
"Turun!"
Ken berucap dengan tegas saat telah menghentikan mobilnya, tepat di depan sebuah salon yahh cukup besar.
"Loh, Tuan bukannya mau main golf? Kenapa ini ke salon?" tanya Dara dengan polosnya.
CEO muda itu memijat keningnya, sungguh asisten barunya itu membuat dia hilang kesabaran. Ken pun menghembus kasar.
"Kamu pikir aku akan mengajak kamu dalam keadaan buruk rupa seperti itu, hah?"
Deg
Lagi dan lagi hinaan demi hinaan Dara dapatkan dari mulut Ken dengan mudahnya. Gadis yang mengenakan dress putih itu tertegun. Netranya mulai berkaca-kaca, tapi dia mencoba untuk menahan agar tidak menangis.
Melihat Dara yang malah bengong membuat Ken semakin geregetan. Dia pun turun dengan perasaan yang sedikit emosi.
Jebred!
Dara tersentak kaget saat mendengar Ken menutup pintu mobil dengan begitu keras. Tak berapa lama pintu di sebelah Dara pun terbuka. Tanpa aba-aba Ken menarik tangan Dara begitu saja untuk keluar mobil.
"Tu-tuan, ada apa?" tanya Dara kebingungan.
Tapi sayangnya Ken tidak menjawab, malah terus menarik Dara agar keluar mobil.
"Aw, sakit."
Dara mengaduh kesakitan karena Ken menariknya cukup keras. Lagi-lagi keluhan Dara tidak dihiraukan oleh CEO muda itu. Ken terus menyeret Dara untuk masuk ke dalam salon.
Brak!
Seluruh penghuni salon yang kebetulan saat itu hanya ada para pegawai tersentak kaget, melihat Ken membuka pintu dan menutupnya dengan keras.
"Tuna Muda? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu wanita yang mengenakan blouse merah maron, dilihat dari penampilannya sepertinya dia adalah pemilik salon.
"Permak wajahnya sebaik mungkin, memalukan sekali!"
Ken mendorong Dara ke arah wanita tadi, beruntung wanita tersebut dengan sigap menahan tubuh Dara, jika tidak mereka berdua akan jatuh bersamaan.
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan. Silahkan anda menunggu diruang tunggu."
Para pegawai salon terlihat ketakutan melihat Ken yang sedang marah. Meskipun ini kali pertama Ken masuk ke salon tersebut, tapi semua orang mengenal siapa Ken itu.
Suatu kehormatan bagi mereka didatangi oleh CEO muda yang terkenal kaya dan tampan. Tapi apes bagi mereka, karena Ken datang dalam kondisi emosi yang cukup memuncak.
Salah satu pegawai mengantarkan Ken ke ruang tunggu, salah satu fasilitas bagi penunggu adalah minuman dingin dan camila, ada juga televisi untuk menonton atau majalah untuk dibaca agar tidak bosan.
"Silahkan, Tuan." ucap sang pegawai salon dengan sangat hati-hati.
Ken hanya mengangguk, pria berotot kekar itu menghembus kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Tinggalkan aku sendiri!" titahnya seraya mengusir pegawai salon tersebut.
Tanpa basa-basi pegawai tersebut pun mengangguk patuh dan segera pergi dari ruang tunggu.
Sementara itu di ruang rias, Dara sudah duduk di depan cermin dan siap di eksekusi.
Wanita yang mengenakan blouse merah marun tadi menatap Dara dengan intens, dari atas hingga bawah lalu kembali lagi ke atas.
"Kamu siapanya Tuan Ken? Selama ini kami belum pernah dengar dia memiliki wanita." Nada pertanyaan beliau terdengar sinis, seakan tidak suka jika Dara adalah kekasih Ken.
"Hah? Bu-bukan. Saya hanya asistennya. Lebih tepatnya caddy yang sedang dihukum menjadi asistennya tanpa di gaji."
Hahahahaha!
Mendengar penjelasan Dara, membuat sang pemilik salon tersebut tergelak. Kini ekspresinya cukup bersahabat setelah mengetahui Dara hanyalah budak bagi Tuan Muda yang sangat dia kagumi itu.
"Urus dia!" titahnya pada dua pegawai yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Sementara wanita tersebut berjalan menuju ruang tunggu.
