
"Jadi Dara harus bagaimana untuk mengganti stick golf anda itu, Tuan Ken?"
Robert berada di posisi yang serba salah, jika kliennya bukan Kendrick Mahanta, mungkin keadaannya tidak akan serumit ini. Ternyata menjadikan Dara caddy baru bagi Ken, adalah satu langkah yang salah.
Tetapi semua sudah terjadi, kini meskipun Robert tidak tega melihat Dara yang sedih, karena di hari pertamanya kerja sudah membuat kekacauan, dia juga harus menyelamatkan klub golfnya.
Jangan sampai klubnya ditutup akibat kelalaian seorang caddy baru.
Ekhem!
Ken berdehem sebelum mengungkapkan ganti rugi macam apa yang dia inginkan.
"Saya mau—
Ken meminta Dara untuk menjadi asisten pribadinya selama satu bulan, tanpa digaji. Dara harus melayani semua kebutuhan Ken, baik dirumah, kantor ataupun saat bermain golf.
Dara terbelalak, "Ap-apa?"
"Jika dia tidak mau, terpaksa saya akan melaporkan KGRJ ke polisi karena sudah mempekerjakan caddy yang belum berpengalaman. Paling klub ini akan ditutup."
Robert semakin terbelalak seraya menggelengkan kepalanya, KGRJ adalah sumber pendapatannya yang paling besar dibandingkan bisnis yang lain.
"Dara, Om tidak ingin klub ini ditutup." Ucap Robert memohon kepada Dara, karena semua keputusan ada di tangan caddy baru itu.
Entah mimpi buruk apa semalam, kini Dara bukannya bekerja dan mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ibunya. Dia malah harus bekerja tanpa di gaji, akibat kecerobohan yang dibuat sendiri.
Dara menelan saliva sebelum menjawab permintaan sang klien, dia tidak mungkin membiarkan usaha milik Shyna dan keluargnya ditutup, atas kesalahan yang telah dia perbuat.
Dara mengambil nafas dalam-dalam, "Apakah setelah satu bulan nanti, Tuan akan membebaskan saya untuk kembali bekerja disini?"
Dara hanya memastikan hidupnya tidak akan sia-sia, karena hanya menjadi budak yang tidak dibayar.
"Tentu, selama pekerjaan kamu baik dan tidak membuatku malu apalagi marah, setelah satu bulan kamu bebas."
Mendengar jawaban Ken, Dara mengangguk paham. "Baiklah, saya bersedia menjadi asisten anda selama satu bulan, tanpa digaji."
Dara pasrah karena tidak ada pilihan lain, masalah biaya pengobatan ibunya, sudah pasti akan merepotkan Shyna dulu.
Terlihat Ken tersenyum smirk, Dara tidak tahu apakah ini salah satu pembalasan Ken, karena Dara sudah mencak-mencak di jalanan tadi.
__ADS_1
Oh, God. Sungguh Dara merutuki diri karena sudah mencari masalah dengan seorang Kendrick Mahanta.
"Baiklah, Tuan Robert. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi. Saya pinjam caddy anda untuk sebulan ke depan."
"Baik, Tuan." Robert mengangguk takzim.
Ken segera menyeret Dara untuk ikut dengannya. Robert dan para klien lain juga para caddy senior menghela nafas setelah masalah bisa diatasi. Mereka menatap kepergian Ken dan Dara dengan iba.
"Semoga Dara tidak melakukan kesalahan lagi, biar hukumannya segera selesai." Gumam Robert dengan penuh harap.
"Adam, kita pulang!" Seru Ken pada sopirnya.
Adam yang sedang mengelap mobil sontak menoleh kaget. Bahkan dia belum sempat minum kopi dan menggoda para pegawai di kantin klub.
Tapi tuannya sudah mengajak pulang, Adam semakin heran karena Ken mengajak sang caddy juga.
"Bukannya kita baru sampai, Tuan."
"Saya sudah tidak mood untuk main golf, bukannya ngilangin stres, malah tambah stres!"
Ken berucap sambil menoleh kearah Dara dengan sengit. Hal itu membuat Dara menunduk takut.
Adam segera membukakan pintu belakang untuk sang majikan. Dara segera mengikutinya tapi saat hendak masuk mobil ditahan oleh Ken.
