
"Lalu…
Ucapan Bu Nisa terjeda sesaat karena masih belum percaya dengan apa yang dia dengar. Tangannya masih sibuk memegangi dada karena mendadak begitu sesak.
Semenjak sembuh dari stroke dadakan yang menyiksa wanita paruh baya itu dalam beberapa pekan, dia memang didiagnosis bisa mengalami komplikasi penyakit lainnya. Itulah mengapa Dara benar-benar harus menjaga kesehatan fisik dan juga mental ibunya.
"Ibu kenapa?" tanya Dara dengan begitu panik.
Kini rasa sakit hatinya tidak sebanding dengan sakit yang diderita sang ibu. Dia tidak akan pernah memaafkan Ken jika terjadi sesuatu pada ibunya lagi. Meskipun Kendrick juga yang sudah membantu biaya rumah sakit saat sang ibu struk tempo hari.
"Aman, Sayang," sahut Bu Nisa seraya mengangkat telapak tangannya.
Wanita dengan rambut yang separuh sudah berwarna putih itu tidak ingin membuat putrinya khawatir, terlebih disaat tidak tepat seperti ini. Sebagai wanita, Bu Nisa paham betul bagaimana sakitnya Dara telah diberi harapan palsu.
Bagaikan diajak terbang setinggi langit, tapi tiba-tiba saja setelah berada di ketinggian, dijatuh dan dihempas begitu saja tanpa belas kasihan.
"Baguslah kalau aman. Itu artinya anda masih bisa berjalan bukan?" sosor Olivia begitu saja.
"Maksud, Nak Oliv ini apa?"
Bu Nisa mengernyit, mencoba memahami kemana arah bicara wanita yang mengaku dan diakui sebagai istri Kendrick itu.
"Aduh! Please deh, kamu jangan panggil aku Nak. Jijik aku dengernya. Memang kamu siapa? Hah! Panggil aku Nyo…nya! Nyonya Kendrick! Paham?"
Nada bicara Olivia begitu kemayu dan manja, namun penuh sindiran yang menyakitkan karena berupa hinaan.
Dara yang tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu sudah berdiri dan hendak menghadapi Oliv, akan tetapi Bu Nisa segera melarangnya.
Wanita paruh baya itu menggeleng pelan pada Dara, sebagai isyarat bahwa putrinya itu tidak boleh melakukan tindakan gegabah yang nantinya malah merugikan diri sendiri.
__ADS_1
Sebagai anak yang patuh dan berbakti, Dara hanya bisa menghembus kasar sambil terus menatap Oliv dengan penuh kebencian. Kini wanita bertubuh jenjang itu sudah tidak sudi lagi menatap Ken yang sedang berdiri di samping Oliv.
Mendengar Ken mengakui bahwa Olivia sebagai istri, sementara dirinya hanya dijadikan pelampiasan disaat istri jauh saja sudah membuat Dara merasa bodoh dan sangat terhina.
'Apa aku serendah dan semurahan itu?' batin Dara bertanya-tanya pada diri sendiri.
Akan tetapi pecuma saja jika dia melayangkan pertanyaan tersebut pada Ken, karena Dara takut yang ada malah dia semakin mempermalukan diri sendiri.
"Baik, Nak…eh maksudnya Nyonya. Apa maksud ucapan anda barusan?"
Bu Nisa mengulangi pertanyaannya dengan sedikit canggung dan gugup.
Wanita berambut pirang itu berjalan mendekati Bu Nisa yang masih duduk di tempat tidur. "Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa maksud ucapanku tadi. Kalian ini bukan siapa-siapa disini, jadi untuk apa lagi tinggal di rumah ini?"
Ken membulatkan netranya. "Oliv!" geramnya.
"Suamiku, Sayang…sssttt!" sahut Oliv sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Tidak lupa salah satu matanya mengedip genit hingga membuat Ken bukannya tergoda malah bergidik ngeri.
Wanita licik itu sengaja mengingatkan Ken akan nasib para pegawai yang ada di tangannya. Selangkah saja maju melindungi Dara, maka selangkah mundur pula para pegawai akan kehilangan pekerjaan.