Para pegawai hanya bisa mengangguk patuh, karena itu memang sudah tugas mereka. Satu orang mengurus rambut Dara, dan satunya lagi mengurus wajah Dara.
Mendengar Dara seorang caddy, para pegawai salon sudah tau apa yang harus mereka lakukan pada wajah yang sebenarnya sudah cantik natural itu.
Di ruang tunggu terlihat Ken sedang mengganti-ganti chanel televisi untuk menghapus bosannya, tak lupa segelas jus mangga yang dingin cukup meredam emosinya.
"Halo, Tuan. Suatu kehormatan bagi kami kedatangan CEO muda yang sukses seantero raya ini." ucap sang wanita yang memakai blouse maroon. Tak lupa wanita tersebut mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Oh, anda bisa saja." sahut Ken singkat, dia pun menyambut uluran tangan tersebut.
__ADS_1
"Saya Sarah, pemilik salon ini. Boleh minta kartu nama anda atau nomor telepon mungkin? Jadi kalau anda berkunjung lagi nanti, kami bisa siapkan pelayanan yang lebih baik lagi."
Ken memicingkan mata, dari sorot mata Sarah terlihat jelas wanita tersebut begitu menginginkannya. Dia tahu betul bahwa alasan meminta nomor tadi hanyalah modus, karena sejatinya Sarah ingin mendapatkan nomor telepon agar bisa menghubunginya.
"Oh, terimakasih Nyonya Sarah. Tapi saya bukan tipe orang langganan. Saya hanya akan mengunjungi tempat sekali saja."
Plak!
Jawaban Ken cukup menampar Sarah. Wajahnya langsung merah padam menahan marah dan malu yang bergabung menjadi satu.
"Oh, seperti baiklah. Kalau begitu saya akan menemani anda menunggu disini."
Ternyata meskipun sudah ditolak secara mentah-mentah, Sarah masih saja memiliki cara agar bisa dekat-dekat dengan Ken. Sayangnya hal itu bertolak belakang dengan sang CEO karena diganti oleh tante-tante.
Ya, dari penampilannya saja sudah terlihat jelas jika Sarah wanita yang sudah pernah menikah dan memiliki anak. Wajah bolehlah dipoles tebal, tapi usia tidak bisa membohongi.
Netra Ken melirik kesana kemari, mencari kesibukan agar tidak diganggu oleh Sarah. "Tolong percepat pekerjaan anak buahmu, kalau bisa kamu ikut turun tangan. Karena saya sedang sangat terburu-buru."
Sarah mengerucutkan bibirnya, karena ternyata niatnya tidak disambut dengan baik oleh Ken. "Tapi Tuan…
Ken mengangkat tangannya pertanda dia tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi, baginya waktu adalah uang. Sarah pun menghembus kasar, terpaksa dia pergi melihat kerja para pegawainya.
Lima belas menit berlalu Dara sudah selesai di makeover. Hanya memakai make-up flawless saja sudah cukup membuatnya tidak dikenali lagi.
"Tuan Ken, sudah selesai!" seru Sarah ke arah ruang tunggu.
Mendapatkan penolakan dari CEO yang dia kagumi, sungguh membuatnya sakit hati hingga malas bertatap muka. Mendengar hal tersebut Ken pun bergegas keluar.
Langkah Ken terhenti saat melihat Dara sudah sangat berbeda dari biasanya. Cantik. Sungguh sangat cantik. Dara yang sebelumnya tidak pernah bersolek membuat dia sungguh terlihat manglingi.
Ditambah lagi lesung pipi dan gigi gingsulnya yang menambah manis ketika gadis itu tersenyum.
"Ya ampun, cantik banget sih, Mba. Udah kaya model iklan saja." puji salah satu pegawai yang tidak percaya hasil karyanya sebagus itu setelah di aplikasikan pada wajah Dara.
"Halah, biasa aja. Masih cantikan juga aku." sambar Sarah seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Melihat suasana yang semakin tidak kondusif, Ken segera menuju kasir untuk membayar kemudian kembali masuk untuk membawa Dara.
__ADS_1
"Terimakasih untuk pelayanannya. Permisi." pungkasnya seraya menarik tangan Dara.
****