Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Hukuman Lagi


__ADS_3

Dog! Dog! Dog! 


"Dara!" seru Ken seraya menggedor pintu kamar asisten pribadinya itu. Dia sungguh tidak sabar menunggu sang pemilik kamar membuka pintu, hingga menggedor nya berkali-kali. 


Bi Inah yang baru sampai karena mengejar, cukup terengah-engah karena khawatir dengan keadaan tuannya yang belum pulih total. Memang hanya alergi jus buah, tapi sebagai pegawai yang sudah lama, Bi Inah paham betul jika Ken akan merasa lemas dalam jangka waktu cukup lama, jika tidak istirahat yang cukup. 


"Tuan, kenapa pergi begitu saja? Mari kembali ke kamar, makan malam dan minum obatnya." ajak wanita paruh baya itu berusaha membujuk. 


Ken menoleh sejenak, tapi tak berapa lama kembali menatap pintu bercat putih yang ada tepat di hadapannya itu. "Bi Inah istirahat saja, saya bisa makan sendiri nanti." titahnya. 


"Tapi, Tuan… 


"Tolong, Bi. Saya masih ada urusan dengan Dara dulu, masalah makan dan minum obat itu gampang." potong Ken. 


Akhirnya Bi Inah mengangguk patuh dan membiarkan Ken sendirian di depan kamar Dara. Sementara wanita paruh baya itu menuju kamarnya sendiri yang berada di ujung. 


Di dalam kamar, Dara yang baru saja bisa memejamkan mata, tiba-tiba merasa terganggu dengan gedoran pintu yang bertalu-talu tidak berhenti. 


"Sshhh… siapa sih? Ganggu orang tidur saja." gerutunya karena tidak mendengar saat Ken memanggil-manggil tadi. 


Dengan langkah gontai, Dara berusaha berjalan menuju pintu. Sejatinya dia yang sudah cukup mengantuk, membuka pintu pun seakan tidak ada tenaga. 


Klek!


Seketika mata Dara yang semula masih agak terpejam, mendadak terbuka lebar saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu. 


"Tu-tuan? Apa yang membuatmu ada disini?" tanya Dara sedikit gelagapan, netranya sibuk mencari keberadaan Bi Inah yang tidak terlihat. 


Tidak ada jawaban, Ken malah mendekat dan membuat Dara sedikit memundurkan diri. Pria yang mengenakan kaos oblong itu meletakkan punggung tangannya pada kening Dara untuk mengecek suhu tubuh. 


"Tidak panas, kata Bi Inah kamu sakit. Kamu bohong ya?" tuduh Ken dengan sarkas. 


Sejujurnya Dara sedikit terkejut saat mendengar Bi Inah bilangnya dia sedang sakit. Tapi setelah dipikir-pikir kalau jujur sedang capek pasti akan kena marah Kendrick. 


Gadis yang sudah mengenakan baju tidur itu menggeleng pelan. "Bu-bukan begitu, Tuan. Aku sedikit kurang enak badan, tapi bukan berarti aku sakit panas dan sebagainya."


Beruntung Dara memiliki segudang akal yang bisa dijadikan alasan. Dia hanya bisa berharap semoga alasan yang dia berikan cukup masuk akal. 

__ADS_1


"Kenapa manggilnya Tuan lagi?"


Netra Dara kembali dibuat terbelalak saat mendengar jawaban bosnya yang serba bisa itu. "Ma-maksudku Mas, ya Mas Kendrick." imbuh Dara mengulangi jawabannya. 


Melihat Dara yang sepertinya baik-baik saja, membuat Ken memicingkan mata jika sakit hanyalah alasan asisten pribadinya itu untuk menghindar. 


Tiba-tiba saja Ken menggandeng tangan Dara dan menariknya untuk ikut bersama menuju kamar tamu. 


"Eh, Tuan. Maksudku Mas, aku mau dibawa kemana?"


Sayangnya semua protes, pertanyaan serta usaha Dara untuk melepaskan diri sia-sia saja. Pegangan tangan Ken begitu kencang dan sulit untuk dihindari. 


Jebred! 


Ken menutup pintu kamar dengan cukup keras hingga membuat Dara memejamkan matanya. Tak lupa CEO muda itu juga mengunci pintu dan membuang kuncinya ke sembarang arah. 


Netra Dara terbelalak melihat tingkah Ken yang tidak biasanya seperti itu. "Mas, kenapa kuncinya dibuang?"


