Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Hati ke Hati


__ADS_3

Mata legam milik Ken menatap lurus ke arah Dara yang sedang mundur ke arah jendela, dia memiringkan kepalanya seraya menyeringai. 


"Percuma kalau mau kabur lewat jendela. Kamu lupa aku beri teralis untuk setiap jendela di rumah ini?"


Deg! 


Saking paniknya Dara lupa akan hal tersebut, yang ada di otak gadis itu hanya bagaimana caranya bisa keluar, jika sewaktu-waktu Ken bertindak diluar batas wajar. 


Keringat dingin mulai keluar dari tubuh gadis berkulit putih itu, tubuhnya gemetar dan perlahan terduduk lemas di lantai. "Aku mohon jangan nodai aku, Tuan. Bagaimana keadaan ibuku jika dia tahu putrinya nanti sudah tidak suci lagi?"


Dara berceloteh dengan berlinang air mata, sesekali dia mengusap bulir bening yang berjatuhan menggunakan punggung tangannya. 


Mendengar Dara yang mulai ngaco dalam berucap, membuat Ken geregetan ingin menyumpal mulut asisten pribadinya itu. Dengan terpaksa CEO muda itu akhirnya turun dari ranjang dan mulai mendekati Dara yang masih terduduk di lantai. 


Tapi berbeda dari tanggapan Dara yang mengira Ken mendekat karena akan melancarkan aksi bejat. Secepat mungkin Dara memepetkan diri ke tembok dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut. 


Tak! 


"Auw…" pekik Dara saat tiba-tiba dahinya dijitak oleh sang tuan. "Sakit…" keluhnya sambil mengusap bagian yang kena jitak tadi tanpa merubah posisi duduknya. 


Tak! 


Sekali lagi Ken menjitak gadis polos yang hobinya overthinking itu, hingga akhirnya Dara mendongak sambil mengusap dahi. Kali ini jitakan tersebut terasa begitu keras dan sakit. 


"Tuan apa-apaan sih?" keluh Dara, bibirnya dikerucutkan hingga hampir membentuk segitiga. 


"Kamu yang apa-apaan? Bisa-bisanya menilaiku serendah itu. Aku kalau mau bertindak senonoh, juga mikir tiga kali dulu. Yakali aku doyan cewek kerempeng kaya kamu itu."


Ken memutar matanya saat mengucapkan kata-kata tersebut, karena dia sudah tahu pasti Dara akan cukup tersinggung. 


Benar saja, gadis yang mengenakan baju tidur berwarna navy itu membulatkan mata saat dibilang kerempeng. Bahkan dia sampai memeriksa seluruh bagian tubuhnya, apakah benar dia sekurus itu? 


"Aku tidak kerempeng, badanku memang tidak bisa gemuk, Tuan."


Lucu sekali, padahal Ken hanya bercanda masalah badan tersebut. Tapi Dara malah menganggap serius. 


Tak ingin mendengar Dara semakin ngaco dalam berbicara, Ken kemudian berdiri dan menggandeng tangan asisten pribadinya itu. "Ayo, ikut aku." titahnya. 

__ADS_1


Segera Dara menarik kembali tangannya itu. "Tuan, mau ngapain?" netranya menatap penuh selidik kepada pria jangkung yang saat ini ada dihadapannya itu. 


Ken sampai menghela nafas berkali-kali, karena melihat tingkah Dara yang sungguh berlebihan baginya. Tidak menjawab, dia malah mengangkat tubuh Dara ala bridal style. 


"Ah… ! Tuan, turunkan aku. Kamu masih sakit, Tuan. Aku tidak ingin jatuh karena kamu masih lemas." celoteh Dara sambil berusaha turun. 


Sayangnya Ken malah semakin mendekap tubuh Dara yang terlalu ringan bagaikan angin itu. Bukan terlalu kurus, hanya saja Dara cukup tinggi hingga membuatnya terlihat kurus. 


Padahal untuk postur tubuhnya termasuk kategori ideal, bagian dada dan bokongnya cukup padat dan berisi. Setiap kamu adam yang melihatnya pasti akan langsung terpesona dan tergoda.


Itulah mengapa Ken tidak suka saat Dara mengenakan pakaian seragam caddy yang disediakan club. Ken membelikan seragam sendiri untuk Dara saat menemaninya main golf nanti. 


Brug! 


