
"Ini kok para wartawan bisa tau alamat kita disini sih, Ra?" tanya Bu Nisa penuh heran.
Dara yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menghadapi serangan para wartawan dan juga tetangga yang julid hanya bisa mengedikkan kedua bahunya.
"Entahlah, Bu. Mungkin ada yang mengorek-ngorek informasi tentang kita. Mereka, kan, cari duit. Apalagi tetangga kita tidak ada yang pro, kebanyakan kontra dengan kita bukan?"
Bu Nisa mengangguk pelan. Kini mereka berdua memilih duduk di ruang tengah. Tidak peduli huru-hara yang terjadi di luar rumah. Yang jelas mereka hanya ingin hidup tenang.
Tin…Tin…Tin…
Dara dan juga Bu Nisa saling pandang saat mendengar bunyi klakson yang panjang dan berkali-kali diserukan. Penasaran siapa yang menambah kegaduhan tersebut, mereka pun mengintip dari balik tirai.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jas keluar dari mobil, pria tersebut di dampingi oleh putrinya yang tidak lain adalah sahabat Dara sendiri.
Ya, mereka adalah Tuan Robert, owner KGRJ bersama putrinya yang cantik yaitu Margareth Shyna. Sontak saja kedatangan mereka mengalihkan perhatian para wartawan. Tanpa komando para pemburu berita itu langsung mengelilingi pria yang cukup berpengaruh bagi Kendrick Mahanta.
"Tuan Robert? Apa tujuan anda datang kesini? Ada hubungan apa anda dengan Nona Dara?".
Serentetan pertanyaan langsung menyerbu pria berambut cepak itu. Beruntung Tuan Robert sudah terbiasa menghadapi serangan wartawan seperti itu, sehingga dia bisa tetap tenang dalam menghadapi.
"Yang jelas Dara itu sudah seperti anak saya sendiri. Jadi tolong kalian berhenti mengorek-ngorek tentangnya lagi. Apa kalian tidak kasihan? Cari berita ke mereka-mereka yang memang berpengaruh pada pekerjaan kalian saja. Jangan rakyat biasa seperti dia."
Tuan Robert berucap sambil berjalan menembus kerumunan para wartawan, tak lupa Shyna membuntuti sambil terus menggandeng tangan ayahnya itu.
Sudah seperti kebiasaan, setiap kali Tuan Robert melarang para wartawan untuk meliput orang-orang disekitarnya, maka para pemburu berita itu pun menurut, meskipun sebenarnya kecewa.
Dalam hitungan menit para wartawan yang semula berkerumun di halaman rumah Dara, satu persatu mulai pergi. Tuan Robert sengaja membawa para bodyguard yang biasanya berjaga di KGRJ.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada wartawan yang tersisa, Dara dan Bu Nisa pun berani membuka pintu. Sontak saja Shyna yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk bertemu sang sahabat, berlari untuk memeluk Dara.
"Ra, maaf banget karena baru bisa datang sekarang," ucap Shyna di balik pelukannya.
Sejak Bu Nisa dirawat dan dibawa Ken ke rumahnya, Shyna dan Dara benar-benar hampir hilang kontak. Terlebih putri dari owner klub golf itu sudah memiliki kesibukan sendiri.
Kini setelah mendengar berita tidak mengenakkan tentang Dara, Shyna langsung cancel semua jadwal pekerjaannya dan meminta sang ayah untuk menemani. Dia tahu betul disaat seperti ini Dara butuh dorongan dan dukungan dari orang-orang disekitarnya.
"Nggak papa, Na. Aku yang makasih banget, karena kamu sudah selalu ada disaat aku susah."
Lagi-lagi Dara merasa hutang Budi pada Shyna. Sejak jaman SMA, saat Dara butuh pekerjaan untuk pengobatan ibu, bahkan kini saat Dara tersandung masalah, Shyna menjadi satu-satunya sahabat yang selalu ada.
"Itu sudah kewajiban kita untuk saling membantu bukan?" sambung Tuan Robert dengan menyunggingkan senyum.