Keterlaluan! Licik! Tapi memang begitulah Olivia. Wanita yang keras kepala dan berambisi tinggi. Segala sesuatu akan dia lakukan demi mendapatkan yang diinginkan. Meskipun harus menghilangkan nyawa seseorang sekalipun.
"Anda tidak perlu capek-capek mengusir kami. Karena hari ini juga kami akan pergi dari sini!"
Kini Dara lah yang berbicara. Dia tidak sudi dirinya bersama sang ibu menjadi bulan-bulanan Oliv di depan Ken. Sementara Kendrick sendiri hanya diam tak berkutik. Benar-benar bagaikan patung, jangankan memiliki hati nyawa saja tidak punya.
Dimana Kendrick yang dulu? Yang selalu dingin dan angkuh setiap kali melihat wanita yang bertingkah tidak sewajarnya. Ah, iya. Hampir saja lupa. Tingkah Kendrick tersebut hanya berlaku bagi wanita asing. Sementara Olivia adalah istrinya.
Dara menggeleng pelan, bisa-bisanya dia berpikir sampai kesana. Mengharapkan Ken akan bertindak kasar pada Oliv, layaknya bertindak kepadanya saat pertama bertemu.
__ADS_1
'Sadar Dara… sadar!' batin gadis itu meyakinkan diri.
"Wah… baguslah kalau begitu. Jadi saya tidak perlu repot-repot memanggilkan security untuk menyeret kalian keluar dari sini."
Oliv berucap sambil berjalan memutari kamar yang ditempati Dara dan ibunya. "Aku beri waktu kalian sampai sore ini. Jika malam kalian masih berada disini, jangan salahkan aku jika akan mengusir secara paksa."
Wanita yang mengenakan dress panjang dengan belahan sampai paha itu segera berbalik arah."Ayo, Sayang. Kita ke kamar. Sepertinya kita harus mandi bersama untuk membuang debu dan aura negatif."
Dara terbelalak mendengar Oliv mengajak Ken akan mandi bersama. 'Astaga. Sadar Dara, mereka ini pasangan suami istri. Jadi bebas mau ngapain aja.'
Berkali-kali hati dan otak Dara bertolak belakang. Hatinya masih merasa janggal dengan kedatangan Oliv dan hubungan suami istri yang tiba-tiba baru terungkap. Tapi otaknya selalu menyadarkan karena sudah ada bukti yang konkret.
Ken hanya mengusap wajahnya dengan kasar karena berasa seperti manusia bodoh, mau diajak kemanapun dan melakukan apapun, sementara di depan sana ada hati wanita yang hancur berkeping-keping akibat hal tersebut.
Dara hanya menatap kepergian dua manusia yang katanya sepasang suami istri itu dengan pilu. Dia tidak menduga bahwa nasib percintaan yang baru dia mulai, harus berakhir begitu tragis.
"Sabar, Ndo… ambil saja hikmahnya. Semua sudah ada yang mengatur, kita serahkan kepada Alloh saja."
Bu Nisa mencoba memberikan nasehat pada putrinya, meskipun dia sendiri juga masih sulit menerima kenyataan.
Gadis yang sudah mengganti pakaian dengan kaos oblong dan celana levis itu memaksa untuk mengulas senyum. "Iya, Bu. Aku nggak papa ko. Lebih baik aku segera berkemas. Ibu istirahat saja, menabung energi untuk perjalanan ke rumah nanti."
Bulir bening hampir saja lolos dari sudut mata Dara, jika saja sang empunya tidak langsung mengusapnya dengan punggung tangan. Dia tidak ingin menangis di depan sang ibu. Sebisa mungkin gadis yang mengaku mandiri itu bersikap kuat dan tegar.
Tanpa mereka sadari, ada dua sosok yang sebenarnya menguping pembicaraan mereka, bahkan sejak ada Ken dan Oliv juga.
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres ini. Tuan Ken tidak mungkin setega itu sama Neng Dara," ucap seorang wanita yang hampir seumuran dengan Bu Nisa.
"Betul. Kita harus membantu Tuan Muda untuk mengusut kasus ini. Bila perlu sampai ke akar-akarnya!"
__ADS_1
Kini suara seorang pria yang hampir seumuran dengan Ken terdengar begitu menggelora. Bagaikan pemuda yang siap untuk terjun di medan perang.
****