"Itu hukuman buat kamu yang sudah mencoba menghindari dariku." sahut Ken dengan ketus. 


Pria berbadan tegap itu lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk bersandarkan bantal. "Lakukan tugasmu!" imbuhnya seraya menunjuk ke arah nampan yang  berisi makanan di nakas. 


Dengan telaten Dara mulai menyuapi tuannya itu, meskipun kini situasinya jauh lebih canggung dari biasanya. Pasca Ken menyatakan perasaannya, Dara menjadi serba salah saat berhadapan pria yang berstatus sebagai bosnya itu. 


Tidak dengan Ken yang malah semakin bertingkah, selama Dara menyuapinya tak sedetikpun Ken memalingkan pandangannya dari gadis yang ada di hadapannya itu. 


"Tinggal minum obatnya, Mas." ucap Dara. 


Saking fokusnya memandangi Dara, Ken sampai tidak sadar jika makanannya sudah habis. 'Enak juga jika sakit begini ya? Diurusin, diperhatiin.' gumam Ken dalam hati. 


"Mas, ini obatnya." ulang Dara sambil menyerahkan empat butir obat yang sudah siap minum itu. 


Gadis itu heran kenapa setiap diajak berbicara bawaan tuannya itu malah melamun. Mendadak firasatnya jadi buruk, khawatir Ken akan bertindak diluar dugaan. 


Netra Dara mengedar mencari keberadaan kunci yang dilempar tadi, hatinya resah karena sudah menatap keseluruh sudut ruangan tapi tidak menemukan benda kecil yang sangat berharga itu. 


Tiba-tiba saja sebuah gorden berwarna abu-abu tua menarik perhatian Dara, di balik gorden tersebut terdapat jendela yang mengarah keluar. 

__ADS_1


Meskipun tepat di depan jendela itu terdapat kolam yang cukup dalam, setidaknya gadis berkulit putih itu memiliki jalan untuk bisa kabur. Dia pun bernafas lega. 


"Aaa… " ucap Ken seraya membuka mulutnya lebar-lebar. 


Dara mengernyitkan dahi saat melihat tanggapan Ken yang malah membuka mulut, bukannya menerima obat yang dia berikan. 


"Ini obatnya, Mas." ulang Dara seraya menunjukkan butiran obat di telapak tangan. 


"Kamu nggak lihat aku sudah membuka mulut cukup lebar? Minum obatnya mau disuapin juga."


Sungguh Ken merasa geregetan melihat Dara yang pura-pura bodoh dengan kode yang dia berikan. Sementara itu Dara dibuat kikuk karena semakin kesini Ken malah semakin berani. 


Bukan berani dalam artian memarahi atau membentak, Dara malah lebih suka Ken yang pemarah seperti saat awal bertemu. Daripada sekarang sok manja dan suka blak-blakan masalah hati dan perasaan. 


"Aaa… "


Ken kembali membuka mulutnya, akhirnya dengan perlahan Dara menyuapi obat-obat tersebut dan tak lupa air minum untuk membantu obat cepat tertelan. 


Selesai mengerjakan tugas malamnya, Dara segera beranjak dan mencari keberadaan kunci yang dilempar Ken tadi. 


"Kamu nyari apa?" tanya Ken heran. 


"Kunci, Mas. Tugasku, kan, sudah selesai. Aku mau kembali ke kamar." sahut Dara tanpa memalingkan wajah. 


"Nggak akan ketemu, karena aku sudah membuangnya. Sebagai hukuman karena kamu telah berusaha  menghindari aku, maka malam ini wajib tidur di kamar ini bersamaku."


Sontak Dara menoleh kaget, bola matanya terbelalak sampai-sampai hampir terlepas dari tempatnya. "Apa?" ucapnya dengan penuh penekanan. 


"Kamu nggak dengar aku ngomong apa? Malam ini kamu tidur disini bersamaku, Andara Chikita."


Glek! 


Dara menelan saliva karena saking terkejutnya dengan perintah yang diberikan tuannya itu. "Tapi, Mas. Kita itu bukan  muhrim, nanti apa kata Bi Inah sama Mas Adam? Eh maksudnya Kang Adam?"


"Ngapain ngurusin mereka, kamu disini itu bertugas melayaniku. Bukan mereka."


"Melayani?"

__ADS_1


Tubuh Dara sampai bergetar hebat saat mendengar dan mengulangi kata melayani itu. Perlahan dia berjalan mundur, karena sepertinya apa yang dia khawatirkan akan benar-benar terjadi. 


**** 


__ADS_2