Bu Nisa yang sedari tadi terbawa suasana saat melihat Dara dan Shyna, sontak saja menoleh kaget. Dia tak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Wanita paruh baya itu pun mengajak Shyna bersama ayah dan para bodyguard untuk masuk.
Setidaknya kini Dara dan Bu Nisa merasa sedikit tenang karena tidak akan ada wartawan lagi yang semakin memojokkan Dara yang sebenarnya hanya korban.
Usai makan, Tuan Robert bersama para bodyguard pamit pergi karena masih ada urusan lain. Sementara Shyna masih ingin menemani Dara karena sudah cukup lama tidak bertemu sahabatnya.
Shyna juga tak segan-segan membantu membereskan bahan makanan yang dia bawa tadi. Kini stok makanan di rumah Dara sudah kembali penuh.
"Habis ini jadi apa yang ingin kamu lakukan, Ra?" tanya Shyna sambil menjatuhkan bokongnya di sofa kamar.
Dara yang baru saja membereskan sisa barang-barang turut duduk di samping sang sahabat.
"Entahlah, Na. Aku sendiri juga bingung. Tapi nggak mungkin juga harus berpangku tangan di rumah. Kasian Ibu."
__ADS_1
Shyna mengangguk setuju. Tapi apalah daya, dia tidak bisa membantu karena dia saat ini bekerja di bidang pemodelan. Mana mungkin juga dia akan mengajak Dara?
"Eh, Na. Di KGRJ masih ada lowongan 'kan?" lanjut Dara setelah berpikir cukup lama.
Kini kedua alis Shyna dibuat bertaut saat mendengar pertanyaan tersebut. "Jangan bilang kamu mau terjun disana lagi," tebaknya sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Dara mengedikkan kedua bahu. "Ya, untuk saat ini hanya itu pekerjaan yang aku tau rulesnya dan aku cukup yakin. Meskipun dalam masa uji coba sebelumnya termasuk gagal total."
Kedua gadis bersahabat itu dibuat tertawa dengan topik obrolan yang dibuka Dara. Bagaimana tidak? Dihari pertama Dara bekerja sudah melakukan banyak kesalahan dan membuatnya harus menebus kesalahan tersebut.
"Kamu nggak kapok, Ra?"
Shyna sedikit ragu karena sebelumnya Dara menolak mentah-mentah pekerjaan tersebut. Bahkan menjalankannya saja seakan terpaksa. Tapi tiba-tiba kini ingin kembali ke dunia percaddyan tersebut.
"Kapok?" Dara terkekeh. "Aku justru merasa harus bisa melakukan yang terbaik. Aku harus tunjukkan bahwa pekerjaan tersebut bisa aku taklukkan."
Mendengar jawaban Dara membuat Shyna tersenyum senang. Cukup lama tidak bertemu membuatnya pangling dengan Dara yang sekarang. Jika dulu Dara cenderung egois dan introvert. Kini gadis berhidung mancung itu jauh lebih terbuka dan tidak malu untuk mencoba hal baru.
Dara bangkit dari tempat duduknya dan segera mengambil perlengkapan Caddy. Dia mencoba semua dan memperagakan cara kerja sebagai Caddy di hadapan Shyna. Dia meminta sahabatnya itu untuk menilai.
Dua gadis itu sesekali saling tertawa karena Dara memperagakannya sambil meniru para senior yang cukup menyebalkan. Hal itu membuat Bu Nisa mengintip dan ikut tertawa saat mengetahui sumber yang lucu tersebut.
"Eh, tapi, Ra. Kamu sudah siap jika sewaktu nanti Ken datang ke klub? Kamu sudah siap untuk bertemu?"
Dara tertegun, tawanya hilang, wajahnya pun mendadak jadi datar. Berbagai peristiwa yang dia lewati bersama Ken kembali berkelebat memenuhi ruang otaknya.
Gadis berambut panjang itu menghela nafas panjang, netranya menatap lurus ke depan sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aku….
****