Ken menjatuhkan Dara di sofa depan TV. Ya, setiap kamar di rumah tersebut memiliki fasilitas sofa, TV, kulkas kecil serta AC yang dingin. Sehingga setiap tamu yang menginap akan merasa nyaman. 


Tapi meskipun semua kamar, bukan berarti kamar Dara, Bi Inah dan Adam juga seperti itu. Tidak. Mereka menempati rumah belakang dimana rumah tersebut dikhususkan untuk para pegawainya itu. 


Dara mengerjap, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tuannya. Tapi satu yang dia tahu, saat ini tidak boleh banyak protes kalau tidak ingin berakibat fatal. 


"Tuan, kamu baru saja minum obat. Seharusnya tidur kenapa malah nonton begini?"


Perasaan Dara sudah jauh lebih tenang, karena rupanya Ken membawanya ke sofa hanya untuk menemani nonton. Jujur saja dia merasa malu karena sudah berburuk sangka. 


"Siapa yang perintah kamu untuk kembali memanggilku Tuan?"


Hup! 


Dara langsung mengatupkan bibirnya yang semula terbuka hendak bertanya. "Maaf, Mas. Masih kurang terbiasa dengan panggilan tersebut, jadi agak canggung."


"Ya makannya biasakan!"


Reflek Dara mengangguk patuh dan kembali menatap ke layar TV. "Mas, kamu sudah merasa baikan? Kok tadi bisa gendong aku seperti itu?" 


Meskipun sedikit takut, Dara tetap memberanikan diri untuk bertanya. Daripada nantinya malah penasaran dan kebawa mimpi, repot. 


Ken menganggukkan kepala, "Setiap melihatmu dan ada di dekatmu aku merasa sangat baik dan sehat. Makannya jangan pernah berfikir untuk menghindari atau pergi dari sisihku."

__ADS_1


Deg! 


Dara heran mengapa bosnya itu sekarang semakin suka blak-blakan tanpa merasa gengsi sedikitpun. 


"Tapi, Mas. Nanti setelah masa hukuman selesai, aku tidak tinggal disini lagi. Kamu tidak berniat untuk mengurungku disini selamanya bukan?"


Sontak Ken menoleh ke arah Dara yang duduk disampingnya itu. Irisnya yang hitam legam menatap lurus pada gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi isi kepalanya itu. 


"Aku tidak akan membiarkanmu kembali bekerja xiy club itu lagi. Aku tidak terima wanita yang aku sayang menjadi rebutan para lelaki hidung belang berkedok CEO."


Blush! 


Pipi Dara sontak memerah saat mendengar Ken berucap demikian, rasanya seperti dia adalah wanita yang sangat istimewa. Tapi itu hanya beberapa menit saja, setelah itu Dara segera menyadarkan diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi. 


Sampai saat ini Dara masih belum percaya jika Ken benar-benar memiliki rasa padanya. Dia takut hanya dijadikan mainan oleh CEO muda dan kaya itu. 


"Mas, aku belum menjawab pernyataanmu. Jadi kamu tidak berhak untuk mengaturku."


Ken menghembus kasar, dia sampai lupa jika Dara belum memberikan jawaban. Kini dia menatap lurus ke arah TV yang kebetulan sedang ada adegan pernyataan cinta. 


Di film tersebut ceritanya hampir mirip dengan kisah Ken dan Dara yang berbeda kasta, tapi memiliki perasaan yang sama. Hingga akhirnya mereka menjalani hubungan yang indah. 


"Lihat, mereka tidak mempermasalahkan status sosial ataupun background dari masing-masing. Selama memiliki perasaan yang sama, kenapa tidak mencoba untuk bersama?"


"Mas, itu hanya film. Cerita fiksi, di dunia nyata tidak ada cerita seperti itu."


"Makannya ayo kita buktikan bahwa di dunia nyata juga ada yang seperti itu."


Dara memijit dahinya karena untuk pertama kalinya dia berdebat dengan sang tuan muda demi urusan hati dan perasaan. Jujur saja dia lebih suka Ken yang dulu, yang arogan. Bukan yang mendadak bucin seperti ini. 


"Aku masih belum percaya jika kamu sungguh-sungguh denganku." celetuk Dara kemudian. 


"Baik, akan aku buktikan besok."


Besok? Memangnya apa yang akan Ken lakukan besok? Dara semakin cemas karena akhir-akhir ini Ken cukup nekat. 


***** 

__ADS_1


__ADS_2