat." Ucap Dara sambil membuka kulkas mencari bahan masakan.
Dara tersenyum saat melihat begitu banyak bahan masakan di dalam kulkas, dia jadi semangat untuk memasak.
"Wah, kalau di rumahku stok bahan masakan sebanyak ini, pasti aku bisa masakin ibu menu yang sehat setiap hari."
Dara menjadi sedih karena teringat dengan ibunya kembali, dia berharap semoga ibunya cepat pulih, supaya bisa makan bersama lagi.
__ADS_1
Tak ingin menambah kesedihan, Dara segera memulai acara masaknya. Dara begitu senang memasak, semua bahan makanan akan disulap menjadi sesuatu yang lezat oleh tangan gadis itu.
Tepat dua puluh menit kemudian Dara selesai dengan semua menu makan siang, dia segera membawa makanan tersebut ke meja makan.
"Katanya nunggu di meja makan, kemana dia?" Gumam Dara seraya mengedarkan pandangan. "Tau, ah. Mending aku cepat-cepat sajikan. Daripada kena omel lagi."
Dara mempercepat gerakannya dalam meletakkan menu makan siang, setelah semua tertata rapi, dia berdiri di samping meja makan. Bukan apa-apa, Dara hanya ingin tahu bagaimana komentar tuannya itu, dia berharap Ken akan suka.
Tak berapa lama Ken turun dari kamarnya, dia menatap Dara dengan tajam. "Kamu ngapain berdiri disitu?"
"Mau nungguin Tuan Muda makan," Sahut Dara apa adanya.
"Emang aku anak kecil, makan harus ditungguin?" Melihat Dara menggeleng tanpa dosa membuat Ken sedikit meradang, "Kembali ke dapur, kamu boleh kesini lagi kalau aku panggil!"
Dara mengangguk takzim dan segera kembali ke dapur. "Heran sama tuh orang, apa nggak capek marah-marah melulu?" Dara berjalan sambil menggerutu.
Sementara itu Ken menatap makanan satu persatu, dari tampilan dan aromanya memang begitu menggiurkan, dia menunjukkan senyum smirk.
Ken mengambil nasi dengan begitu semangat, tak lupa dia menambahkan sop yang terlihat begitu segar. "Rupanya bisa masak juga tuh anak." Puji Ken sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.
Adam yang sedang berada di garasi ikut panik karena mendengar Ken berteriak begitu keras, beruntung Bi Inah sedang berada di halaman belakang, jadi dia tidak terlalu kaget.
"Ya, Tuan. Ada apa?" Tanya Dara dengan nafas tersengal karena berlari cukup kencang.
"Kamu mau meracuni saya?" Tanya Ken dengan tatapan kilatnya.
Dara menggeleng pelan, "Masakan saya tidak enak, Tuan? Biar saya ganti yang baru." Dara hendah mendekat ke meja makan, tapi terhenti karena tiba-tiba semua makanan melayang.
Shrek! Prank!
Dara terbelalak saat Ken menarik taplak meja, hingga membuat semua makanan buatannya berhamburan di lantai bersama piring dan mangkuk yang pecah.
Bulir bening langsung mengalir dari sudut mata Dara, dia paling tidak bisa melihat makanan di sia-siakan seperti itu.
__ADS_1
Bagi Dara dan ibunya, bisa makan setiap hari saja sudah sangat bersyukur, ketika melihat orang membuang makanan seperti Ken, sungguh hati Dara merasa begitu sakit.
"Kk-kenapa dibuang makanannya, Tuan?" Tanya Dara dengan suara tergagap.
Ken menoleh Adam yang baru tiba di sana. "Adam, jelaskan kepadanya, apa salah dia!" Titahnya yang kemudian melenggang pergi, entah kemana tujuannya, yang jelas dia keluar rumah.
"Tuan mau kemana? Biar saya antar." Seru Adam mengikuti Ken.
"Nggak usah, saya mau pergi sendiri saja. Tidak perlu kamu dampingi. Urus saja gadis bodoh itu sampai pintar, biar nggak lama merepotkan disini!"
Adam pun menghentikan langkahnya dan mengangguk patuh. Dia segera kembali ke meja makan, mendekati Dara yang sudah terduduk dilantai sambil memunguti makanan dengan berderai air mata.
Adam jadi bingung sendiri, mau bertanya pada Ken, tuannya itu sedang mengeluarkan tanduknya. Mau bertanya sama Dara, gadis tersebut sedang menangis tersedu.
"Apa semua orang kaya bersikap angkuh seperti itu? Tidak pernah menghargai kerja keras orang kecil seperti aku? Atau minimal menghargai makanan ini lah."
Dara berceloteh sambil terus memunguti makanan yang kira-kira masih bisa diselamatkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Neng? Kenapa Tuan Muda sampai marah begitu?"
"Aku juga nggak tahu apa salahku, Mas. Tiba-tiba dia marah dan menuduhku meracuninya."
Adam mengerjap-ngerjapkan matanya, "Meracuni?" Dia segera ikut berjongkok untuk mengecek makanan apa yang dibuat oleh Dara.
Netra Adam terbelalak saat melihat udang dan cumi yang berhamburan di lantai. "Kamu masak seafood?" Nada Adam terdengar seakan sedang menyalahkan Dara.
Dara menoleh ke arah Adam dan mengangguk pelan, "Aku bingung mau masak apa, jadi aku buat sup seafood."
Adam menepuk jidatnya. "Pantas saja Tuan Muda begitu marah, dia tidak bisa makan seafood, Dara."
"Hah? Yang benar? Kenapa, dia alergi?"
Adam menggeleng pelan, "Entahlah, yang jelas dia tidak pernah menyentuh makanan yang berbau seafood, jika ada yang memasak menu seafood, pasti akan di marahi seperti kamu tadi."
__ADS_1
"Duh, aku kan nggak tahu. Kamunya juga nggak kasih tahu sih." Kini Dara malah balik menyalahkan Adam.
****