" Kamu mau ngapain duduk disini? Duduk depan, kamu itu asisten saya, bukan pendamping saya!"
Dara langsung merengut, ingin rasanya marah, tapi dia tak berdaya. Bukan karena tubuhnya yang lemah, tapi statusnya yang lemah.
Apalah arti seorang asisten? Dia tidak memiliki hak untuk marah apalagi memberontak. Dara menutup kembali pintu mobil dengan keras, hingga membuat Ken terkejut.
Dara duduk didepan bersama Adam sang sopir. Entah kemana Ken akan membawanya pergi,yang jelas Dara kepikiran tentang ibunya.
Dara berulang kali menengok ke belakang, dia sedikit ragu untuk bertanya. Hingga Ken merasa risih melihat Dara yang mencuri pandang.
"Bisa nggak liatin aku terus nggak sih? Aku tahu wajahku memang kelewat tampan, tapi kamu bukan tipeku!"
Dara mengernyit, "Siapa juga yang mau sama orang sombong kaya kamu." Sahut Dara dengan lirih, hal itu membuat Adam terkekeh.
"Kamu ngomong apa hah? Kenapa Adam sampai ketawa!"
__ADS_1
"Mm, enggak Tuan. Mas Adam lagi ketawa sendiri." Sahut Dara seraya menatap Adam dengan tajam.
"I-iya benar, Tuan. Saya sedang ketawa melihat orang lewat tadi."
Dara bernafas lega, beruntung Adam mau diajak bekerja sama. "Tuan, apakah saya harus menjadi asisten anda selama 24 jam?"
Akhirnya Dara memberanikan diri untuk bertanya, "Heh, kamu tuli apa gimana sih? Kan aku sudah bilang, kamu jadi asisten saya selama satu bulan. Itu artinya 30 x 24 jam.
Sontak Dara menoleh, " Terus saya tidak boleh pulang dulu atau sekedar menengok keluarga saya?"
"Nggak ada, aku tahu itu hanya alasan kamu mau kabur 'kan?"
Dara menggeleng cepat, "Aku mohon izinkan saya bertemu dengan ibu sebentar, Tuan." Ucapnya seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Ken menghela nafas, "Oke, tapi cuma sebentar. Itupun harus didampingi oleh Adam!"
"Bba-baik Tuan, terima kasih banyak." Dara kemudian memberitahu Adam untuk menuju rumah sakit.
"Katanya mau ketemu ibu kamu, kenapa malah ke rumah sakit?" Ken menjadi curiga, Jangan-jangan Dara memang berniat untuk kabur.
"Tuan, ibu saya sedang dirawat di rumah sakit. Makanya saya minta diantar kesana." Dara menekankan nada bicaranya, percuma juga berbicara dengan nada tegas, buang-buang energi saja.
Ken mengangguk paham, dalam hati dia menjadi sedikit simpati dengan Dara. Tapi hanya sebatas rasa kasihan karena ibunya Dara.
Begitu tiba di rumah sakit, Dara dan Adam langsung turun. Sementara Ken tetap berada di mobil. Bisa heboh nanti jika orang umum melihat seorang Kendrick Mahanta masuk rumah sakit kelas menengah.
"Loh, Dara? Kok kamu udah pulang sih?" Tanya Shyna heran, dia masih setia menemani ibu dari sahabatnya itu.
Dara tidak menyahut, tapi langsung berlari ke arah ibunya yang masih terbaring kaku di ranjang pesakitan.
"Bu, maafin Dara ya." Ucap Dara dengan menitikkan air mata, dia paling tidak bisa menahan tangis jika sudah berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
Namun Bu Nisa hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, bulir bening turut jatuh dari sudut wanita paruh baya itu.
"Ada apa sih, Ra?" Shyna bingung dengan kepulangan Dara yang tiba-tiba, raut wajah Dara yang tidak biasanya sesedih itu. " Terus dia siapa, Ra?"
Shyna bingung melihat pria berbadan tinggi dan tegap, mengenakan seragam khas seorang supir berdiri di ambang pintu, sorot matanya ikut sedih setelah mengetahui keadaan ibunya Dara.
****
__ADS_1